Seperti
biasa, selepas aku menghabiskan malam dengan beberapa sujud pun doa yang telah
kulangitkan, kau datang. Kali ini lebih cepat dari biasanya. Bukankah kemarin
kutakakan, bahwa aku memintamu datang tepat pukul 2 malam. Ini masih jam 1,
masih ada 1 jam lagi. Sepertinya, kau tak mendengarkan omonganku.
Dengan
wajah ceria, kau duduk di hadapanku, tepat di atas meja tempat biasa aku
menulis. Coba lihat, mengapa senyummu begitu merekah, sepertinya
kemarin-kemarin tak secerah itu. Pasti ada sesuatu, aku tak ingin mendengarnya.
Kupalingkan wajahku, tapi secepat pula kau berpindah dari tempatmu duduk ke
hadapan wajahku, lalu kemudian duduk di bahuku.
“Aku
tak meminta apa-apa. Aku menyukai warna cahaya lampumu, Ra. Jingga, seperi
warna senja yang biasa kutengok di depan rumah kawanku.”
Bukankah
itu permintaanmu sejak minggu lalu. Aku bahkan tak bisa membaca novel-novel
romantis milikku lagi saat malam hari. Tapi, jika tak kuturuti permintaanmu,
kau pasti tak mau datang dan mendengar ceritaku lagi. Juga membaca
tulisan-tulisanku lagi.
“Kembalilah
duduk di meja itu, aku sudah tak sabar untuk menulis sebuah puisi. Nanti kau
harus membacanya, Bell.”
Aku
mulai menuliskan beberapa kalimat diksi yang indah, bercerita tentang seseorang
yang sejak dulu kukagumi. Tapi, sepertinya kau tak suka. Nampak jelas pada
wajahmu. Bukankah, puisi-puisiku sebelumnya juga tak jauh-jauh tentang dia. Kenapa
hari ini kau baru mempermasalahkannya? Aku bingung. Percuma saja kuganti lampu
kamarku, toh mood-mu juga tetap tak
bersahabat.
“Kapan
kau berhenti berkisah, berpuisi, atau
apalah jenis tulisan yang kau buat, untuk laki-laki itu? Dia tak pernah menyukaimu?
Bodoh sekali kau, Ra.”
Aku
mulai tak suka dengan sikapmu malam ini. Mengapa menyebutku dengan panggilan “bodoh”?
Orangtuaku saja tak pernah memanggilku seperti itu. Kau jahat, Bell. Tapi, aku
tak peduli. Ini tulisanku, puisiku, kau tak punya hak. Jika kau tak mau
membacanya, biar besok kuminta adikku untuk membacanya.
“Kau
bisa menulis tentang orang lain, tentang sahabatmu, tentang saudaramu, atau
mungkin tentang aku. Iya, aku baru sadar. Kau tak pernah menulis tentang aku. Padahal,
tiap malam aku selalu ada bersamamu. Kenapa justru laki-laki itu yang sebut
dalam puisimu?”
“Sebab
aku mencintainya, Bell. Mengertilah, ini soal hati. Dan hati tak bisa
dipaksakan. Aku menuliskan tentang apa yang hatiku sedang inginkan. Kau selau
ada di hatiku, pun mereka, sahabat, saudara. Tapi, aku sedang tak ingin menulis
tentang kalian. Sebab, menulis bukan soal paksaan. Kenapa kau jadi sedikit
cerewet malam ini?”
Puisi
itu sudah jadi setengah, dan kau masih memasang wajah muram. Padahal, aku ingin
menceritakan sesuatu padamu. Ah.. biar sajalah, kau harus mendengarkannya,
karena itu adalah tugasmu. Untuk itulah kau ada disini. Akan kulanjutkan puisi
ini besok pagi.
“Aku
mengiriminya pesan. Menanyakan kabarnya. Sebab, sudah hampir seminggu aku tak
mendengar kabarnya. Dan dia membalasnya dengan segera. Aku sangat senang, Bell.
Kau pasti tahu itu kan? Kau yang paling mengenal diriku.”
“Kau
tak pernah benar-benar sadar, Ra. Tak pernah.” Kau kepakkan sayapmu perlahan
dan sekarang telah duduk di atas kasurku.
“Maksudmu?
Jangan sok berkata bijak. Kau tak pandai.”
“Mengapa
harus kau yang selalu mengirimnya pesan terlebih dahulu? Bukankah, kau bilang
ia juga memiliki perasaan padamu. Mengapa ia tak pernah mengirimu pesan
terlebih dahulu sebelum kau? Coba kau pikirkan itu, Ra. Bukankah itu artinya ia
tak pernah memikirkanmu?”
Rasanya,
aku mulai tak senang dengan arah pembicaraanmu. Membuatku merasa ada yang
mengaliri aliran darahku.
“Jangan
bicara seperti itu. Bukankah sudah kukatakan untuk tidak membuatku kecewa,
sedih? Tugasmu hanya menemaniku bercerita, mendengar kisahku, membaca
tulisanku, puisiku. Hanya itu. Aku memintamu untuk selalu membuatku tersenyum. Dan
kau sudah berjanji. Mengapa sekarang kau melanggarnya?”
“Maafkan
aku, Ra. Tapi ini saatnya kau harus sadar dengan cinta-cinta yang tak berbalas
itu.”
“Hentikan...!!!!”
kututup telingaku, tak ingin mendengar celoteha panjangmu. Kau bersikap sok
bijak malam ini.
“Aku
membencimu. Pergilah, sepertinya kau tak menyenangkan malam ini. Hanya membuatku
sakit kepala. Sana, pergilah. Jendelaku belum tertutup. Kau bisa pulang lewat
situ. Aku ingin sendiri malam ini.”
Kaupun
akhirnya memutuskan pulang dan meninggalkanku sendiri. Sebelum akhirnya kau
benar-benar pergi, aku teringat satu hal.
“Tunggu,
apa sayapmu sudah sembuh?”
Kau
tak menjawab, dan segera berlalu dari pandanganku...
Senja 28|11|2015

Komentar
Posting Komentar