Satu lagi sosok perempuan heroik yang dimiliki oleh bangsa ini. Perempuan yang menurut saya adalah sosok ibu dan penulis yang luar biasa. Karya-karyanya merupakan inspirasi kebanyakan penulis-penulis lainnya, termasuk saya sendiri.
Tahun 80-an, hampir semua kota besar di tanah air dibanjiri buku-buku cerita tentang akhirat. Buku itu menceritakan orang yang masuk neraka. Ia dibakar dengan api sangat panas atau ditusuk pedang tajam. Banyak yang takut dan ngeri membacanya, termasuk seorang bocah kelas satu sekolah dasar, Asmarani Rosalba, yang kini dikenal dengan nama pena Asma Nadia.
Karena iseng-iseng membaca buku jenis itu, Rani, panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga terbawa ke tidurnya. Suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu terkaget, kemudian terbangun. Segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya.
Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun geger otak dan harus mengalami perawatan. Setelah sembuh, Rani kembali sekolah. Uniknya, dia terus mendapat peringkat satu hingga SMA. Sebelumnya, Rani berada di peringkat kedua.
Beranjak remaja dan memasuki masa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rani harus terus berobat. Karena dampak dari benturan saat kelas satu SD itulah, Rani terpaksa berhenti dari IPB. Saat itu dia berada di tingkat dua jurusan mekanisasi pertanian.
Keluar dari kampus, tidak membuat gadis yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1972 itu putus asa, apalagi minder. Dia mencoba mengembangkan bakat terpendam: menulis cerpen dan novel. Kini Rani tampil sebagai penulis fiksi ternama di tanah air. Sebagai penulis, orang lebih mengenalnya sebagai Asma Nadia.
Karya-karya Asma banyak dijumpai di toko-toko buku di Indonesia. Tidak kurang dari 49 buku berisi cerpen dan novel telah beredar. Tidak mengherankan jika penerbit sekelas Mizan menganugerahi ibu dua anak itu sebagai ‘’Pengarang Fiksi Remaja Terbaik 2003′’ dan berhak meraih Mizan Award.
Belum lagi, buah ciptanya pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan majalah Ummi. Oleh karena itu, Asmayang konsisten mengusung cerita-cerita fiksi bernapaskan Islam (dia lebih suka menyebutnya cerita-cerita pencerahan), tampil sebagai salah satu pelopor di dunianya.
Sejak kecil Asma sudah senang menulis puisi dan lagu. Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang juga penulis ternama, juga banyak menulis cerita. Tentang kemampuan menulis lagu itu bisa dimaklumi karena ayah Asma, Amin Ivo’s, adalah pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya, ‘’Kau Bukan Dirimu'’, dinyanyikan Dewi Yull.
Tahun 80-an, hampir semua kota besar di tanah air dibanjiri buku-buku cerita tentang akhirat. Buku itu menceritakan orang yang masuk neraka. Ia dibakar dengan api sangat panas atau ditusuk pedang tajam. Banyak yang takut dan ngeri membacanya, termasuk seorang bocah kelas satu sekolah dasar, Asmarani Rosalba, yang kini dikenal dengan nama pena Asma Nadia.
Karena iseng-iseng membaca buku jenis itu, Rani, panggilan bocah perempuan itu, merasa takut, hingga terbawa ke tidurnya. Suatu malam, Rani bermimpi seram. Gadis kecil itu terkaget, kemudian terbangun. Segera diambilnya bantal untuk menutup wajahnya.
Tanpa sengaja, gerakan cepat itu menyebabkan bagian belakang kepala Rani terbentur besi kasur. Dia pun geger otak dan harus mengalami perawatan. Setelah sembuh, Rani kembali sekolah. Uniknya, dia terus mendapat peringkat satu hingga SMA. Sebelumnya, Rani berada di peringkat kedua.
Beranjak remaja dan memasuki masa kuliah di Institut Pertanian Bogor (IPB), Rani harus terus berobat. Karena dampak dari benturan saat kelas satu SD itulah, Rani terpaksa berhenti dari IPB. Saat itu dia berada di tingkat dua jurusan mekanisasi pertanian.
Keluar dari kampus, tidak membuat gadis yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1972 itu putus asa, apalagi minder. Dia mencoba mengembangkan bakat terpendam: menulis cerpen dan novel. Kini Rani tampil sebagai penulis fiksi ternama di tanah air. Sebagai penulis, orang lebih mengenalnya sebagai Asma Nadia.
Karya-karya Asma banyak dijumpai di toko-toko buku di Indonesia. Tidak kurang dari 49 buku berisi cerpen dan novel telah beredar. Tidak mengherankan jika penerbit sekelas Mizan menganugerahi ibu dua anak itu sebagai ‘’Pengarang Fiksi Remaja Terbaik 2003′’ dan berhak meraih Mizan Award.
Belum lagi, buah ciptanya pernah mendapat penghargaan dari Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan majalah Ummi. Oleh karena itu, Asmayang konsisten mengusung cerita-cerita fiksi bernapaskan Islam (dia lebih suka menyebutnya cerita-cerita pencerahan), tampil sebagai salah satu pelopor di dunianya.
Sejak kecil Asma sudah senang menulis puisi dan lagu. Helvy Tiana Rosa, sang kakak yang juga penulis ternama, juga banyak menulis cerita. Tentang kemampuan menulis lagu itu bisa dimaklumi karena ayah Asma, Amin Ivo’s, adalah pencipta lagu. Salah satu lagu ciptaannya, ‘’Kau Bukan Dirimu'’, dinyanyikan Dewi Yull.
Kegiatan membaca juga menjadi bagian lain dari masa kecil Asma, sehingga hal itu membuat ia suka menulis. Dari kecil dia dilimpahi buku oleh orang tuanya, meski kondisi ekonomi tidak baik. Jenis bukunya macam-macam, mulai dari komik, biografi, asal-usul, Agatha Christie, hingga lima sekawan. Asma tidak percaya kalau menulis itu karena garis keturunan.
‘’Aku pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, aku beralih ke cerita fiksi dan merasa duniaku ada di sana,'’ kata Asma. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja.
Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri suda dilakukan dia sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,'’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuatAsma bertekad untuk menulis lebih baik lagi.
Baru kelas tiga SMP dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Jadi, bukan hanya membuat cerita asal jadi, tanpa maksud. Saat itu perempuan bersuami Alamsyah yang bekerja sebagai wartawan di televisi NHK Jepang Indonesia itu mulai mengenakan jilbab. Tulisannya langsung terarah. Misinya ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.
Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,'’ kata Asma menirukan nasihat Helvy. Pada 1994 dan 1995, majalah Ummi memberi penghargaan kepada Asma sebagai juara penulisan cerpen.
Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya.
Sebagai penulis, Asma memang tidak mengalami masa penolakan oleh penerbit atau surat kabar. Cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga”, di muat di Annida pada 1990. Begitu seterusnya, majalah seperti Ummi, Sabili, dan lainnya, menjadi tempat berkiprah wanita yang hobi menonton film itu. ‘’Kecuali film fiksi ilmiah, Aku kurang suka,'’ tandasnya.
Ketika ditamnya hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, bidikan mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orag-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia oeduli pada dunia remaja.
Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,'’ kata Asma. Waktu itu, Asma bercerita bahwa ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat.
Geger otak yang dialaminya itu tidak menghalanginya untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari SD sampai kuliah. Maria Eri Susanti, sang ibu, juga tidak mengekang putri keduanya itu untuk mengekspresikan dirinya di kepramukaan, karate, dan teater sekolah.
Namun, kondisi itu membuat Asma tidak boleh kerja keras secara fisik. Dia tidak boleh berbenah-benah dan kena debu, sehingga akhirnya tidak bisa masak. Untuk keperluan makan dia; suami; dan kedua anaknya; Eva Maria Putri, 6,5 tahun, dan Adam Putra Firdaus, 2,5 tahun; keluarga itu memelihara pengasuh.
Terhadap para pengasuhnya itu, Asma selalu mengingatkan kedua anaknya untuk tidak menganggapnya sebagai pembantu. ‘’Mereka adalah pengasuh Caca dan Adam,'’ kata Asma kepada keduanya. Caca adalah panggilan akrab putri pertamanya. Tentang pembantu, wanita yang menikah di usia ke-23 itu mengaku sangat respek terhadap nasib mereka. Dia pun menulis novel berjudul Derai Sunyi.
Kini, sejumlah obsesi pun terus menggantung di benak Asma. Penulis yang tinggal di Depok itu berharap, suatu hari, memiliki rumah singgah bagi anak-anak telantar. Dia juga ingin membangun sekolah. Di dunianya, Asma berharap dapat membuat sebuah novel remaja yang lebih serius dan nyastra.
‘’Aku pernah menulis tulisan berat, tetapi tidak bagus. Akhirnya, aku beralih ke cerita fiksi dan merasa duniaku ada di sana,'’ kata Asma. Cerita bertema dunia remaja pun menjadi garapannya. Bukan karena belum banyak penulis yang memfokuskan diri pada dunia itu yang membuat Asma bergelut di dunia remaja. Namun, karena kecintaan dan rasa senang yang besar untuk menggali kisah-kisah remaja.
Sebetulnya, kebiasaan menulis cerpen itu sendiri suda dilakukan dia sejak kelas satu SMP. ‘’Waktu itu aku menulis cerpen 11 halaman,'’ Asma menjelaskan. Seorang saudaranya yang aktif di teater berkomentar bahwa cerpen itu klise, pasaran. Kritik itu membuatAsma bertekad untuk menulis lebih baik lagi.
Baru kelas tiga SMP dia merasa perlu memiliki misi dalam menulis cerita. Jadi, bukan hanya membuat cerita asal jadi, tanpa maksud. Saat itu perempuan bersuami Alamsyah yang bekerja sebagai wartawan di televisi NHK Jepang Indonesia itu mulai mengenakan jilbab. Tulisannya langsung terarah. Misinya ingin menceritakan bahwa Islam itu universal.
Pada awalnya Asma mengaku tidak merasa percaya diri atas karya yang dibuatnya. ‘’Kakak saya bilang, terus masuki secara serius. Kalau sudah menang dua kali, gak usah mikir seperti itu,'’ kata Asma menirukan nasihat Helvy. Pada 1994 dan 1995, majalah Ummi memberi penghargaan kepada Asma sebagai juara penulisan cerpen.
Pada sisi lain, Helvy mengingatkan bahwa pengarang perempuan itu jumlahnya masih sedikit. Apalagi, mereka yang peduli pada dunia remaja dan mempunyai misi. Hal itu mendorong Asma untuk terus maju dan berkarya di tengah ketidakpercayaan dirinya.
Sebagai penulis, Asma memang tidak mengalami masa penolakan oleh penerbit atau surat kabar. Cerpen pertamanya berjudul “Surat Buat Assadullah di Surga”, di muat di Annida pada 1990. Begitu seterusnya, majalah seperti Ummi, Sabili, dan lainnya, menjadi tempat berkiprah wanita yang hobi menonton film itu. ‘’Kecuali film fiksi ilmiah, Aku kurang suka,'’ tandasnya.
Ketika ditamnya hubungannya dengan Helvy, Asma mengaku tidak merasa bersaing, meski sama-sama penulis. Yang ada, katanya, malah saling mendukung. Apalagi, bidikan mereka berbeda. Helvy menggarap pasar orag-orang dewasa dan serius. Sementara itu, ia oeduli pada dunia remaja.
Asma mengaku banyak belajar dari kakaknya yang terlebih dahulu menulis.
‘’Helvy-lah yang mengganti namaku jadi Asma Nadia, yang artinya nama yang menyeru,'’ kata Asma. Waktu itu, Asma bercerita bahwa ia menyerahkan cerpen kepada kakaknya untuk dibaca. Ketika melihat bahwa ia menggunakan nama Asmarani Rosalba, Helvy seketika menggantinya dengan Asma Nadia. Katanya, nama aslinya susah diingat.
Geger otak yang dialaminya itu tidak menghalanginya untuk aktif di berbagai kegiatan sekolah, dari SD sampai kuliah. Maria Eri Susanti, sang ibu, juga tidak mengekang putri keduanya itu untuk mengekspresikan dirinya di kepramukaan, karate, dan teater sekolah.
Namun, kondisi itu membuat Asma tidak boleh kerja keras secara fisik. Dia tidak boleh berbenah-benah dan kena debu, sehingga akhirnya tidak bisa masak. Untuk keperluan makan dia; suami; dan kedua anaknya; Eva Maria Putri, 6,5 tahun, dan Adam Putra Firdaus, 2,5 tahun; keluarga itu memelihara pengasuh.
Terhadap para pengasuhnya itu, Asma selalu mengingatkan kedua anaknya untuk tidak menganggapnya sebagai pembantu. ‘’Mereka adalah pengasuh Caca dan Adam,'’ kata Asma kepada keduanya. Caca adalah panggilan akrab putri pertamanya. Tentang pembantu, wanita yang menikah di usia ke-23 itu mengaku sangat respek terhadap nasib mereka. Dia pun menulis novel berjudul Derai Sunyi.
Kini, sejumlah obsesi pun terus menggantung di benak Asma. Penulis yang tinggal di Depok itu berharap, suatu hari, memiliki rumah singgah bagi anak-anak telantar. Dia juga ingin membangun sekolah. Di dunianya, Asma berharap dapat membuat sebuah novel remaja yang lebih serius dan nyastra.
Berikut beberapa karya mba Asma Nadia yang patut diacungi jempol.



Dan hingga saat ini, satu karya yang sejak lama sangat ingin kumiliki. Yaitu novel berjudul "Assalamualaikum Beijing".

Namun, sampai kutuliskan cerita ini, tak juga kutemukan novel tersebut. Bahkan berulang kali kucari di beberapa toko buku di kotaku, tapi hasilnya tetap nihil. :( Bukunya udah mau difilmkan, tapi aku belum juga bisa mendapatkannya...
Berangkat dari seorang Asma Nadia, yang menurutku merupakan salah seorang penulis wanita yang cukup diperhitungkan dalam dunia kepenulisan. Aku sangat berharap, kelak diriku bisa sepertinya. Mampu melahirkan karya2 hebat nan mengagumkan.
Amiiiiinn.... :)
(04:01)


Komentar
Posting Komentar