Langsung ke konten utama

Catatan Senja #13 -Hanya Pembuktian-


"Bahwa memang benar, segala yang terlalu berlebih
pada akhirnya hanya akan memberikan dampak yang buruk pula."

Seperti yang kini aku alami. Sampai saat aku menuliskan ini, kalimat demi kalimat, kurasa semuanya sudah kulakukan secara berlebihan. Termasuk menyayanginya, Tuhan. Aku sadar bahwa seharusnya tak seperti itu kuletakkan rasa sayang yang telah Kau limpahkan padaku. Karena, sejatinya, cinta dan rasa sayang yang paling besar dan utama hanya semata-semata diberikan untuk-Mu.

Tapi, begitulah lemahnya manusia. Bahkan jika ia seorang alim sekalipun. Yang senantiasa tak pernah luput dari kelemahan, pun kesalahan. Tak terkecuali diriku, yang masih jauh dari kata alim, sholehah, taat, takwa, dan istilah apapun itu yang menunjukkan bukti ketaatan seorang hamba pada-Mu.

Kau pasti tahu, Tuhan. Bagaimana tiap waktu, aku terus berupaya untuk meredam perasaan ini agar tak tumpah dan mengalir ke arah yang keliru. Terus berikhtiar untuk tetap menempatkannya serta menatanya agar tetap tak mendatangkan kemudharatan, baik bagi diriku maupun bagi orang lain.

Terkadang, aku mencoba untuk meredamnya dengan beberapa cara. Seperti meminimalisir banyaknya pertemuan dengannya, menjaga jarak, mengurangi komunikasi, menghindari segala bentuk perhatian, dan apapun itu agar perasaan itu sedikit berkurang. Tapi, Kau tahu. Aku selalu saja gagal. Semakin hal-hal tersebut kulakukan, perasaan itu justru semakin mendalam dan mendalam. Bahkan membuatku tak mampu menutupi kedalamannya.

Ya, perasaanku padanya. Seseorang yang kurang lebih sejak 4 tahun lalu kukenal. Seseorang yang begitu dekat denganku. Aku menyebutnya, “seorang teman”. Patut rasanya kusebut seperti itu, karena memang, hingga saat ini kami masih sebatas teman. Bahkan ketika perlahan perasaan itu hadir, kami masih tetap berteman.

Maafkan aku, Tuhan. Karena terkadang, aku seperti terlihat selalu sibuk mengurusi urusannya. Rasanya, jadi sedikit malu sendiri. Ketika dengan sengaja, bertindak selayaknya seorang penguntit yang sibuk memata-matai kegiatannya. Sibuk mencari tahu segala hal tentangnya. Sibuk menelusuri kehidupannya. Aku rasa itu salah.
Setidaknya, aku menyadari itu hari ini. Ketika mendengar sebuah nasehat keagamaan. Bahwa bertindak demikian, yang dalam istilah kerennya, “hobi stalking”, tidaklah baik. Tidak sepatutnya kita menguntit serta mengurusi segala aktifitas oranglain.

Kala itu, aku merasa bahwa perlu melakukan itu karena ingin tahu seperti apa sebenarnya dirinya. Bagaimana tindak tanduknya. Apa yang biasa dilakukannya di luar sana. Bersama siapa saja ia melewati hari-harinya. Dan masih banyak lagi. Tapi sungguh, aku tak ingin melakukan itu, lagi.

Ada baiknya pula jika aku mulai mengurangi, atau bahkan berhenti untuk stalking kegiatannya. Karena, perasaanku jadi lebih bisa terkendali, hatiku menjadi lebih tenang dan bisa lebih memfokuskan diri ke hal-hal yang lebih utama. Karena, tak memungkiri, bahwa ada saat dimana aku merasa kecewa dan sedih ketikan coba-coba menstalkingnya.

Seperti halnya sekedar melihat-lihat beberapa foto pada akunnya, sudah pasti ada beberapa foto yang diambilnya bersama lawan jenisnya. Jika saja fotonya barengan dengan teman laki-laki, mungkin tak masalah. Tapi jika fotonya hanya berdua, entah itu mungkin hanya sekedar teman, sahabat, atau mungkin memang “teman dekat” atau “pacar”, jika disebut dalam istilah anak muda, akan sangat membuat perasaanku kecewa. Dan itu telah kudapati, berkali-kali. Andai saja ia tahu, Tuhan, bahwa aku sungguh tak menyukai ketika ia bertindak demikian. Tapi, aku tak punya hak kan? 

# # #

Jika sekarang, aku mulai dekat dengannya, itu tak menjadi sebuah jaminan untukku bahwa aku bisa menaruh kepercayaanku 100% padanya. Karena, hati seseorang hanya Kau yang tahu. Bisa saja, jika dalam ucapan serta perbuatan ia seperti memiliki perasaan yang sama padaku. Tapi, di luar sana, aku tak tahu. Karena, aku belum benar-benar mendapati bahwa ia menunjukkan hal serius.

Entah, karena aku yang begitu sulit menaruh kepercayaan, 2 kali, pada seseorang. Atau karena memang Kau sedang membimbing aku untuk terus belajar memperbaiki hati. Entahlah. Yang aku takutkan kini adalah, bahwa aku menggenggam tali yang rapuh. Orang-orang mengatakan bahwa aku harus percaya bahwa tali itu kuat hingga takkan membuatku terjatuh. Tapi, bagaimana jika tak seperti demikian. Aku tak ingin jatuh di genangan air yang sama.

Karena sungguh, untuk bangkit dari hati yang telah jatuh dan terlukai itu bukan perkara mudah. Untuk membangun rasa kepercayaan, untuk kali kedua, bukan perkara gampang.

Tuhan, bisakah kau sampaikan padanya. Bahwa aku ingin sepenuhnya memegang tali itu. aku ingin sepenuhnya menaruh kepercayaan padanya. Tapi, justru kepercayaan itu tak ia berikan sepenuhnya. Aku bukan meminta puisi-puisi manis nan romantis. Bukan hadiah-hadiah cantik nan lucu. Tapi, aku meminta 1 hal padanya. Tolong sampaikan padanya Tuhan. Bahwa aku membutuhkan pembuktian. Hanya itu.

(Dalam Catatan Senja)


25|11|2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...