Langsung ke konten utama

Pemuja Rahasia

TAK TAHUKAH ENGKAU???



Sejatinya, tak ada satupun makhluk ciptaan Tuhan di muka bumi ini yang hadir tanpa adanya rasa cinta. Tak ada satupun makhluk yang hidup di alam semesta ini tanpa disertai rasa cinta. Cinta membawa ilham yang begitu kuat pada tiap penerimanya. Efek yang ditimbulkannya mampu menjadikan seorang penakut menjadi pemberani. Cinta mampu menjadikan seorang yang sehat menjadi sakit karenanya.

Begitu dahsyatnya kekuatan cinta itu, hingga tak seorangpun yang ada di dunia ini yang mampu menghindarinya. Tak terkecuali, diriku. Seorang wanita sederhana yang mendapat giliran kehadiran cinta. Cinta itu hadir, tepat 3 tahun lalu ketika diriku baru mengenal seperti apa itu dunia kampus. Sejenak, ingatanku kembali berputar mengunjungi masa laluku. Waktu, ketika sms itu kukirim ke nomor yang tak pernah kukenal sebelumnya, hingga salah satu seniorku memberikannya padaku…
“Assalamu’alaikum. Maaf sebelumnya ka, saya Icha, salah satu mahasiswi baru di program studi kimia. Saya mau tanya soal olimpiade Mipa yang akan diadakan. Apakah para mahasiswi baru bisa mengikuti kegiatan tersebut?” tanyaku melalui sms yang kukirimkan.
“Wa’alaikumsalam. Oh, kalau soal itu, kamu bisa langsung menanyakannya pada Rasya. Dia senior angkatan 2009 yang biasa mengurusi masalah itu. Saya akan mengirimkan nomornya.” Sms balasan dari seniorku membuat hapeku kembali berdering singkat.
Sesaat kemudian, nomor handphone ka Rasyapun masuk. Dengan sigap, akupun menekan tombol save untuk menyimpan nomor telepon tersebut. Setelah yakin telah tersimpan, akupun segera mengetik sms pada ka Rasya dengan tujuan untuk menanyakan perihal yang sama, yakni mengenai olimpiade Mipa.
“Assalamu’alaikum. Maaf sebelumnya mengganggu ka. Saya Khairunnisa biasa dipanggil Icha, salah satu mahasiswi baru program studi kimia. Saya mau tanya soal kegiatan olimpiade Mipa yang akan segera diadakan. Apakah mahasiswi baru juga bisa ikut?”
Tidak menunggu lama, handphonekupun bordering. Nama Ka Rasya tertera di layar hp. Dengan sedikit ragu, akupun mengangkat telepon. Terdengar suara yang begitu ramah dari seberang telepon.
“Assalamu’alaikum. Halo. Ini Icha?”
“Wa’alaikumsalam. Iya ka. Saya Icha.”
“Begini de, kalau soal olimpiade Mipa itu, untuk para mahasiswi baru belum bisa ikut. Soalnya, salah satu syarat adalah minimal telah mencapai 3 semester. Jadi, kalian belum bisa.”
“Oh, begitu ya ka.”
“Iya, jadi nanti kalian sudah berada di semester 3 baru kalian bisa ikut. Tapi, jangan berkecil hati ya.”
“Iya ka. Terima kasih sebelumnya atas infonya. Kakak sampai harus repot-repot telepon saya.”
“Iya, ngga papa kok. Oh iya, salam kenal ya. selamat datang di program studi kimia. J
“Salam kenal juga ka. J
“Ok, sudah dulu ya de. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam”. Ucapku, mengakhiri percakapan.
#    #   #

Tepat 3 hari 2 malam, kegiatan integrasi untuk para mahasiswa barupun selesai. Kegiatan itu diadakan di kampusku, bertempat di halaman belakang laboratorium kimia yang ada di prodiku. Integrasi merupakan kegiatan tahunan yang selalu diadakan untuk menyambut serta membina para mahasiwa baru secara fisik dan mental. Banyak kegiatan seru dan menantang yang dilakukan pada kegiatan ini. Namun, jika para mahasiwa baru diminta untuk mengulangi masa integrasi itu, maka jawaban yang keluar pasti kompak mengatakan, tidak. Alasannya hanya satu, melelahkan.

Ada hal yang paling aku ingat ketika integrasi. Yaitu untuk pertama kalinya, aku dapat mengetahui dan melihat secara langsung wajah Ka Ranya. Sosok ramah yang beberapa minggu lalu sempat berbincang denganku via telepon. Aku bisa mengetahui bahwa itu Ka Rasya, karena dia mendapat tugas untuk membacakan doa penutup pada kegiatan tersebut. Ketika salah satu senior menyebutkan namanya, dengan segera aku memalingkan pandanganku ke arahnya. Ka Rasya, sosok ramah yang baru kukenal itu, kini telah memikat hatiku.

Beberapa minggu setelah selesainya integrasi, kami para mahasiswa baru diintruksikan untuk dalam sebuah ruangan kelas. Tujuannya adalah untuk membagikan sertifikat kelulusan kami sebagai peserta integrasi. Yang membuatku sedikit gugup adalah, bahwa yang membagikan sertifikat tersebut adalah dia, sosok yang saat ini aku kagumi. Ya, siapa lagi kalau bukan Ka Rasya. Satu persatu nama para mahasiswa dipanggilnya untuk menyerahkan sertifikat tersebut. Hingga sampailah pada diriku.
“Khairunnisa…” suara Ka Rasya dengan lantang memanggil namaku.
Akupun segera melangkah ke hadapan Ka Rasya.
“Oh, jadi kamu yang namanya Icha”
“Iya ka.” Jawabku singkat dengan wajah yang sedikit malu.
“Salam kenal. Ini.” ucap Ka Rasya sembari menyerahkan sertifikat integrasi kepadaku.
Akupun berbalik seraya berucap di dalam hati.
“Aku sangat mengagumimu ka. Kau sangat ramah dan baik hati. Juga, sangat tampan tentunya”.

Setelah peristiwa penyerahan sertifikat tersebut, hari-hariku di kampus berjalan seperti halnya mahasiswa baru pada umumnya. Namun, selain fokus pada perkuliahanku, kini perhatianku juga tertuju pada sosok sederhana, yang ramah serta tampan menurutku. Dialah Ka Rasya. Sosok pujaanku saat ini. Sebagai halnya cewek kebanyakan, yang ketika memiliki sosok yang mereka kagumi tentu mereka akan menunjukkan kekagumannya. Tapi, itu tidak terjadi denganku. Aku, yang memiliki pribadi yang sedikit pendiam, menjadikan perasaan kagumku pada Ka Rasya sebagai perasaan yang kebanyakan orang-orang menyebutnya sebagai cinta dalam hati. Atau jika didaerahku biasa menyebutnya dengan istilah cidaha. Namun, itu tak membuatku berhenti mencari tahu tentangnya. Segala hal maupun cara aku lakukan untuk bisa lebih tahu tentang Ka Rasya.

Berdasarkan beberapa info serta sumber yang aku dapatkan, sedikit banyak aku jadi tahu mengenai sosok Ka Rasya seperti apa. Ka Rasya, mahasiswa angkatan 2009 itu, merupakan salah satu mahasiwa terbaik yang ada di prodiku. Ia sering mewakili prodi, jurusan, fakultas bahkan kampus dalam ajang-ajang sains yang cukup bergengsi. Maka, tak heran jika beberapa waktu lalu, salah satu seniorku menyaranka diriku untuk menanyakan soal olimpiade Mipa kepadanya. Dari info yang kudapatkan, aku juga tahu bahwa Ka Rasya merupakan sosok pria yang cukup kuat serta sabar menjalani kehidupannya. Terang saja, ayahnya telah meninggal dunia. Sekarang, yang membiayai kehidupan Ka Rasya beserta saudara-saudaranya hanya ibunya yang sekarang berprofesi sebagai tukang cuci. Maka, tak heran jika Ka Rasya sangta serius dalam menjalani perkuliahannya. Karena, banyak para senior yang mengatakan bahwa Ka Rasya membiayai separuh kuliahnya dari uang hadiah beberapa ajang perlombaan yang diikutinya.

Dalam beberapa kesempatan, aku sempat bertemu serta berpapasan dengannya. Dan reaksinya hanya satu, senyum. Ya, begitulah ia, sangat sederhana. Namun, di balik kesederhanaan tersebut, aku menyimpan kekaguman serta rasa cinta yang begitu dalam padanya. Entahlah, aku juga tak tahu mengapa. Tapi, aku merasa bahwa dia merupakan sosok pria yang begitu ideal di mataku. Dan seiring berjalannya waktu, hingga aku mencapai pada jenjang semester 5, perasaanku padanya masih sama. Bahkan bertambah tanpa berkurang sedikitpun. Hampir ditiap hari, aku selalu mengikuti perkembangan statusnya melalui akun sosialnya. Aku selalu memuji serta memanjatkan doa untuknya. Berharap Tuhan mengirimkan salam kekaguman serta kecintaanku padanya. Hingga saat ini, perasaan yang hanya aku dan Tuhan yan tahu ini, masih tertanam indah di lubuk hatiku. Tak bergeser sedikitpun. Aku berharap suatu saat, ada kalanya ketika hpku berdering dan nama yang tertera di layar hp adalah namanya. Atau mungkin, ada saat dimana kami berpapasan ataupun bertemu secara tak sengaja dan dia menyapaku terlebih dahulu seraya menanyakan kabarku. Seandainya, ya, hanya seandainya.
Lamunanku terhenti ketika aku mendengar deringan hpku menyeru. Fia, nama yang tertera di layar. Akupun segera mengangkatnya.
“Halo, Fia. Ada apa?”
“Icha, besok malam ada acara ramah tamah angkatan 2009 yang telah wisuda, kamu mau ikut nggak?”

“Iya, boleh.” Dalam hati akupun bersorak sembari berkata “Pastinya…!!!!!!!!!”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...