
Disini, aku berdiri. Menatap jauh ke depan. Sangat jauh, hingga aku tak tahu kemana hentinya pandangan itu. Riuh pikuk suara burung-burung terbang bak bayangan hitam kecil penghias cakrawala. Terbang hilir mudik, entah dengan tujuan apa. Aku, yang saat itu sendiri. Seakan tak pernah lupa untuk hadir kembali di tempat ini. Tempat yang pernah menjadi saksi bisu bagaimana seorang keturunan hawa mengadukan sedu sedannya. Tempat dimana semua kenangan serta untaian harapan diutarakan dengan lantang disini.
Aku belum beranjak dari tempat terindah
itu, hingga tiba-tiba saja, tanpa kusadari ingatanku seakan memaksaku mengulang
kembali kenangan itu. Kenangan dimana kisah itu dimulai. Kenangan setahun yang
lalu. Kenangan, antara aku dan dia.....
Hari itu, di rumahku...
“Rara....!!!!” sapa Rasya, yang kala itu
tiba-tiba saja datang menghampiriku sambil menepuk bahuku dengan keras.
Membuatku kaget.
“Rasya, kebiasan deh. Ngagetin orang
kayak gitu kan nggak baik,” ucapku sedikit kesal pada kebiasaannya itu.
“Iya, iya. Maaf deh tuan putri.”
“Dari mana aja sih. Janjian jam 1 kok
datangnya jam 2. Ngaret banget.”
“Iya, sorry. Tadi aku harus nganterin
mama dulu ke apotek. Aku kira nggak bakalan lama. Eh, ternyata...” Rasya
berusaha menjelaskan alasannya datang terlambat.
“Ok. Ok. Permintaan maafmu diterima.
Sekarang, mana barang yang aku suruh bawa? Jangan bilang kalau kamu lupa,”
tanyaku sambil menyodorkan tangan kanan ke arahnya.
“Tenang aja. Aku nggak lupa kok. Nih!”
ucap Rasya sambil menyerahkan sebuah kantung kecil berwara hitam yang berisi
beberapa buku bacaan.
Akupun memeriksanya satu-persatu untuk
meyakinkan bahwa tak ada satupun pesananku yang terlewatkan atau terlupakan
olehnya. Setelah yakin, aku segera menaruh buku-buku tersebut di dalam kamar.
Selesai menyimpan buku-buku tersebut, aku kembali menemui Rasya yang masih
duduk manis di ruang tamu.
“Makasih ya Sya. Kamu udah boleh pulang
kok.”
“Terima kasih doang. Nggak ada bayarannya
gitu? Aku kan udah capek-capek buat anterin buku-buku pesenan kamu. Mana di
luar panas banget lagi.”
“Memangnya apa lagi?” tanyaku datar.
“Rara...Rara... Kamu itu benar-benar
sahabat yang jahat. Aku dikasih minum gitu. Atau ditawarin makan mungkin. Ini,
malaj langsung disuruh balik,” keluh Rasya sambil memasang wajah memelas.
“Oh... Kalau haus, bilang dong dari
tadi. Aku kan nggak tahu. Kalau gitu, sebentar ya. Aku ambilin minum dulu.” Dan
akupun berlalu meninggalkan Rasya menuju ke dapur.
# # #
Rasya adalah sahabatku sejak aku sekolah
hingga kuliah. Banyak hal yang membuat kami cocok sebagai sepasang sahabat.
Mulai dari hobby, kesukaan, musik favorit, film, warna, hingga tempat kami
sukai juga sama. Yakni pemandangan senja di atas bukit di kota kami. Hampr tiap
hari, kami selalu menghabiskan waktu bersama ketikan senja tiba. Kami juga
sering menghitung burung-burung yang terbang di langit kala itu. Dan terkadang
itu membuat sedikit pertengkaran di antara aku dan Rasya, jika hasil hitungan
kami terdapat perbedaan. Namun, itulah yang membuat kedekatanku dengannya
semakin tak terpisahkan. Hingga aku nyaris begitu bergantung padanya.
Hingga suatu ketika, di hari
ulangtahunnya, Rasya mengatakan sesuatu yang tak kumengerti apa maksudnya.
“Ra, kalau nanti kita udah nggak
sama-sama lagi. Kamu bakalan sedih nggak?”
“Memangnya kamu mau kemana? Aku kan udah
bilang, kalau kita harus selalu sama-sama. Aku nggak bisa apa-apa tanpa kamu
Rasya,” ucapku sambil terus memandangi langit yang mulai kemerah-merahan.
“Aku nggak bisa selamanya nemenin kamu.
Suatu saat kita akan punya kehidupan masing-masing. Kita akan bertemu dengan
jodoh kita. Dan akhirnya kamu dengan pasanganmu, aku dengan pasanganku.”
“Semua orang juga tahu. Tapi kan,
persahabatan kita tetap bisa berjalan. Kita tetap masih bisa bertemu. Di tempat
ini, di waktu seperti ini.”
“Aku ingin kamu mulai belajar mandiri
dan nggak tergantung sama aku lagi Ra.” Nada Rasya sedikit melemah. Tapi aku
tak menyadari hal itu.
“Iya, iya. Tapi nggak sekarang. Nanti
aja kalau kita udah mulai punya pasangan. Sekarang kan, aku masih punya kamu,”
ucapku sembari tersenyum padanya.
Rasya, yang sedari tadi memandangiku
perlahan mengarahkan pandangannya ke arah senja yang yang mulai gelap. Sungguh,
aku tak tahu apa yang ada dipikiran Rasya kala itu.
Tepat 2 minggu setelah hari itu...
Sudah hampir 2 jam aku menunggu
kedatangan Rasya. Tapi, ia sama sekali tak datang-datang. SMS ataupun
teleponku, tak juga mendapatkan respon. Aku sungguh bingung, kemana gerangan
Rasya berada. Padahal, biasanya ia akan tiba lebih dulu di bukit ini. Sudah hampi
seminggu pula Rasya tak masuk kuliah. Namun, tiap sore ia pasti datang ke
tempat ini. Dan saat aku tanya mengapa ia tak masuk kuliah, jawabannya hanya 1.
Ia sedang kurang enak badan. Dan aku percaya begitu saja, karena wajah serta
kondisi tubuhnya yang memang menunjukkan raut seseorang yang sedang dilanda
sakit.
Hingga senja itu hilang, berganti cahaya
rembulan, Rasya tak juga menampakkan batang hidungnya. Perasaan kesal mulai
menyerbu. Dalam pikiranku, aku berkata.
“Rasya kok bisa lupa datang sih! Kesel
deh.”
Karena tak juga mendapati keberadaan
Rasya, akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ke rumahnya. Namun, belum sempat
aku beranjak meninggalkan bukit itu, sebuah SMS masuk ke handphoneku. Ternyata
SMS dari Ibunya Rasya. Kubuka isi SMS tersebut.
“Rara,
tante harap kamu bisa kuat. Kamu jangan sedih ya. Sahabat kamu, Rasya, baru
saja dipanggil oleh Sang Khalik. Tuhan lebih sayang sama Rasya. Sekali lagi,
tante harap, kamu bisa kuat ya Ra.”
Dan sontak saja, handphone itu terlepas
dari tanganku. Aku tak tahu sikap apa yang harus aku berikan. Mendadak, aku tak
mampu menahan berat badanku. Aku terduduk lesu di atas tanah bukit itu.
Tertunduk lesu berurai air mata. Aku sungguh tak tahu harus berbuat apa. Yang
kutahu, detik itu juga, Rasya telah pergi meninggalkanku. Sama halnya seperti
senja hari itu, yang telah hilang.
Kenangan itu, masih membekas kuat di
dasar hatiku. Kenangan indah bersama sahabat terbaik yang pernah kumiliki.
Rasya. Kubuka kembali secarik kertas yang sempat aku terima dari Ibu Rasya,
tepat sehari setelah Rasya kembali ke sisi Sang Khalik. Perlahan, kembali
kubaca kalimat sederhana yang terangkai di dalamnya. Dan tanpa kudasari, air
mata malam itu kembali jatuh.
“Untuk
Rara, sahabat terbaikku. Jangan sedih ya Ra. Jangan nangis, kamu kelihatan
jelek. Aku pergi lebih dulu, meninggalkanmu. Seperti ucapanku waktu itu. Sayang
ya, mulai hari ini aku nggak bisa lagi ngeliat senja bareng kamu. Sedih
rasanya. Tapi, nggak papa. Kan ada kamu. Aku ingin kamu wakilin aku buat
nyaksiin senja-senja itu. Selamat tinggal Ra. Semoga kamu bisa mandiri tanpa
aku. Bagiku, kamu adalah sayap-sayap senjaku...”
Follow : @Citra_Larasari
Komentar
Posting Komentar