Banyak kisah yang
berdesakan saat menulismu dalam senarai ingatan.
Hingga kularikan
kau dalam deretan kata.
Menghangatkan
cerita yang awalnya memucat laut.
Pun meredakan
hujan yang masih merinai laju saat kita melibat temu.
Ya... temu yang
dinamai persahabatan.
Aku melahirkan
banyak puisi setelah ranting dan dahan-dahan berhenti berderit.
Aku mengisahkan
banyak cerita saat hujan telah berganti gaun.
Namun, semua itu
tak pernah bisa aku rampungkan.
Tidak, hingga aku
memintal persahabatan denganmu.
Dan kau,
sahabat...
Menjadi sosok
yang begitu tangguh menopang kokoh sebatang pohon.
Menjadi musim
yang begitu kuat menyingkirkan derai kabut pun hujai badai.
Hingga dingin
benar-benar dapat kita taklukan.
Kita tak pernah
benar-benar tahu arti kemarau, sebelum mewujud dinding dan tebing kaku menunggu
rantas.
Kita tak pernah
benar-benar paham arti sahabat sebelum badai duka menerjang hidup hingga
kandas.
Ya... inilah
kisah sahabat dalam aksara syahdu.
Kisah panjang
yang tak pernah usai kudiksikan.
Palu,
21 Juli 2015
14.22
Komentar
Posting Komentar