Kau, dan Kepergian Itu.
Hempas hujan. Sesekali deras menerpa. Menyimpan satu persatu ingatan yang repih di lumbung kenang. Membawa dirimu sedekat itu. Terbang pada kerinduan yang lebih getas dari musim yang paling panjang; hatimu.
“Kau tahu aku tak akan kemana-mana, selain kembali pada hujan dan hatimu. Aku putuskan untuk menunggu."
Kau memberiku sebuah puisi dan segenggam rindu. Bersama semburat senja dan kicauan camar.
Beberapa bagian dalam tubuhku terasa perih. Kau sibuk merapikan jantung yang detaknya sepenggal tanggal.
Waktu itu, kita menemukan dua mimpi yang terlalu bising. Gaduh seperti sebuah kota yang tak pernah sepi. Mungkin Tuhan sedang membuat badai di kepalaku, aku terpelanting dan terseret ke dalam lembar kertas yang beberapa kali kulumat tamat.
"Lenganku ini, masih terentang menunggu kau datang. Tak peduli puluhan tahun kemudian, bahkan setelah kau lupa, setelah nadimu tak lagi bekerja. Aku selalu di sini."
Matamu membunuhku untuk kesekian kali dengan kalimat-kalimat yang paling kubenci. Harus dengan apa aku menulisnya, agar kau tahu aku begitu gugup. Begitu takut pada kenyataan yang sendirian aku tak sanggup.
*Kuharap. Jangan benar-benar pergi dan melupakan. Simpanlah aku di hatimu. Akan kubawa sebuah awan dan sepotong ingin. Kita akan mencari jalan untuk bertemu lagi. Menemukan rumah yang sesungguhnya, tempat untuk kita memulihkan semua luka.
Catatan
Senja | 15/04/2016
Komentar
Posting Komentar