Menyembunyikan
Kegagalan
“Bahwa
hidup memang bukan sekedar bahagia dan senyuman.”
Kira-kira seperti itulah kutipan kalimat yang
pernah kubaca di salah satu blog. Sejenak kalimat itu kembali terngiang di
kepalaku. Ya, benar saja. Kehidupan memang tak semata-mata soal bahagia,
senyum, senang dan gembira. Jauh dari itu semua, ada hal-hal yang begitu besar
yang harus dihadapi. Termasuk gagal dan jatuh. Aku yakin, bukan hanya aku, ada
begitu banyak orang-orang di luar sana yang pernah bergelut dengan hal
tersebut.
Dan, dalam tulisan kali ini, aku akan menuliskan
dan menuangkan sedikit banyak perasaan dan apapun itu mengenai aku dan
kegagalan-kegagalan yang juga pernah dan sedang menjumpaiku.
Orang bilang, tak ada kesuksesan tanpa kegagalan
dan jatuh bangun. Takkan lahir sebuah kehebatan tanpa melewati perjuangan dan
kerja keras. Aku memahami hal itu dengan sangat baik. Bahkan jauh sebelum aku
menuliskan tulisan ini.
Pada suatu kesempatan, aku pernah mengatakan,
atau lebih tepatnya mengeluhkan keadaanku atas beberapa kegagalan yang aku
alami pada seorang sahabat. Pada awalnya aku ragu dan tak ingin mengeluhkan
keadaanku pada orang lain. Hanya saja, saat itu aku merasa sangat jatuh dan
sedih (*dalam hal ini aku tidak akan menjelaskan secara detail mengenai jenis
kegagalan itu), hingga rasanya aku benar-benar butuh seseorang untuk
menguatkanku.
Alhasil, aku mengiriminya pesan singkat mengenai
kesedihan hatiku saat itu dan iapun membalas dengan memberi balasan dan
semangat agar aku tidak menyerah pada keadaan. Hanya saja, ketika kami bertemu,
ada sebuah kalimat yang ia lontarkan padaku yang membuatku seperti bukan
apa-apa dan bukan siapa-siapa dengan kegagalan yang bisa dibilang belum
apa-apa.
Kira-kira kalimatnya seperti ini, “Memangnya sudah berapa kali gagal?
Bagaimana dengan diriku?” Mendengar ucapannya
itu, aku mulai berpikir dan merasa bahwa dalam pemikirannya, aku mungkin menjalani
hidup dengan perjuangan dan kegagalan yang biasa-biasa saja. Dan saat itu aku
merasa sedikit sedih mendengar ucapan itu. Atau, jangan-jangan aku saja yang
memang selalu membawa segala hal dengan perasaan? Entahlah.
Kebanyakan mereka, termasuk sahabat-sahabatku, mungkin
menganggap aku menjalani hidupku dengan biasa-biasa saja tanpa ada dinamikanya,
tanpa ada naik turunnya. Padahal tidak. Sama sekali tidak, jika mereka tahu
bagaimana aku dan hidup yang aku perjuangkan.
Aku masih ingat, saat dimana aku menemui sebuah
kegagalan yang membuatku menangis dan menumpahkan semua sedih dan keluhku
sepanjang malam. Saat itu, aku bahkan merasa sampai pada titik dimana aku
merasa marah dan kecewa pada diriku, hidupku, juga pada keadaan. Dan, dengan
wajah yang harus kembali tampak bahagia, aku menyembunyikan kesedihan itu dan
berpura-pura tetap bahagia. Aku bahkan tak menyangka bahwa aku bisa sebegitu
kalutnya.
Kembali membahas mengenai sebuah kegagalan, kita
harus paham, bahwa setiap orang punya perjalanan panjang dan perjuangan
sendiri-sendiri mengenai hidup yang dialami dan dilaluinya. Tak selalu
orang-orang yang kita anggap tak memiliki kegagalan, tak pernah terlihat jatuh,
terus terlihat bahagia dengan senyum sumringah yang nampak di wajahnya adalah
orang-orang yang hidupnya begitu-begitu saja, monoton tanpa pernah merasakan
pahit getirnya kegagalan. Tanpa kita sadari, mereka adalah orang-orang yang
dengan pandai menyembunyikan jatuh sakitnya kegagalan yang mereka rasakan agar
tak diketahui oleh banyak orang.
Hingga saat
aku menuliskan kata demi kata dalam tulisan ini, akupun kembali harus
dihadapkan pada bentuk jatuh pun kegagalan yang entah sudah keberapa kalinya. Sampai
keadaan ini membuat sebuah pemikiran jelek muncul di otakku, “Apa aku memang tidak ditakdirkan untuk
menjadi seseorang? Apa aku harus menghentikan saja perjuanganku sekarang?” Benar-benar
pemikiran yang naif.
Bagiku, di dunia ini hanya ada dua hal yang menjadikan
setiap keinginan itu bisa sesuai dengan yang kita inginkan. Kita memang mampu,
atau kita sedang beruntung. Dan, aku merasa aku belum dan tidak memiliki kedua
hal itu, sekarang. Lantas, harus menunggu aku sekalut apa dan sejatuh apa lagi
untuk membuatku bisa menjadi ‘seseorang’.
Kali ini, aku tak hanya membicarakan mengenai
impianku untuk menjadi seorang penulis, atau mungkin harapanku untuk bisa
melanjutkan studi seperti orang-orang kebanyakan, atau punya banyak uang dengan
pekerjaan yang keren dan membanggakan. Tapi, juga perihal kegagalan dan jatuh
dalam hal-hal sederhana yang tak juga pernah bisa aku dapatkan dan raih. Sebegitu
payahkah aku? Aku tidak tahu.
Sampai akhir tulisan ini, aku
masih merasa sedih dan tak tahu harus menyampaikannya pada siapa. Aku takut
seseorang akan bosan dan lelah mendengar setiap keluh yang kusampaikan...
Semoga saja, ketika besok aku terbangun dari tidur,
hariku menjadi lebih baik dan harapan itu kembali membuncah di hati dan
pikiranku. Amin.
Catatan Senja | 26/04/2016

Komentar
Posting Komentar