Hujan
lebat yang mengguyur hutan, membuat teriakanku redam dalam sejuta bunyi airnya
yang menimpa daun-daunan. Aku telah terpisah dari sahabatku di tengah belantara
itu sejak lepas zuhur, ketika kami diserang oleh gerombolan pemberontak. Kami
berpencar seraya mengadakan perlawanan dengan menembakkan sisa peluru kami. Aku
yakin sedikitnya lima anggota gerombolan itu telah kubunuh.
Kemudain
hujan turun seperti tiba-tiba dituangkan dari langit. Dan anehnya, tidak lagi
terdengar tembakan dari pengejar kami, seakan-akan air hujan itu menjadi
isyarat penghentian permusuhan. Aku masih syok dan menanti sampai setengah jam.
Kemudian aku bangkit dari balik akar kayu yang besar dan berteriak memanggil
nama sahabatku.
“Syahman...!
Syahman...! Hoe!”
Suaraku
tenggelam dalam deru hujan dan aku mengulangi lagi berteriak-teriak sampai
kerongkonganku perih. Mungkin Syahman sudah mati tertembak atau terkapar di
semak-semak dengan lukanya. Apapun nasib sahabatku itu, aku harus mencarinya.
“Syahman...!
Syahman...!” suaraku sudah tidak berdaya, tanpa gaung.
Tenagaku
cepat terkuras, karena sekarang tanah hutan itu menjadi licin dan beberapa kali
aku terpeleset dan terguling. Perjalanan di hutan itu menjadi melelahkan
sekali. Lalu kemudian ketika tiba di sebuah tepi tebing, kakiku tergelincir dan
mendadak dunia berputar. Apa yang masih sempat kutangkap pada waktu itu ialah
batang-batang pohon yang besar, lalu sebuah gubug yang terbuat dari papan kayu
dan seorang anak lelaki berdiri di depan pintu setengah telanjang. Kemudian
semua di sekelilingku menjadi pekat.
# # #
Aku
tidak tahu berapa lama aku telah pingsan, tapi ketika aku sadar kembali,
tubuhku sudah terbaring di sebuah balai-balai dalam sebuah gubug. Sebuah
jendela kecil yang terbuka menunjukkan bahwa matahari sudah tinggi dan udara
cerah sekali. Tiba-tiba kesakitan yang menggigit terasa menghimpit kaki kiriku
dan perutku amat perih dan kosong. Aku bangkit duduk dan melihat kaki kiriku
terbalut oleh kain bekas sarung, senapanku tersandar di dinding.
“Kau
mau minum? Mau sarapan?” suara lirih di dekatku membuat aku terperanjat dan
menoleh. Seorang anak lelaki kulihat berdiri di sudut, tangannya memegang
segelas air.
“Dimana
aku sekarang?” aku bertanya.
“Ini
rumahku,” anak itu menyahut lalu mendekat.
“Kau
yang membalut kakiku?”
Ia
menggelengkan kepala. “Kakek,” katanya. “Minumlah.”
Aku
cepat menangkap gelas itu, seakan-akan merebut dari tangannya, lalu sekaligus
meminum isinya sampai habis. Air nira yang manis.
“Tentu
kau lapar sekali,” kudengar anak itu berbicara dengan cepat, tanpa perasaan,
seperti menceritakan suatu kejadian yang biasa dilihatnya. “Kemarin kau
terpeleset dari atas. Kami menemukan kau sudah pingsan. Kau lalu kami angkut
kesini. Kakek mengurut kakimu, memboboki dengan kencur, lalu membalutnya dengan
sarung kakek.”
Anak
itu menyodorkan sebuah piring kaleng berisi ubi rebus, memberi isyarat supaya
aku memakannya, lalu melanjutkan berbicara.
“Semalam
kau terbangun, mengerang, lalu kakek memberimu obat. Pahit dan kau
meludahkannya sebagian.” Anak itu tertawa kecil dan katanya lagi, “Kau lalu
tidur kembali. Ingat?”
Aku
menggelengkan kepala sambil mengunyah ubi rebus bersama kulitnya.
“Dimana
kakekmu sekarang?” aku bertanya.
“Ia
baru turun ke jurang,” katanya sambil menuangkan air nira ke dalam gelasku yang
sudah kosong. “Ia sudah pesan, jika kau bangun supaya kau lekas sarapan.”
“Terima
kasih. Siapa namamu?”
“Jambali,”
anak itu menyahut.
“Kakekmu?”
“Aku
tidak tahu.”
“Ganjil,”
kataku memperhatikannya. “Lalu dimana ayahmu?”
Jambali
tidak segera menyahut. Ia membenahkan celananya yang sudah bertambal, lalu
menatap padaku dan berkata, “Sudah meninggal.”
Aku
berhenti makan. Untuk pertama kali aku memperhatikan tajam-tajam wajah anak
itu. wajah anak yatim yang baru berumur kira-kira sepuluh tahun. Seketika aku
terpikir bahwa mungkin ayahnya seorang anggota gerombolan pemberontak yang
terbunuh. Dan entah bagaimana, suatu perasaan berdosa menekankan beban pada
dadaku.
“Kapan?”
aku bertanya.
“Kata
kakek, waktu aku umur lima tahun.”
“Dan
ibumu?”
“Sudah
tidak ada.”
“Kapan?”
“Waktu
aku masih bayi,” sahut Jambali dengan jelas, dengan suara yang bening, tanpa
nada-nada yang murung.
Cepat-cepat
aku meminum air nira untuk membersihkan kerongkonganku yang tersumbat oleh ubi
rebus. Lalu aku merebahkan punggungku di balai-balai, berbaring.
Pikiran-pikiran yang keras menusuk kepalaku seperti beribu-ribu jarum. Betapa
ganjilnya pengalamanku! Tiga hari yang lalu pasukanku terlibat dalam
pertempuran yang bengis dan sengit dengan gerombolan pemberontak. Kami semua,
lima belas orang patroli, terpisah-pisah. Aku tidak tahu dimana mereka
sekarang, hidup atau mati. Dan sekarang seperti tiba-tiba aku terbaring disini,
ditolong oleh orang yang belum kukenal, dirawat oleh seorang anak yatim piatu.
“Jambali,
apa yang dikerjakan kakekmu di jurang itu?” aku bertanya, setelah lama aku
hanya menatap kolong atap gubug itu.
“Membuat
jembatan,” kudengar suara Jambali.
“Jembatan
untuk apa?”
“Aku
tidak tahu.”
“Dengan
siapa ia bekerja?” aku bertanya. “Dengan siapa, Jambali?”
Anak
itu tampak agak terperanjat, barangkali suaraku terlalu keras, karena aku tidak
bisa menahan kecurigaanku. Sering aku mendengar, bahwa di desa-desa sekeliling
hutan itu, gerombolan pemberontak kadang memaksa penduduk untuk membuka jalan,
membuat lubang, mengeruk terowongan, atau membuat jembatan untuk memudahkan
gerakan mereka.
“Dengan
siapa, Jambali?” aku bertanya lagi.
“Kakek
sendirian,” Jambali menyahut.
“Sendirian?”
“Dulu
kakek membuatnya bersama ayahku, tapi ayah lalu meninggal terjatuh ke dalam
jurang.”
Hatiku
menggigil mendengar keterangan anak itu yang diucapkan dengan suara datar,
seakan-akan malapetaka yang menimpa ayahnya itu tidak mengusik hatinya. Aku
lalu bangkit duduk dan berkata kepada Jambali.
“Tunjukkan
dimana jembatan itu. Kukira aku bisa berjala dengan tongkat.”
“Dari
jendela itu bisa terlihat.”
Aku
lalu berdiri di lantai sambil memegang bahu Jambali, mencoba melangkah dengan
bertopang pada tubuh anak itu. dari jendela kecil itu seketika aku dengar desah
air sungai yang deras di kejauhan. Di depanku menganga jurang yang lebar dalam.
Tapi jurang itu mula-mula agak landai dan berbatu-batu, tetapi pada bagian
tengahnya, kedua tebingnya mendadak terjal hampir tegak lurus. Dari sanalah
datangnya bunyi air itu.
“Lihat,”
Jambali menudingkan jarinya. “Itulah jembatan yang dibuat Kakek. Kau lihat?”
“Dimana?”
“Di
bawah itu, sebelah kanan, yang ada pohon besar itu.”
“Jembatan
tali!” aku berseru.
Aku
hampir tidak bernapas ketika melihat jembatan tali yang membentang antara dua
tebing yang curam. Hanya tampak seperti sebatang lidi, tertambat ujungnya
masing-masing pada pohon besar yang tumbuh di seberang menyeberang jurang. Dan
aku mendengar anak itu terus bercerita, bahwa jembatan itu dibuat dari tali
rotan besar-besar yang dipilin. Berbulan-bulan kakek dan ayahnya memilin rotan
itu, lalu dengan susah payah memasang melintasi jurang. Ketika memasang tali
yang ketiga, ayah Jambali tergelincir dan jatuh di sungai yang berbatu-batu.
“Pekerjaan
yang mustahil, Jambali,” aku berkata. “Kakek dan ayahmu pasti orang yang sangat
pemberani.”
Jambali
menoleh kepadaku dan rasanya aku menangkap apa yang didegupkan jantungnya.
Barangkali untuk pertama kali ia mendengar ucapan orang lain yang memuji
keberanian kakek dan ayahnya, seperti yang juga diucapkan oleh hatinya sendiri.
# # #
Pada
petang harinya aku baru bertemu dengan kakek Jambali. Kukira umurnya sudah
hampir tujuh puluh tahun, tapi tubuhnya masih kuat dan kokoh. Aku menyatakan
terima kasih kepadanya atas pertolongannya padaku. Ia mengatakan bahwa ia biasa
menolong orang yang tersesat di hutan. Para pemburu, anggota tentara atau
gerombolan pemberontak.
Aku
hanya mengawasi wajahnya dan ia tersenyum ketika aku bertanya tentang jembatan
itu.
“Jadi
kau sudah melihat jembatan itu?”
“Ya,”
aku mengangguk.
“Sudah
sekian tahun belum juga rampung. Barangkali bulan depan.”
“Aku
bilang pada cucum itu pekerjaan yang mustahil.”
“Setiap
orang yang datang kemari bilang seperti itu,” ia berkata dengan tertawa.
“Kenapa
tidak minta tolong penduduk di sekitar hutan ini?”
“Sepuluh
kilometer dari sini kau tidak akan menjumpai seorangpun. Hutan ini kosong.
Itulah sebabnya aku mulai membuat jembatan hanya dengan anakku... ayah
Jambali.”
“Lalu
ia tergelincir jatuh ke dalam sungai?”
“Jadi
Jambali sudah bercerita padamu?”
“Tapi
kenapa Kakek masih juga melanjutkan pekerjaan itu seorang diri? Suatu kali
Kakek juga bisa terpeleset dan tak ada orang lain yang tahu.”
“Ya,
barangkali.”
“Tapi
itu artinya bunuh diri!”
Lelaki tua itu sekarang memperhatikan wajahku,
lalu tersenyum dan matanya menunjukkan, bahwa ia menjadi bergairah untuk
membukakan sesuatu yang sangat penting.
“Aku
tahu suatu kali jembatan itu akan banyak gunanya,” katanya. “Entah kapan, entah
siapa yang akan lewat. Aku sungguh yakin. Dan jika aku yakin, kenapa jembatan
itu tidak dbuat? Yang penting, aku harus sabar, tangguh dan ulet.”
“Tapi
Kakek juga perlu perhitungan.”
“Tentu.
Aku juga punya perhitungan.”
“Bagaimana?
Bekerja seorang diri?”
“Tidak,”
katanya. Sambil memungut ubi rebus dari piring kaleng di atas meja, ia berkata
dengan perlahan-lahan, “Aku telah membuat persetujuan dengan Tuhan.”
Sambil
mengunyah ubi rebus, kakek Jambali kemudian menceritakan, bahwa pikiran untuk
membuat jembatan itu datang dari ayah Jambali. Yakni sesudah ibu Jambali
meninggal dunia sewaktu melahirkan anak itu. Seandainya ada sebuah jembatan
melintasi jurang itu, pastilah dukun bayi itu tidak akan terlambat untuk
menolong dan ibu Jambali mungkin bisa diselamatkan. Seharusnya jembatan itu
sudah dulu-dulu dipasang sebelum Jambali lahir.
“Begitulah
kami mulai membuat jembatan itu,” kakek Jambali melanjutkan bercerita. “Tetapi
ayah Jambali kurang sabar, seperti ingin menebus suatu ketinggalan. Ia ingin
lekas rampung. Ia mau menentang alam. Bukankah Tuhan sendiri menciptakan
seluruh alam ini dalam tujuh hari meskipun mampu melakukannya hanya dalam
sekejap mata?”
Kakek
itu tiba-tiba terdiam dan aku merasa bergidik melihat wajahnya yang tercenung.
Dari kerongkonganku keluar perkataanku yang terputus-putus.
“Bagaimana
perasaan Kakek setelah ayah Jambali meninggal?”
“Ketika
itu aku bilang, ini memang pekerjaan yang mustahil,” ia menyahut. “Seperti
katamu sekarang. Lalu aku tinggalkan pekerjaan itu. tapi beberapa bulan
kemudian aku bertanya, di dunia banyak hal yang mustahil, tapi apakah ada hal
yang mustahil bagi Tuhan? Tidak, tidak ada.
Aku
jadi mengerti kesalahanku dan ayah Jambali. Kami hanya bekerja karena ingin
menebus kesalahan. Kami tidak pernah berpikir untuk mengikutsertakan Tuhan
dalam pekerjaan yang mustahil itu. itulah kesalahan kami.
Lalu
pada suatu malam aku berdoa, membuat persetujuan dengan Tuhan, aku mau membuat
jembatan ini untuk-Mu, untuk menolong orang banyak. Aku mohon Engkau mau
membantuku, karena bagi-Mu tidak ada apapun yang mustahil. Dan rupanya Tuhan
telah setuju.”
Aku
tertegun mendengar perkataan orangtua itu. aku jadi terlupa pada diriku
sendiri, pada kesakitan kakiku.
# # #
Sepuluh
tahun kemudian, ketika aku mengunjungi daerah itu kembali, sebagian hutan itu
sudah dibuka orang, kampung-kampung sudah tumbuh. Dan aku melihat jembatan rotan
yang melintasi jurang itu, masih kuat dan kokoh, seperti keyakinan kakek
Jambali. Ketika aku mencoba melewati jembatan itu, aku yakin bahwa jembatan
semacam itu hanya mungkin dibuat oleh seribu pasang tangan manusia...
02|12|2015


Komentar
Posting Komentar