Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2014

Catatan Senja #4 Kebimbangan Hati

Senja... Kau tahu.. malam ini aku ingin sedikit bercerita padamu. Walaupun kau belum hadir, tak apalah. Anggap saja cerita ini untuk esok sore. Aku ingin menceritakan tentang diriku, dan kisah hatiku. Sungguh, hingga saat ini aku menyampaikan kisah ini padamu. Aku masih saja bingung. Kau tau kenapa? Karena cinta.  Ya... aku bingung karena cinta. Tapi, sepertinya juga bukan. Aahh... tak taulah. aku sendiripun bingung. Kau pasti tau mengenai sosok pria yang telah lama kukagumi. seorang pria yang hampir membuatku tak bisa memandang ke pria lain. tapi, beberapa bulan ini, sepertinya ada yg aneh pada diriku. sepertinya ada orang lain yg sedang menyelinap masuk secara diam2 ke dalam hatiku. dan membuatku terkadang lupa dgn sosok yg kukagumi itu. aku tak perlu menyebutnya, karena aku yakin kau pasti tau siapa dia. senja... bagaimana ini?? aku merasa, beberapa bagian pikiran serta hatiku telah ditempatinya.  tapi, aku tak ingin itu terjadi. kau tau kenap...

Puisi

Aku suka melihat nyala lilin. Entah kenapa, seakan menghangatkan jiwa yang sepi. Namun, ketika lilin itu kutiup dan padam. Hati dan pikiran ini jadi sangat sesak. Bukan karena takut kegelapan, tapi jiwa ini begitu rapuh mengkhawatirkan banyak hal. Imajinasi dan pergerakanku dibelenggu. Itulah yang terjadi saat ini padaku. Ini tentang 1 hal yang banyak orang lupakan. Mungkin juga kamu atau aku. Yakni cahaya tak selamanya menemani, ketika kita malas untuk bergerak. Ingat akan hal itu. Jangan sampai kita sadar ketika lilin itu telah dipadamkan oleh Sang Pemilik Cahaya. *Puisi Seorang Sahabat (AM) di tanggal 19 Juli 2014 (Cat. dariku : masih perlu banyak perbaikan susunan kata serta kalimat kiasan. Sebuah puisi akan lebih indah jika maknanya tersirat. :))

Sayap-Sayap Senja

Disini, aku berdiri. Menatap jauh ke depan. Sangat jauh, hingga aku tak tahu kemana hentinya pandangan itu. Riuh pikuk suara burung-burung terbang bak bayangan hitam kecil penghias cakrawala. Terbang hilir mudik, entah dengan tujuan apa. Aku, yang saat itu sendiri. Seakan tak pernah lupa untuk hadir kembali di tempat ini. Tempat yang pernah menjadi saksi bisu bagaimana seorang keturunan hawa mengadukan sedu sedannya. Tempat dimana semua kenangan serta untaian harapan diutarakan dengan lantang disini. Aku belum beranjak dari tempat terindah itu, hingga tiba-tiba saja, tanpa kusadari ingatanku seakan memaksaku mengulang kembali kenangan itu. Kenangan dimana kisah itu dimulai. Kenangan setahun yang lalu. Kenangan, antara aku dan dia..... Hari itu, di rumahku... “Rara....!!!!” sapa Rasya, yang kala itu tiba-tiba saja datang menghampiriku sambil menepuk bahuku dengan keras. Membuatku kaget. “Rasya, kebiasan deh. Ngagetin orang kayak gitu kan nggak baik,” ucapku sedikit ke...