Langsung ke konten utama

#SharingKepenulisan



TERE LIYE; Simple, Dipaksakan, Didisiplinkan.


Selamat pagi para pembaca. Selamat pagi juga untuk para calon penulis, yang sedang berjuang menjadi penulis, pun yang udah jadi penulis.

Kali ini, saya pengen nulis, cerita sekaligus sedikit banyak membagi pengalaman serta apa saja yang saya dapatkan dari seminar kepenulisan Tere Liye di hari Senin, 12 Desember 2016 kemaren. Bertempat di Auditorium Universitas Tadulako, Palu.

Sangat bersyukur dan termasuk beruntung, bahwa hari itu saya bisa datang dan sempat hadir di seminar tersebut, yang notabene-nya seminar tersebut diisi oleh salah satu penulis hebat dan terkenal yang karya-karyanya telah banyak dikenal orang banyak.

Untuk yang belum atau mungkin tak tahu, Tere Liye, atau dengan nama asli Darwis, adalah penulis yang berasal dari Sumatera Selatan. Pria berusia 37 tahun ini telah berhasil melahirkan karya-karya buku yang beberapa bahkan telah diangkat ke layar lebar. Sebut saja Hafalan Sholat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah dan Bidadari-Bidadari Surga. Tak banyak jejak atau biografi lengkap mengenai beliau, karena seorang Tere Liye termasuk penulis yang misterius dan tak terlalu membuka jati dirinya. Maka tak ayal, banyak orang yang bahkan sampai mengira bahwa ia adalah seorang perempuan. Waduh...  

Sedikit membagi pengalaman lucu yang Bang Tere bagi ke kami, peserta seminar, mengenai buku Hafalan Sholat Delisa. Waktu itu, beliau sangat senang, karena mendapat kabar bahwa bukunya telah naik cetak dan sudah bisa didapatkan di toko-toko buku yang ada. Tanpa pikir panjang, dengan menempuh jarak yang cukup jauh, Bang Tere berjalan kaki menuju ke toko buku Gramedia yang ada di Depok waktu itu. sesampainya disana, dengan penuh semangat, beliau menyusuri bagian-bagian dimana buku beliau pasti diletakkan.
Ke tempat buku-buku novel, nggak ada. Ke tempat bacaan teenlite, nggak nemu. Ke tempat buku terbaru, juga nihil. Maka bingunglah ia.
“Masa penerbitnya bohong sih,” ucap Bang Tere.
Maka ditanyailah seorang petuga disitu.
“Mbak, buku Hafalan Sholat Delisa dimana ya? Kok saya nggak nemu?”
Diantarlah beliau menuju sebuah rak buku yang jauh dari ekspetasinya.
Dari atas rak buku tampak tulisan besar, yang saat itu juga membuat Bang Tere tertegun tak percaya.
“BUKU BACAAN SHOLAT”
Prakkk... Novel Hafalan Sholat Delisa-nya Bang Tere dikira buku tuntunan sholat..
Hingga berjalan sekitar 3 tahun, barulah novel tersebut mulai dikenal banyak orang, dan pemahaman itu mulai muncul.
“Ooohh.. Itu novel toh Bang Tere...”

Oke, kembali ke fokus pembahasan.
Mengenai apa saja yang saya dapatkan dari kegiatan seminar Tere Liye, selama kurang lebih setengah hari. Ini dia...
1.        Galau. Soalnya udah usaha datang cepat biar bisa duduk di bagian depan dan natap wajah Bang Tere Liye lebih dekat, eh malah sedikit lari dari ekspetasi saya. Saya malah dapat jatah kursi yang lumayan agak jauh dari panggung.  -_-
2.   Kecewa. Hasil video dan foto yang kurang fokus. Udah resolusi kamera hp nggak mendukung, ditambah lagi jarak yang tercipta antara saya dan Bang Tere cukup jauh, udah berhasil membuat hasil dokumentasi saya yang kurang memuaskan. *nasib...nasib...
3.      Nggak kebagian kesempatan bertanya langsung. Nggak sempat nanya sih nggak papa ya, tapi kok diantara para pe-nanya itu, nggak ada yang kepikiran buat tanya “siapa tokoh penulis yang menjadi bahan acuan atau inspirasi Bang Tere”. Sumpah, pertanyaan-pertanyaan yang ada hanya berulang dan bahkan hampir mirip. Udah gitu, nanya-nya yang jawabannya udah ketebak. *maaf untuk yang mungkin kesinggung. Hehehe...
4.       Meski begitu, saya tetap sangat senang. setidaknya ada beberapa poin yang sangat-sangat penting dan mampu menjadi bekal saya, pun juga kalian yang mempunyai passion atau keinginan untuk terjun ke dunia kepenulisan. Bahkanpun juga ingin bisa menjadi sehebat Tere Liye. Berikut poin2 itu...

   Ø  Poin pertama
Ini adalah kutipan terakhir Bang Tere sebelum nutup seminarnya. Tapi satu nasehat yang paling saya ingat sampai detik ini.
“Waktu terbaik untuk menanam pohon adalah 20 tahun yang lalu.”
Itu adalah pepatah Cina, dan sangat relevan dengan proses menulis.
Waktu terbaik untuk mulai menulis adalah 20 tahun yang lalu.
Nah loh, jadi sekarang udah nggak baik lagi dong buat nulis Bang?
Bukan! Ungkapan ini bermakna : Hasil jerih payahmu dalam menulis akan bisa kamu rasakan setelah 20 tahun lagi.
Jadi, kalau saat ini kamu merasa bahwa proses menulismu itu beraaaaattt banget, wajar saja. Namanya juga proses. Jalani aja. Pengen jadi penulis kan? Ya udah, tetap semangat.
Nggak pengen? Sana, jadi boyband aja! Gampang kan...

 Ø   Poin kedua
Mau jadi penulis, catat beberapa tips ini. (*kata Bang Tere sambil ngedikte para peserta seminar, pake titik koma segala. Hahaha.. Bang Tere...Bang Tere...)
  §   Topik tulisan bisa apa saja. Tapi penulis yang baik selalu bisa menemukan sudut pandang yang spesial. Latih kepala kita untuk menemukan sudut pandang yang spesial itu.
Contoh : jika kebanyakan orang akan menuliskan tentang “hitam” adalah sebatas warna, kelam dan gelap. Maka sudut pandang yang spesial itu akan menuliskan “hitam”sebagai hal yang lain. Mis. “Hitam selalu datang terlambat. Datang ke sekolah ia terlambat, berangkat lespun ia terlambat.”
Dalam hal ini, “hitam” bermakna sebagai nama orang.

  §  Penulis yang baik butuh amunisi. Tidak ada amunisi, tidak bisa menulis. Penuhi isi kepala kita dengan amunisi. Dengan ide.
Bagi kebanyakan penulis, atau mungkin para penulis pemula, masalah mentok ide, atau biasa disebut dengan Writers block.
Mau tau pendapat beliau tentang hal ini? Bang Tere sama sekali nggak percaya sama yang namanya Writers block loh! Katanya, itu Cuma istilah keren yang dibuat sama orang yang malas.
“Bilang aja malas nulis. Nggak usah sok-sokan pake bilang lagi Writers block,” kata Bang Tere.
Terus, cara ngatasinnya gimana?
Tahu teko? Wadah buat ngisi air itu loh.. Bisa nggak teko itu ngisi enam buah gelas yang kosong, misalnya? Bisa nggak?
Ya tentu bisa. Kalo tekonya ada isinya.
Kalau nggak ada, kosong? Ya mana bisa. Jangankan enam gelas, ngisi setetespun nggak bakal bisa.
Nah, terus apa artinya?
Ibaratkan teko dengan kepala kita. Air itu bacaan. Dan air yang tertuang adalah tulisan.
Nasehat klasik ya? Memang. Tapi justru sering kita abaikan.
Jadi, banyak-banyaklah membaca. Isi kepalamu Nak! *ucap Bang Tere.

 §  Kalimat pertama adalah mudah. Gaya bahasa adalah kebiasaan. Menutup lebih gampang lagi.
Hal ini yang paling sering jadi kendala seseorang saat mau pertama nulis.
“Bingung mau nulis apa nih.” “Mulainya gimana nih?” “Susah nih...” dan seterusnya...
Percaya nggak percaya, itu bakalan jadi susah beneran.
Mau kamu udah hatam dengan nulis kek, mau baru nyoba nulis kek. Tetap aja katakan “MUDAH”
Dan tulis apa aja yang ada di kepalamu. Jelek? Biarin. Namanya juga berproses. Emangnya pohon bisa langsung gede, gitu??
Lah terus, gimana cara biar bahasa dan gaya tulisan kita jadi bagus? Maka dengan tegas Bang Tere katakan, TIDAK ADA tipsnya. Kalimat yang gaya bahasa tulisan yang indah tidak memiliki aturan dan trik. Semua tercipta dengan sendirinya. Melalui pembiasaan dan, lagi-lagi proses bermain di dalamnya.

  §       Terakhir. Tuliskan. Tuliskan. Tuliskan.
Pengen cepat punya buku? Pengen cepat jadi penulis? Maka...
Tuliskan. Tuliskan. Tuliskan.
Menulis itu Cuma tiga caranya.
SIMPEL. DIPAKSAKAN. DIDISIPLINKAN.

SELESAI.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...