Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2015

Catatan Senja #11 Aku Harus Apa, Sekarang?

Aku baru tahu, benar-benar tahu sekarang. Bahwa benar, ketika perasaan kita tak berbalas membuat hati kita begitu sakit. Membuat jiwa kita begitu terluka. Dan kini, aku menjadi orang yang mengalami hal itu... Sebenarnya, dalam kisah ini akulah yang menjadi satu-satunya tokoh. Kisah cinta yang kumainkan sendiri, kuceritakan sendiri dan akhirnya membuatku melukai hatiku sendiri.. Jika saja orang-orang tahu bagaimana itu bisa terjadi, maka mereka pasti akan segera menertawakanku. Mengataiku bodoh dan tolol karena membodohi diri sendiri.  Ya... seseorang yang sedang jatuh hati akan selalu melakukan hal-hal bodoh. Kendatipun ia tahu bahwa yang dilakukannya tak berarti apa-apa untuknya. Tak bisa mengubah segalanya. Sama seperti diriku selama kurun waktu ******. Aku terus saja meletakkan namanya di hatiku. Padahal, dengan sangat jelas kutahu bahwa namaku tak jua ada di hatinya, mungkin. Atau, kalaupun iya, aku yakin itu hanya sekedar hiasan sesaat baginya.  Berkal...

Cerpen - SECANGKIR TEH ITU...

Sore belum menampakkan dirinya, ketika pintu rumah diketuk sebanyak 3 kali. Merasa sedikit ragu, Biru belum beranjak dari tempat ia membaca sebuah buku. Hingga ketukan itu kembali terdengar. Kali ini diiringi dengan ucapan merdu yang melantun sayup hingga sampai ke telinga Biru. “Assalamu’alaikum...” Yakin bahwa benar-benar ada seseorang yang datang, Biru segera berdiri dan meletakkan buku yang sedari tadi asyik dibacanya. “Wa’alaikusalam...” Dan pintupun terbuka. “Hai Bi...” sapa seorang pemuda yang berdiri di hadapan Biru. “Elang.. ayo masuk,” ajak Biru, dengan sedikit rasa gugup yang tak disadari oleh Elang. “Maaf ya kalau ganggu,” ucap Elang. “Iya, nggak papa kok. Santai aja. Ada keperluan apa nih?” tanya Biru sekedar berbasa-basi. “Aku mau pinjam buku kamu nih. Novel yang kamu ceritakan ke aku itu. Aku pengen baca juga. Soalnya di rumah bosan nggak ada kegiatan,” jelas Elang. “Oh. Ok. Tunggu sebentar ya, aku ambilin dulu di kamar,” dan Birupun bergegas mas...

Catatan Senja #11 Teruntuk Sesiapa...

Teruntuk sesiapa yang membaca surat sederhana ini... Selamat malam. Aku memilih malam untuk mengisahkan kegundahan hati yang mendera sejak petang tadi. Kegelisahan kecil yang terus mengganggu hingga secangkir coklat hangat yang biasa aku teguk, tak lagi menemani soreku. Padahal, sore ini senja begitu indah terlihat di langit itu. Tapi, terasa sendu di hadapanku. Rasanya begitu kasihan dengan diriku sendiri. Tahu kenapa? Orang-orang selalu punya kawan untuk menemaninya berkeluh kesah terhadap sedih. Orang-orang memilih berkoar-koar lantang dengan sedu sedan yang menderanya. Tapi, kenapa aku tak mampu seperti itu? Ada sedikit rasa segan untuk sekedar membagi cerita pada orang lain. Ada perasaan malu untuk mengisahkan ceritaku pada kawan sejawatku. Atau... hanya aku yang terlalu naif? Terlalu bodoh hingga tak pernah menaruh kepercayaan pada sesiapapun untuk menampung gelisahku. Aku juga tak tahu. Dan mungkin tak ingin tahu. Malam ini, aku menulis dengan pe...

Catatan Senja #10 Ketidakberuntungan

Pernah berada pada situasi dimana kamu sudah melakukan semua usaha yang kamu bisa, tapi hasilnya tidak ada apa-apanya. Pernah merasa bahwa apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan apa yang telah kita usahakan. Pernah melihat orang lain, teman, bahkan sahabat kita justru lebih beruntung dibanding kita. Padahal kita tahu bahwa dia tak melakukan usaha sebesar yang kita lakukan. Pernah merasa begitu optimis dengan hal-hal yang kita impikan, namun dijatuhkan begitu saja karena keberuntungan seakan tak suka mendekat pada kita hingga pesimis menjadi jalan akhir. Aku pernah... Dan hampir sering mengalaminya. Bukan ingin menuding Tuhan atas apa yang ia berikan padaku. Hanya saja, manusiawi rasanya  jika kita mempunyai perasaan sedikit kecewa dengan semua itu. Dalam suatu kejadian, aku pernah merasa begitu tak adil dan seakan keberuntungan tak begitu senang berada dekat-dekat dengan diriku. Saat itu, aku sedang semangat-semangatnya mengurus dan menyelesaikan segala macam...

The Poem - ... (*Nggak tau judulnya apa)

Senjaku... Masihkah kau enggan menatapku? Menatap sudut kota kecil bersamaku, lagi. Menatap kawanan burung pipit bersamaku, lagi. Kaki yang kupakai bersamamu masih tertanam dalam jejak tanah ini. Rumput inipun masih hafal betul akan aroma wangi di tubuhmu. Kenangan langkah kecil kita. Jika saja ada sedikit celah, Berpalinglah dari sedikit kecewamu. Tengoklah betis dari bagian kaki yang semakin membiru. Yang masih tak mau beranjak  dari jejak ini. Jejak yang tak semestinya kurusak. Aku kembali kejejak kaki kita. Kulihat semuanya berubah. Semilir angin terbahak mengejek. Burung pipitpun terbang menjauh. Rumput tak lagi mendapat asupan gizi. Aku berdiri diantara harap yang tak pasti. Senjaku... Mungkin saja kau dengar. Aku kan berpijak selamanya di jejak ini. Meski kau tak kembali. Meski kau tak menatapku lagi. Meski semua bagian di sekitar jejak ini meninggalkanku. Aku tak akan berpaling, lagi. Senjaku. (Palu, 7 Feb 2015 –...

The Poem - Aksara Sahabat

Banyak kisah yang berdesakan saat menulismu dalam senarai ingatan. Hingga kularikan kau dalam deretan kata. Menghangatkan cerita yang awalnya memucat laut. Pun meredakan hujan yang masih merinai laju saat kita melibat temu. Ya... temu yang dinamai persahabatan. Aku melahirkan banyak puisi setelah ranting dan dahan-dahan berhenti berderit. Aku mengisahkan banyak cerita saat hujan telah berganti gaun. Namun, semua itu tak pernah bisa aku rampungkan. Tidak, hingga aku memintal persahabatan denganmu. Dan kau, sahabat... Menjadi sosok yang begitu tangguh menopang kokoh sebatang pohon. Menjadi musim yang begitu kuat menyingkirkan derai kabut pun hujai badai. Hingga dingin benar-benar dapat kita taklukan. Kita tak pernah benar-benar tahu arti kemarau, sebelum mewujud dinding dan tebing kaku menunggu rantas. Kita tak pernah benar-benar paham arti sahabat sebelum badai duka menerjang hidup hingga kandas. Ya... inilah kisah sahabat dalam aksara syahdu. Kisah ...

Catatan Senja #9 Aku Belajar dari Kalian

Banyak orang menjadikan tokoh-tokoh terkenal ataupun orang-orang besar sebagai sosok inspirasi mereka. Baik dari kalangan artis, tokoh politik, pengusaha terkenal, bintang luar negeri, penulis, hingga presenter ataupun model yang super perfect. Tapi sesungguhnya, tanpa kita sadari. Begitu banyak sosok-sosok sederhana yang ada di sekitar kita yang dapat menginspirasi diri serta hidup kita. Sejak kita lahir ke dunia ini hingga sekarang. Dan hari ini, hal itulah yang ingin aku ceritakan. Entahlah, tiba-tiba saja aku terpikirkan akan bahasan tulisan ini. Mungkin aku baru menyadari keberadaan mereka, yang sejatinya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam perjalanan hidupku. Dan aku banyak mengambil pelajaran dari cara mereka menghadapi serta menjalani hidup mereka. Yang secara bersamaan mereka mungkin tak tahu bahwa ada seseorang di sekitar mereka yang menjadikan mereka sebagai sosok yang begitu menginspirasi. Inilah mereka... 1.        ...

Kepribadian Biru

Tulisan ini gue dapet dari seorang teman. Sumbernya sendiri entah darimana….percaya gak percaya aja.. Memang tidak gampang menandai penyuka warna ini. Kadang kelihatan lembut, kadang kelihatan kaku dan kadang tertutup. Yang pasti mereka amat dikuasai oleh emosinya. Mereka gampang terharu hanya untuk urusan yang kelihatannya sepele buat kebanyakan orang. Mereka gampang menangis dan gembira untuk hal yang menyentuh perasaannya. Tapi tak ada yang membuat mereka tersinggunng sekali. Mereka sebetulnya orang yang penyabar, tidak pendendam meskipun hatinya sering luka atau dilukai. Ia melihat dunia ini sebagai satu wilayah yang romantios sekaligus mengandung banyak ranjau yang bisa membahayakan suasana hatinya. Ada kalanya ia tersungkur dan mundur, tapi penyuka warna biru biasanya tabah dan mencoba untuk bangkit dan berusaha mencapai apa yang diinginkan. Bedanya dengan warna lain, ia tidak menggebu-gebu. Ia selalu tenang, sopan, tidak terlalu mencolok dalam bersikap, tidak ek...