Langsung ke konten utama

Kalimat Sederhana

KALIMAT SEDERHANA



Ibarat bintang penghias langit, takkan mampu menerangi malam kala dirinya tak berteman. Sepi dan senyap tak lagi jadi risauan hati dan jiwanya sebab sang kawan selalu ada di sekitarnya. Menopang diri untuk bersama dalam ketentraman semua. Mungkin, begitulah diriku bersama mereka. Para bintang hatiku…

Pagi ini, seperti biasa aku yang sekarang masih berstatus sebagai mahasiswi di salah satu universitas di kotaku memiliki aktifitas rutin yang tiap hari selalu kulakukan. Tidak tiap hari sih, lebih tepatnya dimulai pada hari senin, dan berakhir pada hari jumat. Yup, apalagi kalau bukan berangkat ke kampus, memenuhi kewajibanku sebagai seorang penuntut ilmu.

Noura Fatih. Sekilas tak ada yang spesial dalam diriku. Status sebagai mahasiwi berprestasi sedikitpun tak melekat dalam diriku. Mahasiswi teladan tak pernah mampir dalam namaku. Pun sebagai mahasiswi yang unggul dalam organisasi juga tak bisa kuraih. Malang nian nasibku ini. Entahlah, mungkin aku lebih nyaman dengan status sebagai mahasiswi standar yang memiliki kemampuan, kecerdasan serta keterampilan yang biasa-biasa saja. Padahal, jika kutengok kembali masa sekolahku dulu, mungkin aku tak pernah menyangka akan seperti ini. Setidaknya, jika kubandingkan perkembangan pendidikanku di sekolah dulu dengan sekarang pada dunia kampus sangatlah jauh berbeda. Yaa.. begitulah. Entah karena takdir atau memang ini semua karena kesalahanku sendiri. Dalam hati, sepertinya aku sudah memiliki jawabannya sendiri.

Hari ini, sepertinya cuaca sedang tak bersahabat. Langit redup tertutup awan gelap yang berisikan air hujan yang hendak menyentuh bumi. Aku, yang sedari tadi serius memandangi langit tersentak kaget dengan teriakan dari salah satu sahabatku, Fero.
“Hayo…..!!! Lagi ngalemunin siapa??”
“Duh, Fero. Ngagetin aja.”. balasku sontak ketika dia berhasil mengagetkanku dengan hentakan tangannya tepat di bahuku.
“Habisnya, dari tadi bengong aja sendirian. Emangnya siapa yang lagi ada di langit? Sampe-sampe natapnya lamaaaaaa banget. Kasian langitnya tuh. Malu-malu karena kamu liatin terus.”
“Langit kok pake malu.”
“Hahaha… ya udahlah. Daripada Cuma bengong nggak jelas, ikut aku ke perpus yuk. Nyari-nyari novel terbaru.”
“Novel terbaru? Boleh-boleh. Ayooo…” jawabku dengan nada riang. Maklumlah, aku sangat exited dengan yang namanya novel beserta kawan-kawannya. Kalau soal bacaan, aku paling up date deh.
“Gitu dong, yuk!!”
* * *

Jadwal Ujian Final Semester Ganjil Tahun 2013/2014.
Sekilas, langkahku terhenti oleh tulisan yang terpajang di madding kampusku. Dalam madding tersebut, tercantum jadwal ujian final untuk para mahasiwa dan mahasiswi di prodiku.
“Duh, udah mulai ujian final lagi ni..” keluhku dalam hati sembari memotret jadwal ujian tersebut.
Aku memang sengaja memotretnya karena malas untuk mencatatnya. Yaa.. sebagai pegangan dan pengingat saja tentang tanggal ujiannya.
Belum sempat aku beranjak dari posisiku, sebuah suara terdengar memanggilku dengan keras.
“Noura…!!!” teriak suara tersebut.
Akupun menoleh ke arah sumber suara berasal. Ternyata, suara tersebut berasal dari Uci, salah satu sahabatku selain Karen. Aku memiliki 5 orang teman yang bisa kusebut mereka sebagai sahabatku. Mereka adalah Fero, Uci, Tery, Tia dan Wika. Kami sudah berteman sejak pertama kali masuk kampus. Awalnya, kami hanya berempat. Bersama denganTia dan Wika baru dimulai sekitar akhir semester 2. Sejak saat itu hingga sekarang, kami mulai dekat dan sangat akrab. Bahkan, lebih tepatnya sudah seperti saudara. Banyak hal yang menghiasi hubungan persahabatan kami. Jika diminta untuk menceritakan tentang bagaimana kisah persahabatan kami, maka pastinya dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk selesai menceritakannya.
“Hai, kamu dari mana? Tadi tadi aku cariin”.
“Iya, tadi aku dari kamar mandi. Btw, itu jadwal ujian final ya??”
“Iya, seminggu ini waktunya”.
“Duh, perlu belajar ekstra lagi nih”.
“Huu.. kamu sih nda perlu belajar ekstra juga sudah pasti dapat nilai bagus. Yang seharusnya belajar ekstra itu aku”.
“Kok gitu? Aku ini nda pintar. Kalo tidak belajar ya pasti nilainya jelek”.
“Mendingan kamu, dapat nilai jelek kalo tidak belajar. Daripada aku, udah mati-matian belajar, toh ujung-ujungnya tetap dapat nilai jelek”.
“Nda boleh ngomong gitu donk”.
“Tapi, faktanya emang kayak gitu kok”.
“Hhmmmm…” balas Uci dengan terus menggelengkan kepalanya.

Seminggu kemudian, ujianpu dimulai. Hari ini, ujian dimulai dengan mata kuliah Sains. Salah satu mata kuliah yang  merisaukanku. Alasannya hanya satu, sulit. Dan seperti biasa, dari semua soal yang ada hanya beberapa saja yang dapat kujawab secara mandiri. Selebihnya, bantuan dari teman-temanku. Diriku benar-benar payah. Ayah, Ibu, maafkan anakmu yang malang ini. L

Ujian finalpun berakhir selama seminggu. Rasanya ibarat terlepas dari ikatan kuat yang mengekang tubuhku. Lega dan nyaman. Ujian tal lagi menjadi momen yang menyenangkan bagiku. Tidak semenjak 3 tahun yang lalu ketika aku mulai memasuki bangku perkuliahan. Jika kubuka ingatan masa sekolahku dulu, ujian merupakan momen yang sangat kutunggu. Aku seakan merasa berada di arena perlombaan yang ramai dan seru. Berusaha untuk bisa memenagkan perlombaan dan membawa pulang hadiah yang disediakan. Tapi tidak saat ini.

Sekitar 3 minggu kemudian, saat aku berada di kamar tercintaku, handphonekupun bergetar tanda sebuah pesan masuk. Nampak pada layar handphoneku nama Wahyu, salah satu teman kampus mengirimkan sebuah pesan singkat. Kubuka pesan yang masuk tersebut.
“Noura, nilai ujian sudah keluar. Kamu, dapat nilai C untuk 2 mata kuliah”.
Sejenak, kualihkan pandanganku dari layar hpku. Menatap ke dinding kamar dan menarik nafas dalam-dalam. Berusaha untuk meyakinkan diri bahwa yang kubaca adalah keliru. Segera kulirik kembali layar hpku. Masih tetap dengan pesan yang sama.
Air matakupun jatuh tanpa ada aba-aba dariku. Hatiku terasa tertusuk dengan ribuan jarum nan tajam. Pun bagai teriris sembilu, sakitnya tak terperi. Apa yang harus kulakukan sekarang??
* * *

Sudah seminggu lebih aku tak keluar rumah. Hampir semua aktifitasku kukerjakan di dalam rumah. Perasaanku masih saja sedih dengan hasil nilai ujian final minggu lalu. Bukannya tak bersyukur, tapi jika menengok hasil ujian teman-temanku yang lain, sangatlah memuaskan. Tapi, kenapa justru aku sebaliknya?? Apa yang salah denganku?? Pertanyaan demi pertanyaan terus saja mengganggu pikiranku. Hingga sebuah smspun masuk membuatku tersadar dari lamunanku.
“Ra, besok kamu ke kampus nggak?” sms dari Uci memenuhi layar hpku.
Dengan hati yang sedang tak mood, aku hanya membaca pesan itu dan kembali memikirkan nilai-nilaiku tanpa membalas pesan Uci.

Dikampus, keesokan harinya…
“Ra, kemaren aku sms kok nggak dibalas, BBM aku juga ngga dibalas? Kamu sakit yaa??” Uci terus memboyongku dengan sederet pertanyaannya. Membuatku semakin tidak mood.
“Nggak kok, Cuma lagi malas aja” jawabku cuek dengan nada yang sangat rendah.
“Kok jawabnya gitu sih?”
“Yaa… gitu deh..” jawabku kembali, malas.
“Oh, iya. Kamu nggak pengen liat liat daftar hasil nilai ujian final kemaren? Katanya, nilai-nilainua udah keluar semua loh”.
“Iya, aku udah tau kok”.
“Kamu udah tau? Trus bagaimana dengan nilaiku? Bagus tidak? Kalau nilai kamu gimana?” Tanya Uci dengan tanpa henti, membuatku tak punya jeda waktu untuk menjawabnya.
“Liat aja sendiri…”
Sembari Uci melihat-melihat nilai ujian, sahabat-sahabatku yang lain juga mulai berdatangan. Yaa… maklum saja, hari ini mereka memang janjian datang ke kampus untuk melihat bagaimana hasil nilai ujian final kemaren. Fero, dengan langkah yang lebih cepat dari lainnya segera menghampiriku yang sedari tadi duduk lesu memandangi Uci yang tengah sibuk mencari namanya ada daftar nilai.
“Noura, kemaren-kemaren aku sms kok nggak di balas-balas sih?”
Aku hanya diam saja mendengar pertanyaan yang sama seperti yang ditanyakan Uci sebelumnya.
“Kamu kenapa sih? Setelah libur seminggu, bukannya happy malah lesu dan sedih gitu”.
“Eh, liat nilai yuukk..” ajak Wika sembari melangkah mendekati Uci dan Fero yang juga sedang melihat nilai.
“Astaga… Noura, nilai kamu C?? Pantesan kamu..” ucap Fero dengan nada yang agak tinggi. Membuat sahabat-sahabatku yang lain segera menengok ke daftar nilai yang dilihat oleh Fero, Wika dan Uci.
Fero belum sempat menyelesaikan kalimatnya hingga dengan sigap Uci mencubit lengan Fero tanda menyuruhnya berhenti. Feropun menghentikan ucapannya. Aku yang memang sedari tadi diam, hanya memandangi tanganku sambil berusaha tak sedih.
“Ra, jangan sedih ya.. nilai C itu juga nggak jelek kok. Minimal masih terbilang cukuplah” hibur Tery sambil memegang bahuku dengan lembut.
“Kalian sih gampang ngomongnya, soalnya yang ngalamin kan bukan kalian tapi aku” balasku dalam hati.

Awalnya, aku sangat sedih banget dengan nilai ujianku. Aku marah pada diriku dan orang lain. Hari ini, setiap orang menyapaku tak mendapat salam seperti biasanya. Aku hanya membalas sapaan mereka dengan senyuman kecil di sudut bibir. Entahlah, mereka tahu atau tidak dengan gemuruh hati yang sedang berkecamuk dalam jiwaku. Aku merasa down dan menyerah dengan nilaiku, hingga 1 kalimat penuh makna yang keluar dari hati salah seorang sahabat tercintaku membuatku merasa termotivasi dan sedikit membuatku bersemangat kembali. Fero berkata padaku dengan penuh penyemangat…
“Noura, selama ini.. diantara kita semua, kamulah yang paling tegar dan kuat jika menghadapi sebuah masalah. Masa, hanya soal masalah nilai saja, sudah membuatmu down dan tak punya semangat lagi. Ayo donk, mana sosok Noura penyabar dan kuat yang selama ini aku kenal?”

Sontak, kalimat dari Fero tersebut membuat air mataku seakan ingin jatuh menyentuh pipi. Hatiku pilu mendengar kalimat itu. Seperti itukah mereka menilai diriku. Sekuat itukah aku di mata mereka, hingga motivasi itu ada untukku. Jujur saja, aku tak pernah merasa paling kuat dan sabar dalam menghadapi masalah. Hanya saja, terkadang aku lebih memilih untuk tenang dalam menyelesaikan permasalahanku. Mungkin itu yang membuat sahabat-sahabatku menilaiku seperti itu.

Jujur, setelah Fero mengucapkan kalimat itu padaku, semangatku sedikit demi sedikit kembali hadir. Kalimat itu memang sederhana dan terdengar biasa saja. Tapi, bagiku, kalimat itu memiliki makna serta motivasi yang mendalam dari seorang sahabat kepada sahabatnya. Terima kasih kawan atas motivasinya. Ucapanmu memang biasa, tapi semangat yang kau sertakan dalam kalimat yang kau ucapkan yang membuatnya jadi sangat luar biasa..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...