Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Catatan Senja #19

Menyembunyikan Kegagalan “Bahwa hidup memang  bukan  sekedar bahagia dan senyuman.” Kira-kira seperti itulah kutipan kalimat yang pernah kubaca di salah satu blog. Sejenak kalimat itu kembali terngiang di kepalaku. Ya, benar saja. Kehidupan memang tak semata-mata soal bahagia, senyum, senang dan gembira. Jauh dari itu semua, ada hal-hal yang begitu besar yang harus dihadapi. Termasuk gagal dan jatuh. Aku yakin, bukan hanya aku, ada begitu banyak orang-orang di luar sana yang pernah bergelut dengan hal tersebut. Dan, dalam tulisan kali ini, aku akan menuliskan dan menuangkan sedikit banyak perasaan dan apapun itu mengenai aku dan kegagalan-kegagalan yang juga pernah dan sedang menjumpaiku. Orang bilang, tak ada kesuksesan tanpa kegagalan dan jatuh bangun. Takkan lahir sebuah kehebatan tanpa melewati perjuangan dan kerja keras. Aku memahami hal itu dengan sangat baik. Bahkan jauh sebelum aku menuliskan tulisan ini. Pada suatu kesempatan, aku pernah mengatakan, ...

Catatan Senja #18

Kau, dan Kepergian Itu. Hempas hujan. Sesekali deras menerpa. Menyimpan satu persatu ingatan yang repih di lumbung kenang. Membawa dirimu sedekat itu. Terbang pada kerinduan yang lebih getas dari musim yang paling panjang; hatimu. “Kau tahu aku tak akan kemana-mana, selain kembali pada hujan dan hatimu. Aku putuskan untuk menunggu." Kau memberiku sebuah puisi dan segenggam rindu. Bersama semburat senja dan kicauan camar. Beberapa bagian dalam tubuhku terasa perih. Kau sibuk merapikan jantung yang detaknya sepenggal tanggal. Waktu itu, kita menemukan dua mimpi yang terlalu bising. Gaduh seperti sebuah kota yang tak pernah sepi. Mungkin Tuhan sedang membuat badai di kepalaku, aku terpelanting dan terseret ke dalam lembar kertas yang beberapa kali kulumat tamat. "Lenganku ini, masih terentang menunggu kau datang. Tak peduli puluhan tahun kemudian, bahkan setelah kau lupa, setelah nadimu tak lagi bekerja. Aku selalu di sini." Matamu membunuhku untuk kesekian kal...

Catatan Senja #17

Hati Yang Kusimpan Tiba-tiba aku begitu ingin menemuimu. Apalagi jika bukan karena rindu yang tak pandai menunggu waktu, pun belum terlalu larut. Meski kau telah lelap dilembut selimut yang memelukmu lebih hangat dari senja dan kabut.  Aku ingin menulis untuk semua kata yang mewakili seluruh kita. Agar kelak membacamu berulang-ulang adalah nyanyian sebelum tidur yang selalu kurekam.   Akan kuawali paragraf pertama dengan huruf yang kucuri dari tetesan hujan di sore itu. Bulir air yang selalu membuatku jatuh hati berkali-kali, yang pada tetesannya pula aku ingin menjadi bagian dari dirinya. Atau, menjadi bintang yang ku simpan di langit lama pada gugusan cahaya.   Kemudian, biar kutulis juga sebuah puisi. Yang di sana aku kerap menitip rindu, setelah gelap, sebelum lelap, sebelum malam menjadi senyap. Lalu setelah pagi, sebelum tersadar, juga sebelum matahari. Kau tahu bukan? Aku begitu mencintai puisi. Seperti laut dengan ombak yang tak pernah surut. ...