Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Saatnya Belajar Dari Mereka

Kisah Sukses Ary Ginanjar Agustian dan ESQ Ary Ginanjar Agustian. Siapa yang belum pernah mendengar namanya? ESQ ( emotional spiritual quotient )? Itulah karya besar Ary yang juga sudah pasti dikenal kita semua. Pelatihan ESQ, yang merupakan gabungan antara pelatihan SDM dengan inspirasi dari ayat-ayat suci Alquran, bukan saja sudah merakyat dan diikuti oleh sekitar ratusan ribu peserta (termasuk para pejabat tinggi negara), namun sudah diekspor ke negara-negara seperti Malaysia. Sukses Ary dan ESQ-nya tersebut tentu tidak datang dengan mudah. Pria kelahiran tahun 1965 tersebut mengaku tidak puas dengan pelajaran agama yang diperolehnya sejak SMP. Dia bahkan sempat mempertanyakan eksistensi Tuhan. Untung saja kegelisahan tersebut berhenti ketika dia bertemu seorang ulama Bali, KH Habib Adnan, yang mengajarinya Islam dengan metode berpikir bebas ( free thinker ). Sepulang dari Mekkah, lulusan TAFE College Adelaide (Australia) ini mencurahkan pergelutan dan kegelisahannya dala...

Catatan Senja #15

Saat Mereka Meremehkannya... Berbicara soal tulisan, dan dunia menulis, mungkin sejak SMP saya sudah mulai menulis, menulis di belakang buku catatan mata pelajaran, atau menulis di meja tempat saya duduk. Di saat saya terlalu pusing mendengarkan semua pelajaran yang harus saya ikuti paling sedikit 11 mata pelajaran dalam satu semester, sungguh membuat terkadang saya merasa penat. Memulai dari tulisan iseng, dan puisi belaga seperti seorang sastrawan dan berbekal sedikit keberanian, saya mulai memamerkan kepada teman-teman. Sebagai manusia, tidak dapat dipungkiri kalau kita butuh identitas. Nah, salah satu bentuk agar identitas itu dapat ada yaitu pengakuan. Saya masih sangat ingat, pertama kali saya memamerkan puisi saya pada teman-teman saya, ketika mendapatkan tugas bahasa indonesia dari guru waktu itu. Hingga kini, puisi itu masih kusimpan rapi di lemari bukuku. Sebuah puisi yang kutulis mengenai persahabatan. Jujur jika orang tidak mengenal saya, maka mereka akan...

Catatan Senja #14

Pilihan Malam itu, tepat di tanggal 6 Desember 2015, pukul 21.49. Aku menerima pesanmu. Setelah beberapa lama aku tak bertemu pun mendengar kabarmu, tiba-tiba saja kau kirimi aku pesan itu. Tak seperti biasanya, kali ini isi pesanmu kau sampaikan dengan kalimat yang jelas tanpa ada kata-kata puisi di dalamnya. Maka, tak perlu waktu lama untuk memahami maksud yang kau sampaikan. Jika biasanya kau tak pernah mengawali pesanmu dengan salam, maka kali ini terdapat kalimat “Assalamu’alaikum” di awal. Diikuti dengan namaku yang kau tulis dengan jelas. Dengan segera aku tahu, kali ini pembicaraanmu pasti sangat serius. 9 kalimat, 65 kata. Kau sampaikan semua yang ingin kau katakan padaku, yang mungkin tak berani kau sampaikan secara langsung. Dalam pesan itu, rasanya, semua yang mungkin tertahan di hatimu akhirnya kau tumpahkan. Dan akhirnya, berujung pada sebuah keputusan dan pilihan yang kau ambil. Apa karena sudah menduga, atau justru karena telah terlatih kecewa. Sikapk...

Syarat Kesuksesan Penulis

Gagal menulis? Ditolak berkali-kali? Buku jeblok di pasaran? Bosan jadi penulis? Mungkin tulisan ini sedikit dapat membantu. Awalnya, hanya mendengar penjelasan QS 8 : 45-47. Tapi sungguh, Quran itu memang obat yang mak jleb di hati. Sungguh langsung mengena pada diri seorang penulis, atau calon penulis lebih tepatnya, seperti saya yang kadang dihantui rasa lelah. InsyaAllah, tidak ingin meninggalkan dunia kepenulisan (karena saya cinta dan merasa menulis adalah katarsis). Tapi, salah satu kekalahan kita adalah semakin malas dan jauh dari target-target menulis. Apa sih sebetulnya isi QS 8 : 45 -47? Sebetulnya surat al Anfal banyak berisi penjelasan peperangan di zaman Rasulullah. Kalau begitu , apa relevansinya dengan zaman sekarang? Kita sudah tidak punya musuh Belanda, Portugis, Jepang lagi. Coba deh, baca lagi dan akan semakin faham bahwa “musuh” itu bisa bertransformasi menjadi makhluk yang banyak sekali ragamnya. Ingat Sadako Yamamura, si setan perempuan zaman moder...

Mari Menulis

Tips Menulis "Stephen King" "Kamu menjadi penulis sesederhana karena kamu membaca dan menulis."  - Stephen King 20 tips menulis dari Stephen King: 1. Menulislah untuk dirimu sendiri, baru kemudian memikirkan pembaca. 2. Jangan gunakan kalimat pasif. 3. Jangan gunakan kata keterangan. 4. Jangan gunakan kata keterangan, terutama setelah frasa 'ia berkata'. Misal: 'Pencet tombol hijau itu,' ia berkata  dengan tegas . 5. Tidak perlu terlalu memikirkan tata bahasa yang kelewat sempurna. Poin dari bercerita bukanlah menggunakan bahasa yang sempurna, melainkan membuat pembaca terlibat dalam cerita. 6. Keajaiban ada di dalam dirimu. jangan menulis dengan rasa takut. percaya dirilah saat menulis. 7. Baca, baca, dan baca. Kalau kamu tidak punya waktu untuk membaca, kamu tidak akan punya waktu atau bahan untuk menulis. 8. Jangan mengkhawatirkan ekspektasi orang lain. 9. Matikan televisi saat kamu menulis. 10. Kamu punya waktu...

What if you were HIV positive?

Penderita AIDS ada yang menangis bergelapan sendiri, kesedihan dan kesakitan dan niat bunuh diri berlintasan! di depan kaca, berkaca, mengaca bayang-bayang, menepuk-nepuk pipi gugur rambut mengelupas kulit memunguti lagi memori ketika diri terhina tercaci hidup pada waktu dipinjamkan tersuruk di balik kutuk penyakit bila sahabat dekat menjauh jarak saat itu kau temukan alasan kenapa hidup mesti dipertahankan memperingati hari AIDS sedunia. 1 Desember. dengan begitu mudahnya penyebaran virus ini meluas. berbagai penyuluhan tentang bahaya virus HIV ini. tetapi tetap saja penderita HIV/AIDS di negara kita ini meningkat. ini dikarenakan kurangnya kepedulian kita terhadap pencegahan virus ini. jauhi virusnya, tetapi jangan jauhi penderitanya. dengan menjauhi virusnya bukan berarti kita menjauhi penderitanya atau ODA. Stay Away From Drug’s…. Stop Free Sex… make your life more useful and beneficial to the neighborhood. berjuanglah terus …...

Hikayat-Persetujuan dengan Tuhan

Hujan lebat yang mengguyur hutan, membuat teriakanku redam dalam sejuta bunyi airnya yang menimpa daun-daunan. Aku telah terpisah dari sahabatku di tengah belantara itu sejak lepas zuhur, ketika kami diserang oleh gerombolan pemberontak. Kami berpencar seraya mengadakan perlawanan dengan menembakkan sisa peluru kami. Aku yakin sedikitnya lima anggota gerombolan itu telah kubunuh. Kemudain hujan turun seperti tiba-tiba dituangkan dari langit. Dan anehnya, tidak lagi terdengar tembakan dari pengejar kami, seakan-akan air hujan itu menjadi isyarat penghentian permusuhan. Aku masih syok dan menanti sampai setengah jam. Kemudian aku bangkit dari balik akar kayu yang besar dan berteriak memanggil nama sahabatku. “Syahman...! Syahman...! Hoe!” Suaraku tenggelam dalam deru hujan dan aku mengulangi lagi berteriak-teriak sampai kerongkonganku perih. Mungkin Syahman sudah mati tertembak atau terkapar di semak-semak dengan lukanya. Apapun nasib sahabatku itu, aku harus mencarinya. “...