Hati
Yang Kusimpan
Tiba-tiba
aku begitu ingin menemuimu. Apalagi jika bukan karena rindu yang tak pandai
menunggu waktu, pun belum terlalu larut. Meski kau telah lelap dilembut selimut
yang memelukmu lebih hangat dari senja dan kabut. Aku ingin menulis untuk semua kata yang
mewakili seluruh kita. Agar kelak membacamu berulang-ulang adalah nyanyian
sebelum tidur yang selalu kurekam.
Akan
kuawali paragraf pertama dengan huruf yang kucuri dari tetesan hujan di sore
itu. Bulir air yang selalu membuatku jatuh hati berkali-kali, yang pada tetesannya
pula aku ingin menjadi bagian dari dirinya. Atau, menjadi bintang yang ku
simpan di langit lama pada gugusan cahaya.
Kemudian,
biar kutulis juga sebuah puisi. Yang di sana aku kerap menitip rindu, setelah
gelap, sebelum lelap, sebelum malam menjadi senyap. Lalu setelah pagi, sebelum
tersadar, juga sebelum matahari. Kau tahu bukan? Aku begitu mencintai puisi.
Seperti laut dengan ombak yang tak pernah surut.
Lalu,
tak lupa kutulis juga tentangmu. Iya, dirimu. Yang terkadang mengenalkanku
banyak cerita, tentang kotamu yang begitu jauh, tentang kegagalan-kegagalan
yang kau temui. Juga tentang dirimu sebenarnya dan segala apa yang kau impikan.
Bahkan pada pesan-pesan singkat yang kerap kali saling kita kirimkan untuk
menghabiskan waktu demi membunuh kebosanan.
Setelah
itu, aku pun tak ingin lupa menulis kepedulianmu. Sebab, aku pernah berkeluh
kesah dan kau dengan sabar mendengar, aku pernah tertawa dan telingamu setia
mencerna, aku pernah membisikkan doa dan senyummu selalu menyimpan gemanya.
Lalu
hatiku dan dirimu setelahnya, kedua tempat yang tak pernah ingin kutulis
terpisah. Sebab padamu adalah bagian dari bahagia yang selalu ingin kutuju. Aku
telaten menghitung detak jantungku satu persatu. Dan, untuk setiap udara yang
kupinjam, kau adalah hati yang selalu kusimpan.
Catatan
Senja | 17/04/2016

Komentar
Posting Komentar