Langsung ke konten utama

Catatan Senja #19


Menyembunyikan Kegagalan


“Bahwa hidup memang  bukan  sekedar bahagia dan senyuman.”
Kira-kira seperti itulah kutipan kalimat yang pernah kubaca di salah satu blog. Sejenak kalimat itu kembali terngiang di kepalaku. Ya, benar saja. Kehidupan memang tak semata-mata soal bahagia, senyum, senang dan gembira. Jauh dari itu semua, ada hal-hal yang begitu besar yang harus dihadapi. Termasuk gagal dan jatuh. Aku yakin, bukan hanya aku, ada begitu banyak orang-orang di luar sana yang pernah bergelut dengan hal tersebut.
Dan, dalam tulisan kali ini, aku akan menuliskan dan menuangkan sedikit banyak perasaan dan apapun itu mengenai aku dan kegagalan-kegagalan yang juga pernah dan sedang menjumpaiku.
Orang bilang, tak ada kesuksesan tanpa kegagalan dan jatuh bangun. Takkan lahir sebuah kehebatan tanpa melewati perjuangan dan kerja keras. Aku memahami hal itu dengan sangat baik. Bahkan jauh sebelum aku menuliskan tulisan ini.
Pada suatu kesempatan, aku pernah mengatakan, atau lebih tepatnya mengeluhkan keadaanku atas beberapa kegagalan yang aku alami pada seorang sahabat. Pada awalnya aku ragu dan tak ingin mengeluhkan keadaanku pada orang lain. Hanya saja, saat itu aku merasa sangat jatuh dan sedih (*dalam hal ini aku tidak akan menjelaskan secara detail mengenai jenis kegagalan itu), hingga rasanya aku benar-benar butuh seseorang untuk menguatkanku.
Alhasil, aku mengiriminya pesan singkat mengenai kesedihan hatiku saat itu dan iapun membalas dengan memberi balasan dan semangat agar aku tidak menyerah pada keadaan. Hanya saja, ketika kami bertemu, ada sebuah kalimat yang ia lontarkan padaku yang membuatku seperti bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dengan kegagalan yang bisa dibilang belum apa-apa.
Kira-kira kalimatnya seperti ini, “Memangnya sudah berapa kali gagal? Bagaimana dengan diriku?”  Mendengar ucapannya itu, aku mulai berpikir dan merasa bahwa dalam pemikirannya, aku mungkin menjalani hidup dengan perjuangan dan kegagalan yang biasa-biasa saja. Dan saat itu aku merasa sedikit sedih mendengar ucapan itu. Atau, jangan-jangan aku saja yang memang selalu membawa segala hal dengan perasaan? Entahlah.
Kebanyakan mereka, termasuk sahabat-sahabatku, mungkin menganggap aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja tanpa ada dinamikanya, tanpa ada naik turunnya. Padahal tidak. Sama sekali tidak, jika mereka tahu bagaimana aku dan hidup yang aku perjuangkan.
Aku masih ingat, saat dimana aku menemui sebuah kegagalan yang membuatku menangis dan menumpahkan semua sedih dan keluhku sepanjang malam. Saat itu, aku bahkan merasa sampai pada titik dimana aku merasa marah dan kecewa pada diriku, hidupku, juga pada keadaan. Dan, dengan wajah yang harus kembali tampak bahagia, aku menyembunyikan kesedihan itu dan berpura-pura tetap bahagia. Aku bahkan tak menyangka bahwa aku bisa sebegitu kalutnya.
Kembali membahas mengenai sebuah kegagalan, kita harus paham, bahwa setiap orang punya perjalanan panjang dan perjuangan sendiri-sendiri mengenai hidup yang dialami dan dilaluinya. Tak selalu orang-orang yang kita anggap tak memiliki kegagalan, tak pernah terlihat jatuh, terus terlihat bahagia dengan senyum sumringah yang nampak di wajahnya adalah orang-orang yang hidupnya begitu-begitu saja, monoton tanpa pernah merasakan pahit getirnya kegagalan. Tanpa kita sadari, mereka adalah orang-orang yang dengan pandai menyembunyikan jatuh sakitnya kegagalan yang mereka rasakan agar tak diketahui oleh banyak orang.
 Hingga saat aku menuliskan kata demi kata dalam tulisan ini, akupun kembali harus dihadapkan pada bentuk jatuh pun kegagalan yang entah sudah keberapa kalinya. Sampai keadaan ini membuat sebuah pemikiran jelek muncul di otakku, “Apa aku memang tidak ditakdirkan untuk menjadi seseorang? Apa aku harus menghentikan saja perjuanganku sekarang?” Benar-benar pemikiran yang naif.
Bagiku, di dunia ini hanya ada dua hal yang menjadikan setiap keinginan itu bisa sesuai dengan yang kita inginkan. Kita memang mampu, atau kita sedang beruntung. Dan, aku merasa aku belum dan tidak memiliki kedua hal itu, sekarang. Lantas, harus menunggu aku sekalut apa dan sejatuh apa lagi untuk  membuatku bisa menjadi ‘seseorang’.
Kali ini, aku tak hanya membicarakan mengenai impianku untuk menjadi seorang penulis, atau mungkin harapanku untuk bisa melanjutkan studi seperti orang-orang kebanyakan, atau punya banyak uang dengan pekerjaan yang keren dan membanggakan. Tapi, juga perihal kegagalan dan jatuh dalam hal-hal sederhana yang tak juga pernah bisa aku dapatkan dan raih. Sebegitu payahkah aku? Aku tidak tahu.
                Sampai akhir tulisan ini, aku masih merasa sedih dan tak tahu harus menyampaikannya pada siapa. Aku takut seseorang akan bosan dan lelah mendengar setiap keluh yang kusampaikan...
Semoga saja, ketika besok aku terbangun dari tidur, hariku menjadi lebih baik dan harapan itu kembali membuncah di hati dan pikiranku. Amin.

Catatan Senja | 26/04/2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...