Langsung ke konten utama

Cerpen - SECANGKIR TEH ITU...


Sore belum menampakkan dirinya, ketika pintu rumah diketuk sebanyak 3 kali. Merasa sedikit ragu, Biru belum beranjak dari tempat ia membaca sebuah buku. Hingga ketukan itu kembali terdengar. Kali ini diiringi dengan ucapan merdu yang melantun sayup hingga sampai ke telinga Biru.
“Assalamu’alaikum...”
Yakin bahwa benar-benar ada seseorang yang datang, Biru segera berdiri dan meletakkan buku yang sedari tadi asyik dibacanya.
“Wa’alaikusalam...”
Dan pintupun terbuka.
“Hai Bi...” sapa seorang pemuda yang berdiri di hadapan Biru.
“Elang.. ayo masuk,” ajak Biru, dengan sedikit rasa gugup yang tak disadari oleh Elang.
“Maaf ya kalau ganggu,” ucap Elang.
“Iya, nggak papa kok. Santai aja. Ada keperluan apa nih?” tanya Biru sekedar berbasa-basi.
“Aku mau pinjam buku kamu nih. Novel yang kamu ceritakan ke aku itu. Aku pengen baca juga. Soalnya di rumah bosan nggak ada kegiatan,” jelas Elang.
“Oh. Ok. Tunggu sebentar ya, aku ambilin dulu di kamar,” dan Birupun bergegas masuk ke kamar untuk mengambil novel tersebut.
Dan pertemuan di siang itupun berakhir dengan rentetan obrolan sederhana yang tak begitu lama...
# # #

Biru, seorang mahasiswi di salah satu universitas yang ada di kotanya. Merupakan sosok wanita yang sangat periang dan senang bergaul. Terkadang, teman-temannya suka bertanya perihal namanya yang cukup unik. Dan jawaban Biru hanya sederhana.
“Mungkin orangtuaku menyukai warna itu...” dan senyum akan tergambar di wajahnya.
Ia bukan orang yang suka memilih-milih teman. Setiap orang yang dikenalnya akan langsung diakrabinya. Biru memiliki 2 hal yang sangat disenangi, yaitu membaca buku dan mendengarkan suara biola. Hanya saja, Biru tak begitu pandai memainkan biola. Namun, itu tak membuatnya berhenti menyukai alat musik yang satu ini. Menurutnya, diantara semua jenis alat musik, biolalah yang terlihat begitu elegan ketika seseorang sedang memainkannya.
Biru menjalani kehidupannya dengan bahagia dan sangat menikmatinya. Hanya saja, tak begitu beruntung dalam 1 hal, yaitu cinta. Di balik keceriaan dan kegembiraan yang selalu terpancar dari dirinya, tak banyak yang tahu bahwa ia sebenarnya menyimpan kegundahan hatinya dengan sangat rapi. Bahkan sahabat-sahabat terdekatnyapun tak pernah tahu.
Biru mempunyai seorang teman dekat bernama Elang, yang juga merupakan teman satu kampusnya. Hubungan keduanya berjalan begitu saja layaknya teman kampus pada umumnya. Elang termasuk sosok yang cukup terkenal di kampus. Dengan pembawaan yang periang membuatnya disenangi banyak orang. Dan 1 hal yang paling Biru ingat dari sosok Elang. Elang termasuk cowok yang dengan mudahnya berganti-ganti pacar. Entah bagaimana cara ia dengan mudahnya meluluhka hati para gadis-gadis yang sudah menjadi pacar-pacarnya. Dan Biru tak begitu menyukai hal itu.
Namun, kita memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan hati dan pikiran kita kelak. Perlahan, ada sesuatu yang mulai tumbuh di hati Biru. Sebuah perasaan lebih yang membuatnya sedikit canggung bila berada di dekat Elang. Perasaan gugup yang menjadiannya malu jika berlama-lama berbincang dengan Elang. Tapi sayang, Elang tak pernah menyadari akan hal itu. Elang tak pernah tahu bahwa seorang temannya telah jatuh hati padanya. Teman yang begitu dekat dengannya.
Pada suatu pertemuan di kampus...
“Ciee... Elang, punya pacar baru nggak cerita-cerita,” seorang teman meledek Elang.
“Apaan sih.. Biasa aja kali,” ucap Elang yang tersenyum malu-malu.
“Kemaren aku lihat ngobrol berdua tuh di kantin. Mahasiswa baru ya... Namanya siapa?” sela teman yang lain.
“Iya, dia mahasiswa baru. Adik tingkat kita. Namanya Kayla,” jawab Elang, masih dengan senyum.
“Gampang banget ya kamu dapat cewek. Pakai jurus apa sih? Ajarin dong ke kita-kita.”
“Nggak pakai jurus apa-apa. Emang aku orangnya punya aura keren kali. Makanya cewek-cewek banyak yang suka. Hahaha...”
Dan obrolan merekapun terus berlanjut. Sedang Biru, yang duduk tak jauh dari Elang dan teman-temannya itu merasa ada yang sedikit sakit pada hatinya. Tanpa Elang sadari, sedari tadi Biru cukup memerhatikan obrolan mereka. Pembahasan yang tanpa ia ketahui membuat hati seorang Biru sedikit terluka. Tiba-tiba, tanpa Biru sadari Elang melihatnya duduk seorang diri. Elangpun menghampirinya.
“Ngapain duduk sendirian? Yang lain mana?” tanya Elang.
“Ada tuh di dalam kelas,” jawab Biru dengan santai.
“Terus ngapain kamu disini sendirian? Lagi ada masalah ya? Atau lagi galau masalah cowok?” tanya Elang lagi.
“Sedikit gerah aja di dalam kelas. Pengen cari angin,”
“Oohh...”
“Btw, aku dengar kamu baru pacaran ya sama mahasiswa baru. Kayla, kalau nggak salah,” Biru berusaha tetap santai.
“Hhmm.. iya.”
“Selamat ya, pacar baru lagi dong,” ledek Biru sembari menutupi kegundahannya.
“Iya, makasih,” ucap Elang sambil tersenyum.
# # #
Beberapa bulan berlalu setelah Biru tahu hubungan Elang dengan Kayla. Elang dan Kayla jarang menampakkan hubungan mereka ketika di kampus. Entah atas dasar alasan apa, Biru tak tahu pun tak ingin tahu. Yang Biru tahu hanyalah kenyataan bahwa perasaannya pada Elang takkan berbalas. Sebab, Elang takkan pernah tahu. Bukan tak ingin memberitahu Elang perasaannya yang sebenarnya. Menurut Biru, dirinya tak pantas mengutarakan perasaan yang terpendam di hatinya, sebab Elang sudah memiliki pacar. Terkadang, Biru bertanya dalam hati. Mengapa Elang tak pernah sadar akan perasaannya.


Dalam beberapa kesempatan, Elang terkadang menyempatkan datang ke rumah Biru sekedar bercerita atau mengisi waktu luang. Seperti pada hari itu, tepatnya 2 minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Elang berkunjung ke rumah Biru. Dan Biru menyambutnya dengan hangat, dan juga dengan rasa gugup, seperti biasanya.
“Kapan balik dari kampung?” Biru membuka obrolan setelah menyuguhkan secangkir teh hangat ditemani beberapa kue kering.
“3 hari yang lalu Bi,” ucap Elang.
“Terus oleh-olehnya mana nih?” pinta Biru sambil merentangkan kanan tangannya tepat ke hadapan Elang.
“Maaf Bi. Aku nggak sempat bawa oleh-oleh apa-apa dari kampung.”
“Ih, nggak asik deh Elang,” ucap Biru dengan sedikit merajuk.
“Aku minta maaf Bi.”
“Ya udah. Nggak papa. Btw, tehnya diminum tuh. Nanti keburu dingin jadi nggak enak.”
“Iya, makasih Bi,” Elang segera menyeruput teh hangat yang sedari tadi nganggur di meja.
Setelah meneguk teh tersebut, Elang seakan tak henti-hentinya meneguk kembali teh tersebut. Elang terlihat begitu menikmatinya. Ya, Biru memang tahu bahwa Elang sangat suka dengan teh manis.
Dan obrolan mereka terus berlanjut hingga sore tiba. Biru tak pernah tahu mengapa ia selalu merasa nyaman ketika berada di dekat Elang. Biru selalu merasa nyambung ketika ngobrol dan berbagi cerita dengan kawannya itu. Meski, yang menjadi bahan pembicaraan mereka hanyalah hal-hal sepele yang menurut Elang mungkin tak begitu penting. Tapi, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat perasaan Biru bahagia. Ya... bahagia sesaat. Hingga Elang mengubah arah pembicaraan mengenai Kayla.
“Oh iya, Bi. Aku lagi ada masalah nih sama Kayla.”
Sontak Biru sedikit tersontak dengan ucapan Elang. Dengan tetap berusaha bersikap santai, Biru menimpali.
“Masalah apa? Kalau pacaran yang akur dong.”
“Kayla marah padaku karena sesuatu hal. Ya... sebenarnya karena masalah sepele.”
“Kok bisa? Mungkin kamu yang salah.”
“Iya sih, kamu benar Bi. Dia marah karena aku yang salah.”
“Tuh kan...” ucap Biru denga tetap bersikap biasa.
“Terus aku harus bagaimana?” tanya Elang.
“Apapun yang sudah kamu lakukan sampai membuatnya marah, aku nggak tahu. Tapi yang penting, harus ada yang memulai untuk memperbaiki semuanya. Dan karena dalam hal ini kamu yang salah, jadi kamu harus minta maaf duluan. Lagipula, kamu kan cowok.”
“Aku sudah minta maaf Bi. Tapi dia nggak mau maafin aku. Katanya aku kekanak-kanakan. Tidak bisa bersikap dewasa.”
“Emang benar. Makanya, untuk sementara waktu biarkan kemarahannya reda dulu. Setelah kamu merasa bahwa perasaannya sudah sedikit membaik, baru deh kamu minta maaf kembali. Pasti deh dia maafin kamu,” saran Biru dengan begitu tegar.
“Hhmm... kamu benar. Setelah bercerita sedikit masalahku denganmu aku jadi merasa lebih baik. Makasih ya Bi udah mau dengar cerita dan masalahku. Aku ikutin saran kamu. Sekali lagi makasih ya...”
Semburat kemerahan dari langit sore mulai mengisyaratkan Elang untuk segera pamit pulang. Birupun mengantar Elang hingga ke luar teras rumah. Dan sebelum benar-benar pulang dengan mengendarai sepeda motornya, Elang sempat berucap.
“Tehnya enak banget. Kayak teh buatan ibuku. Lain kali buatin lagi ya... See you.”
Dan Elangpun berlalu dari hadapan Biru.
Biru masih tersenyum kecil di teras rumahnya ketika Elang sudah berlalu sekitar 5 menit yang lalu. Ucapan Elang membuatnya begitu senang. Elang tak pernah benar-benar memuji secangkir teh yang diminumnya dimanapun kecuali teh buatan ibunya. Dan hari ini Elang memuji secangkir teh buatannya. Biru senang, namun sedih di saat yang bersamaan. Dalam hati Biru berkata.
Elang, aku harus apa sekarang?”

Palu, 25/08/15 (22:31)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...