Saat Mereka Meremehkannya...
Berbicara
soal tulisan, dan dunia menulis, mungkin sejak SMP saya sudah mulai menulis,
menulis di belakang buku catatan mata pelajaran, atau menulis di meja tempat
saya duduk. Di saat saya terlalu pusing mendengarkan semua pelajaran yang harus
saya ikuti paling sedikit 11 mata pelajaran dalam satu semester, sungguh
membuat terkadang saya merasa penat. Memulai dari tulisan iseng, dan puisi
belaga seperti seorang sastrawan dan berbekal sedikit keberanian, saya mulai
memamerkan kepada teman-teman. Sebagai manusia, tidak dapat dipungkiri kalau
kita butuh identitas. Nah, salah satu bentuk agar identitas itu dapat ada yaitu
pengakuan.
Saya
masih sangat ingat, pertama kali saya memamerkan puisi saya pada teman-teman
saya, ketika mendapatkan tugas bahasa indonesia dari guru waktu itu. Hingga
kini, puisi itu masih kusimpan rapi di lemari bukuku. Sebuah puisi yang kutulis
mengenai persahabatan.
Jujur
jika orang tidak mengenal saya, maka mereka akan meragukan kemampuan saya untuk
membuat puisi, sebab memang di lingkungan sekolah dulu, saya dikenal sebagai
seorang yang cukup serius, dan hanya mementingkan pelajaran. Sehingga langkah
pertama saya untuk menggunakan facebook sebagai media
memperlihatkan kemampuan menulis saya Kebanyakan dari mereka hanya sekedar
memberi like atas apa yang saya
tulis. Tapi saya senang, karena artinya mereka sudah mengapresisasi karya saya.
Akibat uji coba itu, membuat saya semakin gigih untuk bisa menjadi seorang
penulis, tapi hingga saat itu, saya masih bingung, saya ini penulis bidang apa.
Tidak semua hal bisa saya kuasai dengan baik. Meskipun begitu, obsesi saya
untuk memperoleh pengakuan terus saya gulirkan, seperti memainkan bola salju.
Kemudian,
saya membuat berbagai akun di berbagai media sosial, dan memasukan
tulisan-tulisan saya di sana. Hal tersebut saya lakukan agar karya saya bisa
memperoleh tempat. Jujur, saya sangat senang, apabila tulisan saya dikomentari
oleh orang lain. Tapi hidup di dunia menulis itu tidak selamanya juga
menyenangkan, terkadang banyak juga yang mencemooh bahkan tidak menghargai
karya saya. Bahkan jujur, orang-orang terdekat saya sendiri, tidak jarang
mengatakan bahwa menulis hanya membuang-buang waktu saja.
Tapi
jujur bagi saya menulis itu bukan sebatas pekerjaan, tapi agak berlebihan juga
jika saya menyebutnya panggilan jiwa, tapi saya merasakan hal yang berbeda ketika
saya menulis dan tulisan saya itu di apresiasi. Jujur, terkadang ada titik
jenuh dalam menulis, ada saat-saat di mana saya tidak sedang butuh buku, pena, notebook dan
modem, tapi saya butuh yang lain. Ya, saya rasa semua kegiatan juga pasti ada
yang namanya bosan, apalagi menulis. Menulis itu kegiatan di mana antara hati,
jiwa, dan pikiran kita harus menyatu, agak susah juga memang terkadang untuk
menyatukannya.
Sejujurnya
menulis ini merupakan sebuah hobby
tapi saya menentang keras dengan orang-orang yang meremehkan dunia menulis.
Buat saya, mau sepintar apapun orang, kalau tidak bisa menulis ya maka dia akan
hilang dari sejarah. Mungkin karena dasar itu, saya sangat senang memasukkan
tulisan saya, agar tulisan saya dapat dibaca orang lain. Terkadang saya memaksa
kawan saya untuk membuka blog pribadi saya, saya bawa notebook bersama
dengan modem, lalu saya buka blog saya, dan saya minta dia membaca dan
mengomentarinya, ya kalau sudah begitu sih sangat kecil kemungkinan buat dia
tidak mau menuruti permintaan saya.
Ada lagi
hal yang biasa saya lakukan setelah menulis di blog, yaitu mengirimkan pesan
singkat kepada teman-teman bahwa saya punya tulisan baru, dan bilang kepada
mereka semua, kalau saya sangat butuh komentarnya, agar mereka mau membaca. Setelah
itu biasanya saya mengirimkan URL blog saya di facebook, twitter, atau
bahkan saya tulis di bio. Semua itu saya lakukan untuk memperoleh
masukan, sekaligus apresiasi dari mereka mengenai karya yang saya buat. Bahkan
kalau sekarang, untuk benar-benar menunjukkan eksistensi saya di dunia
penulisan, saya tidak segan bertanya, atau jikalau bisa ingin berdisuksi dengan
para penulis hebat melalu email, supaya orang-orang tahu, saya serius ingin jadi
penulis
Saya
merasakan bahwa dengan menulis saya bisa mengaktualisasikan diri saya. Meskipun
jujur saja, jika waktu menulis saya ini, saya gunakan untuk meraih pengakuan.
Tapi itulah hidup, hidup adalah pilihan, dan aku memilih untuk menjadi penulis
sekaligus pengusaha suatu saat nanti.
GLP at FAM
(Dalam Catatan Senja)
13/12/2015

Komentar
Posting Komentar