Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2015

Puisi-Hujan dan Bunga Amaryllis

hei, lihatlah! kutemukan sajakmu dari rerimbun gerimis, selarik  sajak  yang kau tulis bertahun silam tentang hujan dan bunga amaryllis. seperti déjà vu, saat mengeja rintik hujan, rasanya aku mengingat sesuatu. ah, sudahlah lupakan! mungkin nanti saja akan kuceritakan. oh ya, apa kabarmu disana? ada salam untukmu dari sekawanan prenjak yang berceracau riuh di atas dahan pohon angsana, mereka bersahabat dengan senja sama sepertimu, barangkali kau bisa mengajaknya berpetualang, tentu dengan hati riang mereka akan menemanimu mengepakkan sayapnya menjelajahi negeri senja. oh, hampir terlupa, apa kabar juga dengan hujan di kotamu yang semakin menua? apakah ia masih setia mengetuk  jendela? -zahra-  30/09/2014 -hadiah puisi setahun lalu- (kini, bunga ini begitu ramai diperbincangkan)

"Cintaku Tak Bodoh, Bell"

Seperti biasa, selepas aku menghabiskan malam dengan beberapa sujud pun doa yang telah kulangitkan, kau datang. Kali ini lebih cepat dari biasanya. Bukankah kemarin kutakakan, bahwa aku memintamu datang tepat pukul 2 malam. Ini masih jam 1, masih ada 1 jam lagi. Sepertinya, kau tak mendengarkan omonganku. Dengan wajah ceria, kau duduk di hadapanku, tepat di atas meja tempat biasa aku menulis. Coba lihat, mengapa senyummu begitu merekah, sepertinya kemarin-kemarin tak secerah itu. Pasti ada sesuatu, aku tak ingin mendengarnya. Kupalingkan wajahku, tapi secepat pula kau berpindah dari tempatmu duduk ke hadapan wajahku, lalu kemudian duduk di bahuku. “Aku tak meminta apa-apa. Aku menyukai warna cahaya lampumu, Ra. Jingga, seperi warna senja yang biasa kutengok di depan rumah kawanku.” Bukankah itu permintaanmu sejak minggu lalu. Aku bahkan tak bisa membaca novel-novel romantis milikku lagi saat malam hari. Tapi, jika tak kuturuti permintaanmu, kau pasti tak mau datang d...

Catatan Senja #13 -Hanya Pembuktian-

"Bahwa memang benar, segala yang terlalu berlebih pada akhirnya hanya akan memberikan dampak yang buruk pula." Seperti yang kini aku alami. Sampai saat aku menuliskan ini, kalimat demi kalimat, kurasa semuanya sudah kulakukan secara berlebihan. Termasuk menyayanginya, Tuhan. Aku sadar bahwa seharusnya tak seperti itu kuletakkan rasa sayang yang telah Kau limpahkan padaku. Karena, sejatinya, cinta dan rasa sayang yang paling besar dan utama hanya semata-semata diberikan untuk-Mu. Tapi, begitulah lemahnya manusia. Bahkan jika ia seorang alim sekalipun. Yang senantiasa tak pernah luput dari kelemahan, pun kesalahan. Tak terkecuali diriku, yang masih jauh dari kata alim, sholehah, taat, takwa, dan istilah apapun itu yang menunjukkan bukti ketaatan seorang hamba pada-Mu. Kau pasti tahu, Tuhan. Bagaimana tiap waktu, aku terus berupaya untuk meredam perasaan ini agar tak tumpah dan mengalir ke arah yang keliru. Terus berikhtiar untuk tetap menempatkannya serta men...

Catatan Senja #12 -Kamu dan Bintang-

Kamu tahu kenapa aku begitu menyukai bintang? Dia menawan, dia pemberani dan juga keren. Kukira dia jelmaan seorang pria tampan, bukan perempuan seperti dalam dongeng-dongeng. Itu sebabnya aku jatuh cinta padanya. Sangat jatuh cinta. Aku bisa gila jika tidak bertemu langit di malam hari, untuk sekadar bertemu bintang dan bercakap-cakap dengannya. Kadang kami membahas kamu, atau memaksa bintang mendengarkan semua ceritaku tentangmu. Tentang betapa aku yang kerap rindu. Di laptopku banyak foto bintang, dari bintang yang redup hingga bintang kejora, semua ada. Aku yang memotret sendiri, ketika sepi dan hanya ada kami. Aku mengabadikan wajahnya. Untuk kupandang ketika siang, saat aku tak menemukannya di langit yang sama ketika matahari tengah berpesta. Oh ya, fotomu juga ada di laptopku. Malah lebih dari lima. Aku mencurinya dari album akunmu. Dan maaf untuk itu. Karena sebenarnya kamu adalah yang paling kucinta, meski sembunyi-sembunyi begini. Aku tidak tahu, kenapa aku tida...

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Saat Hujan

--Saat Hujan l Tere Liye-- -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Berteriaklah di depan air terjun tinggi, berdebam suaranya memekakkan telinga agar tidak ada yang tahu kau sedang berteriak Berlarilah di tengah padang ilalang tinggi, pucuk2nya lebih tinggi dari kepala agar tidak ada yang tahu kau sedang berlari Termenunglah di tengah senyapnya pagi, yang kicau burung pun hilang entah kemana agar tidak ada yang tahu kau sedang termangu Dan, menangislah saat hujan,  ketika air membasuh wajah agar tidak ada yang tahu kau sedang menangis, Kawan  Perasaan adalah perasaan, Tidak kita bagikan dia tetap perasaan Tidak kita sampaikan, ceritakan, dia tetap perasaan Tidak berkurang satu helai pun nilainya Tidak hilang satu daun pun dari tangkainya Perasaan adalah perasaan, Hidup bersamanya bukan kemalangan,  Hei, bukankah dia memberikan kesadaran be...