Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2015

Pesan Titipan

Bila kau baca tulisan ini. Ini untukmu. Ditulis kala aku tidak tahu siapa kamu, dimana kamu, sedang apa kamu, bahkan aku tidak tahu bila itu kamu. Kau tahu? Betapa sulitnya menjadi aku. Menjadi perempuan tidak semudah kata teman laki-lakimu. Hanya bisa menunggu atau menanti sesuatu yang tak kunjung datang. Sementara teman-teman laki-lakimu bebas bepergian atau bisa menentukan pilihan. Sama sekali tidak sesederhana itu.  Bila kau baca tulisan ini. Ini untukmu. Karena aku tidak tahu kepada siapa bisa kuutarakan maksudnya. Syukur-syukur kamu membaca ini malam ini. Itu artinya kamu adalah orang yang tidak jauh-jauh bukan? Bila kau tahu tulisan ini dari teman dekatmu, itu artinya kita masih berada di satu lingkaran pertemanan kan? Menjadi perempuan tidaklah mudah. Bahkan untuk memutuskan mengatakan sesuatu hal yang sangat penting untuk hidup kita. Karena aku mengkhawatirkan diriku sendiri, mungkin saja kamu tidak akan sanggup bertahan hidup berlama-lama dengan perempuan ini. Bi...

Catatan Senja #7 Semoga Bukan Untukku

Ada terlalu banyak tak percaya ketika kau bertindak seperti itu. Ada terlalu banyak sedih ketika kau berucap seperti itu. Akupun juga bingung, mengapa bisa. Dan aku tak tahu harus menjawab apa. Akhir-akhir ini, baik dalam keseharianmu, tindakanmu, ucapanmu, hingga segala yang menyangkut dirimu, kau sangkut pautkan dengan sebuah filosofi bernama " senja ". Entah dengan sengaja ataupun tidak. Dan diriku, yang dengan sengaja menempatkan kata itu sebagai jati diri, membuatku kembali mengalami hal yang dulu membuatku jatuh.  Kau tak pernah tahu, dan mungkin takkan pernah ingin tahu. Bahwa jika kau melakukan hal itu, dengan tanpa kukehendaki, dan secara naluriah, perasaanku akan membawaku ke dalam rasa yang sebenarnya bisa kusebut bodoh . Kau tahu, apa itu? Rasa GR. Aku sendiri merasa malu jika rasa itu hadir. Padahal, belum tentu " senja-senja " yang kau hadirkan dalam hari-hari, terlebih puisi-puisimu itu adalah aku. Dan aku tahu, pasti bukan untukku. Iya kan?...

#MadahKehidupan

FRAGMEN HUJAN SUATU PAGI Pagi baru saja menetas Ketika gerimis memahami makna siklus Lalu menjadi hujan yang tidak terlalu deras Sejak malam sajak-sajakku di alastu Terus menggedor pintu Ingin segera bergelinjangan Di helaian kertas Ingin segera dilahirkan Tapi hujan ini resap Ke dalam rahim Menghanyutkan sajak-sajak yang belum sempat Terlahir Kini hujan tinggal kenangan Aku menelisik kembali sajak-sajak Hanyut Mungkin tersangkut di reranting pohon Yang masih kuyup Atau tetanah becek yang akan Kembali merelakan tubuhnya Di gerayangi panas matahari

Padamu Terletak Takdir

Bisa saja aku menyalahkan semua kejadian yang aku alami hingga saat ini. Bisa saja aku mempertanyakan mengapa Tuhan mengujiku seperti ini. Memberikanku keadaan yang membuatku susah payah. Memberiku keadaan yang membuatku bahkan sulit untuk membuat keputusan. Dulu, aku meresahkan setiap langkah kaki yang kubuat. Setiap keadaan yang mengelilingiku, seolah-olah mengerdilkan pikiranku tentang keadilan-Nya. Aku mempertanyakan sikap-Nya yang seolah-olah pilih kasih. Mengapa aku terus menerus diberikan kegelisahan dan kesedihan, bahkan kegagalan? Sementara orang lain bisa tertawa lepas di atas kebahagiaannya. Aku terus menerus murung dan sekali lagi mempertanyakan keadilan-Nya. Dulu, aku merasa aku adalah orang yang paling tidak bahagia. Karena aku tahu, hampir semua yang aku harapkan selalu dipatahkan. Entah dipatahkan oleh keadaan, entah oleh orang lain, atau aku patahkan sendiri karena aku takut untuk membuat pilihan. Sampai hari ini, aku menemukan jawaban a...

Tidak Sekarang

Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku. Aku lebih baik memilih diam, agar kau tak perlu kerepotan menghindariku setiap kali bertemu. Agar aku bisa menjadi temanmu, agar kau tidak khawatir bersamaku. Sebab yang mencintaimu tidak hanya aku. Aku memilih diam, bukan berarti aku takut. Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang banyak bicara. Lebih baik aku bersabar terhadapmu. Aku tidak ingin kau merasa tidak nyaman berada di dekatku. Biarlah, semua menjadi rahasia yang tidak seorangpun tahu. Tidak akan ada teman yang menggoda saat kita berada di tempat yang sama. Kau bisa bebas bercerita dan bermain bersama tanpa perlu merasa apa-apa.   Tanpa perlu susah payah menghindariku hanya karena perasaanku. Tidak perlu sungkan membalas pesanku, hanya karena khawatir menimbulkan sesuatu. Biarlah semua aku simpan rapi agar aku bisa ,menjadi temanmu saat ini. Dan kau bisa menghadapi hidupmu tanpa perlu memikirkan bagaimana perasaanku. Kita tetap bisa saling berce...

Tulisan Senja

Filosofi Sebuah Senja Filosofi sebuah senja, begitu kata mereka. Sebuah senja tanpa kalimat, sebuah senja tanpa kata. Bisu yang penuh dengan cerita, tuli yang begitu penuh dengan simfoni malam. Kepada sebuah senja, kepada sebuah cerita yang diam tanpa kata. Seperti bicara, seperti sembunyi. Cermin mata sebuah senja, cenderamata yang ditinggalkan kedua peran, antara matari dan rembulan. Senja yang tidak dapat diceritakan, tempat dua dunia bersatu, tempat dua dunia bicara, tempat setiap manusia menemukan semua hal tentang imaji, tentang impi, tentang apa yang tidak dapat dimiliki malam ataupun pagi. Bila sebuah senja dapat mempertemukan kedua entitas yang tidak mungkin dipertemukan, mengapa senja ada diantara transisi malam dan pagi? Antara matari dan rembulan? Antara realita ataupun imaji? Kepada sebuah senja yang diam bercerita, "Aku adalah filosofi sebuah senja, aku adalah pertemuan yang diakhiri tanpa perpisahan, selalu pertemuan tanpa ada perpisahan....