Pilihan
Malam itu, tepat di tanggal 6 Desember
2015, pukul 21.49. Aku menerima pesanmu. Setelah beberapa lama aku tak bertemu
pun mendengar kabarmu, tiba-tiba saja kau kirimi aku pesan itu. Tak seperti
biasanya, kali ini isi pesanmu kau sampaikan dengan kalimat yang jelas tanpa
ada kata-kata puisi di dalamnya. Maka, tak perlu waktu lama untuk memahami
maksud yang kau sampaikan.
Jika biasanya kau tak pernah mengawali
pesanmu dengan salam, maka kali ini terdapat kalimat “Assalamu’alaikum” di
awal. Diikuti dengan namaku yang kau tulis dengan jelas. Dengan segera aku
tahu, kali ini pembicaraanmu pasti sangat serius.
9 kalimat, 65 kata. Kau sampaikan semua
yang ingin kau katakan padaku, yang mungkin tak berani kau sampaikan secara
langsung. Dalam pesan itu, rasanya, semua yang mungkin tertahan di hatimu
akhirnya kau tumpahkan. Dan akhirnya, berujung pada sebuah keputusan dan
pilihan yang kau ambil.
Apa karena sudah menduga, atau justru
karena telah terlatih kecewa. Sikapku tetap tenang saat membacanya kalimat demi
kalimat. Atau mungkin saat itu, hatiku sedang berusaha untuk menguatkan dirinya
sendiri. Entahlah...
Aku sengaja tak segera membalas pesanmu
kala itu, karena aku takut akan memberikan kalimat balasan yang tidak tepat.
Sebab aku tahu hatiku pasti sedang tak baik. Namun, malam itu akhirnya aku
mengetahui 1 hal. Bahwa mencintai terlalu dalam akhirnya membuatku menyakiti
diriku sendiri. Dan aku tak pernah bisa mengubah itu, hingga saat ini.
Jika saja kau tahu, bahwa aku tak pernah
ingin menjadi penghalang bagi seseorang untuk meraih impian besarnya. Tak
pernah sekalipun. Jika kau merasa terikat dan tak bisa terbang bebas, tak bisa
berjalan dengan tenang, pun mungkin tak bisa berlari sekuatnya karena hadirnya
aku, aku minta maaf.
Hingga pesan terakhir yang aku kirimkan
padamu sore itu, aku telah memutuskan untuk berhenti menganggumu, berhenti
untuk terus hadir dalam hidupmu. Karena sungguh, tanpa perlu kau memutuskan
untuk saling melepaskan, pada akhirnya kita juga akan saling berpisah, bahkan
untuk waktu yang tak kita ketahui.
Kau mengejar impianmu, aku mengejar
impianku.
Akan ada banyak hal yang terjadi. Kau, aku,
akan menjalani hidup lebih jauh, melewati hari-hari dengan aktifitas baru,
bahkan pastinya akan bertemu dengan orang-orang baru. Ya... ”orang-orang baru”
Rasanya seperti takut ketika membayangkannya.
Tapi, aku tak ingin lagi terus jatuh, terus
galau, atapun sedih. Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku juga punya impian
besar dan pasti akan mewujudkannya. Apapun yang terjadi.
Sekarang, setelah 4 tahun, 5 bulan, 10
hari. Perasaan itu belum juga bisa hilang. Bahkan semakin besar. Jika kau
mengira semua terjadi sejak setahun lalu, mungkin kau keliru...
(Dalam Catatan Senja)
Senja 10|12|2015

Komentar
Posting Komentar