"Bahwa memang benar, segala yang
terlalu berlebih
pada akhirnya hanya akan memberikan
dampak yang buruk pula."
Seperti yang kini aku alami. Sampai saat
aku menuliskan ini, kalimat demi kalimat, kurasa semuanya sudah kulakukan
secara berlebihan. Termasuk menyayanginya, Tuhan. Aku sadar bahwa seharusnya
tak seperti itu kuletakkan rasa sayang yang telah Kau limpahkan padaku. Karena,
sejatinya, cinta dan rasa sayang yang paling besar dan utama hanya
semata-semata diberikan untuk-Mu.
Tapi, begitulah lemahnya manusia. Bahkan
jika ia seorang alim sekalipun. Yang senantiasa tak pernah luput dari
kelemahan, pun kesalahan. Tak terkecuali diriku, yang masih jauh dari kata
alim, sholehah, taat, takwa, dan istilah apapun itu yang menunjukkan bukti
ketaatan seorang hamba pada-Mu.
Kau pasti tahu, Tuhan. Bagaimana tiap
waktu, aku terus berupaya untuk meredam perasaan ini agar tak tumpah dan
mengalir ke arah yang keliru. Terus berikhtiar untuk tetap menempatkannya serta
menatanya agar tetap tak mendatangkan kemudharatan, baik bagi diriku maupun
bagi orang lain.
Terkadang, aku mencoba untuk meredamnya
dengan beberapa cara. Seperti meminimalisir banyaknya pertemuan dengannya,
menjaga jarak, mengurangi komunikasi, menghindari segala bentuk perhatian, dan
apapun itu agar perasaan itu sedikit berkurang. Tapi, Kau tahu. Aku selalu saja
gagal. Semakin hal-hal tersebut kulakukan, perasaan itu justru semakin mendalam
dan mendalam. Bahkan membuatku tak mampu menutupi kedalamannya.
Ya, perasaanku padanya. Seseorang yang
kurang lebih sejak 4 tahun lalu kukenal. Seseorang yang begitu dekat denganku.
Aku menyebutnya, “seorang teman”. Patut rasanya kusebut seperti itu, karena
memang, hingga saat ini kami masih sebatas teman. Bahkan ketika perlahan
perasaan itu hadir, kami masih tetap berteman.
Maafkan aku, Tuhan. Karena terkadang, aku
seperti terlihat selalu sibuk mengurusi urusannya. Rasanya, jadi sedikit malu
sendiri. Ketika dengan sengaja, bertindak selayaknya seorang penguntit yang
sibuk memata-matai kegiatannya. Sibuk mencari tahu segala hal tentangnya. Sibuk
menelusuri kehidupannya. Aku rasa itu salah.
Setidaknya, aku menyadari itu hari ini.
Ketika mendengar sebuah nasehat keagamaan. Bahwa bertindak demikian, yang dalam
istilah kerennya, “hobi stalking”, tidaklah baik. Tidak sepatutnya kita
menguntit serta mengurusi segala aktifitas oranglain.
Kala itu, aku merasa bahwa perlu
melakukan itu karena ingin tahu seperti apa sebenarnya dirinya. Bagaimana
tindak tanduknya. Apa yang biasa dilakukannya di luar sana. Bersama siapa saja
ia melewati hari-harinya. Dan masih banyak lagi. Tapi sungguh, aku tak ingin
melakukan itu, lagi.
Ada baiknya pula jika aku mulai
mengurangi, atau bahkan berhenti untuk stalking kegiatannya. Karena, perasaanku
jadi lebih bisa terkendali, hatiku menjadi lebih tenang dan bisa lebih
memfokuskan diri ke hal-hal yang lebih utama. Karena, tak memungkiri, bahwa ada
saat dimana aku merasa kecewa dan sedih ketikan coba-coba menstalkingnya.
Seperti halnya sekedar melihat-lihat
beberapa foto pada akunnya, sudah pasti ada beberapa foto yang diambilnya
bersama lawan jenisnya. Jika saja fotonya barengan dengan teman laki-laki, mungkin
tak masalah. Tapi jika fotonya hanya berdua, entah itu mungkin hanya sekedar
teman, sahabat, atau mungkin memang “teman dekat” atau “pacar”, jika disebut
dalam istilah anak muda, akan sangat membuat perasaanku kecewa. Dan itu telah
kudapati, berkali-kali. Andai saja ia tahu, Tuhan, bahwa aku sungguh tak
menyukai ketika ia bertindak demikian. Tapi, aku tak punya hak kan?
# # #
Jika sekarang, aku mulai dekat dengannya,
itu tak menjadi sebuah jaminan untukku bahwa aku bisa menaruh kepercayaanku
100% padanya. Karena, hati seseorang hanya Kau yang tahu. Bisa saja, jika dalam
ucapan serta perbuatan ia seperti memiliki perasaan yang sama padaku. Tapi, di
luar sana, aku tak tahu. Karena, aku belum benar-benar mendapati bahwa ia
menunjukkan hal serius.
Entah, karena aku yang begitu sulit
menaruh kepercayaan, 2 kali, pada seseorang. Atau karena memang Kau sedang
membimbing aku untuk terus belajar memperbaiki hati. Entahlah. Yang aku
takutkan kini adalah, bahwa aku menggenggam tali yang rapuh. Orang-orang
mengatakan bahwa aku harus percaya bahwa tali itu kuat hingga takkan membuatku
terjatuh. Tapi, bagaimana jika tak seperti demikian. Aku tak ingin jatuh di
genangan air yang sama.
Karena sungguh, untuk bangkit dari hati
yang telah jatuh dan terlukai itu bukan perkara mudah. Untuk membangun rasa
kepercayaan, untuk kali kedua, bukan perkara gampang.
Tuhan, bisakah kau sampaikan padanya. Bahwa aku ingin sepenuhnya memegang tali itu. aku ingin sepenuhnya menaruh kepercayaan padanya. Tapi, justru kepercayaan itu tak ia berikan sepenuhnya. Aku bukan meminta puisi-puisi manis nan romantis. Bukan hadiah-hadiah cantik nan lucu. Tapi, aku meminta 1 hal padanya. Tolong sampaikan padanya Tuhan. Bahwa aku membutuhkan pembuktian. Hanya itu.
(Dalam Catatan Senja)
25|11|2015

Komentar
Posting Komentar