Langsung ke konten utama

Aksara Di Ujung Senja




Pukul 10.00 malam terus saja berselimut kabut, wajah rembulan yang awalnya cerah tiba-tiba murung seakan tak kuat menahan kantuk. Demikian pula bintang-bintang, satu persatu berguguran tanpa jejak sedikitpun. Tak ayal, denyut nadi aktivitas masyarakat kota Palu perlahan-lahan berhenti berdenyut. Orang-orangnya seolah tak sabar ingin segera memulai mimpi dalam tidurnya, praktis suasana berubah sepi bak kota mati. Sesekali hanya terdengar suara lolongan anjing dan nyanyian jangkrik yang bersahut-sahutan memecah kesunyian.
Pun begitu dengan Kayla. Seorang gadis sederhana yang sedari tadi telah lelap dalam mimpi-mimpi indahnya tentang hari baru yang akan ditemuinya besok. Hari, yang menjadi satu langkah awal baginya untuk menjadi seseorang yang berbeda. Menjadi seorang penulis. Bukan perihal yang istimewa pastinya, terlebih bagi orang lain yang mungkin saja dengan mudahnya menerbitkan buku mereka. Baginya, hal tersebut merupakan suatu kesempatan paling berharga yang takkan pernah ia lewatkan dan akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Terang saja, untuk bisa melihat bukunya berada di jejeran buku-buku lainnya di toko buku, Kayla harus melakukan perjuangan yang tak mudah. Yang mungkin takkan pernah terpikirkan oleh teman-teman, bahkan orangtuanya sekalipun.
Lewat mimpi yang tengah bermain di alam bawah sadarnya, setiap rekam jejak perjuangan Kayla dalam meraih impiannya tersebut seakan kembali bercerita. Dan kembali kisah pahit yang begitu indah itu berhasil menemani malamnya kala itu. Dengan senyum yang tersungging di bibir mungilnya, kisah itu kembali bermain...
Hari itu, di tengah teriknya matahari seorang gadis manis yang masih lengkap dengan pakaian seragam putih abu-abu yang telah dikenakannya sejak pagi tadi terlihat tengah sibuk menenteng beberapa tumpukan kertas. Sambil sesekali menyeka peluh yang membasahi wajah, ia terus saja berjalan. Bukan dengan wajah sendu, justru dengan senyuman cerah yang tak kalah dengan matahari yang juga bersinar cerah di hari itu. Dengan langkah yang terus beradu cepat dengan angin, Kayla terus saja melangkah, tanpa mempedulikan sekitar. Bahkan ketika salah seorang temannya, bernama Sandy tak sengaja berpapasan dengannya dan menyapa, Kayla justru hanya membalasnya dengan senyuman tanpa sepatah katapun. Bukan maksud menyombongkan diri atau tak mau menegur. Hanya saja, ada hal penting yang sangat ingin dilakukannya dengan cepat hari itu. Dan semuanya terasa begitu berkecamuk dalam hatinya, ketika tempat yang menjadi tujuannya sedari tadi telah tampak tepat di hadapannya.
Sebuah gedung tinggi dengan kaca-kaca bening menghiasi hampir tiap sisi dari gedung tersebut. Dari nama yang tertera di depan gedung tersebut, tampak bahwa gedung tersebut merupakan sebuah perusahaan penerbitan buku. Sambil menarik nafas, Kayla segera melangkah masuk ke dalam gedung. Setibanya di dalam, bukannya disambut dengan ramah ia justru disambut dengan tatapan aneh dari orang-orang yang berada di ruangan tersebut. Kayla sadar, kedatangannya yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut yang membuatnya mendapat sambutan tak bersahabat seperti itu. Tapi Kayla tak peduli, toh itu tak akan mengubah niatnya kala itu.
Masih dengan membawa tumpukan kertas yang sedari tadi digenggamnya erat, segera ia menghampiri meja recepsionis dan berusaha menanyakan seseorang yaang menjadi tujuan kedatangannya. Awalnya, sang recepsionis itu seakan bingung dengan penampilan Kayla. Tapi, semburat kebingungan itu memudar ketika dengan ramah Kayla menyapanya dengan senyuman khasnya.
“Permisi Mba. Saya Kayla, Kayla Anastasya. Saya ingin bertemu dengan pimpinan redaksi penerbit ini. Saya sempat membaca profil penerbit ini di koran beberapa hari lalu. Dan tampaknya, pihak penerbit sedang menerima naskah untuk diterbitkan. Saya ingin menawarkan naskah saya.”
“Maaf. Apakah adik Kayla sudah membuat janji sebelumnya?” tanya sang gadis recepsionis.
“Janji? Apakah sebelumnya harus membuat janji? Saya kan baru ingin menawarkan naskah saya,” tanya Kayla dengan sedikit bingung.
“Iya. Sebelumnya, adik harus menghubungi dulu pihak penerbit via email atau kontak telepon yang telah ada. Jika disetujui untuk melakukan pertemuan, baru adik bisa datang. Kalau tidak, maka adik tidak bisa bertemu dengan pimpinan penerbit disini.”
“Tapi Mba, saya sudah jauh-jauh datang kesini. Berjalan kaki pula. Tolonglah Mba, saya sudah membawa naskah tulisan saya,” pinta Kayla dengan wajah sedih.
“Sekali lagi kami minta maaf Dik. Tapi saya tidak bisa mengizinkan adik.”
“Tolonglah Mba. Saya mohon. Izinkan saya bertemu dengan pimpinannya. Mungkin saja naskah saya akan diterima.”
Karena merasa mulai terganggu dengan sikap Kayla yang masih terus memaksa, akhirnya si recepsionis memanggil security untuk memintanya segera meninggalkan tempat tersebut. Namun, Kayla masih saja bersikeras untuk tetap tinggal disitu hingga diizinkan untuk bertemu dengan pimpinan penerbit. Dan, dengan tegas pula sang security memaksanya untuk keluar dari tempat tersebut. Karena dipaksa keluar, akhirnya tumpukan kertas naskah tulisan yang sedari tadi dibawa Kayla jatuh terlepas dari genggamannya dari berhamburan. Bukannya kasihan dengan keadaan tersebut, sang security justru berucap dengan sinis.
 “Segera bereskan sampah-sampah tersebut dan tinggalkan tempat ini sebelum saya bertindak lebih tegas.”
Tanpa disadarinya, bulir-bulir air mata menjatuhi pipinya. Beberapa diantaranya justru jatuh membasahi kertas-kertas tersebut. Hanya saja, ia tak mempedulikannya. Segera dikumpulkannya kembali kertas-kertas naskah tersebut dan bergegas meninggalkan tempat tersebut.
* * *
Senja kala itu masih bermain dengan langit. Cahayanya berkejaran dengan cakrawala yang tak pernah sepi oleh nyanyian burung-burung di sore hari. Dengan penuh harap, Kayla duduk di atas bukit yang berhadapan langsung dengan senja itu. Senyum manis itu masih merekah indah di wajahnya. Kejadian kala itu tak akan menumbangkan semangatnya untuk mewujudkan mimpi terbesarnya. Menjadi seorang penulis. Impian yang sedari dulu belum jua tercapai. Tapi, Kayla tak pernah menyerah. Bahkan ketika orang-orang meragukan impiannya itu, ia justru memaku rapat-rapat lukisan indah impian itu di hatinya. Takkan dibiarkannya seorangpun merusak lukisan tersebut.
Tepat seminggu setelah kejadian di penerbit tersebut, Kayla kembali menyibukkan diri untuk mencari tahu beberapa penerbit lain yang kira-kira akan mau melihat serta menerima naskah tulisan darinya. Selain mencari-cari di media cetak, ia tak lupa pula mencarinya di media online. Dan akhirnya, terkumpullah beberapa nama penerbit yang menurutnya bisa diperhitungkan. Semuanya dicatanya dengan rapi di note kecil berwarna biru yang selalu dibawanya. Dalam hati, Kayla meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Keesokan harinya, selepas sekolah, Kayla segera pulang ke rumah dan berganti pakaian. Tanpa menyempatkan diri untuk makan siang, ia bergegas meraih note kecil dari dalam tasnya. Dibukanya halaman terakhir yang bertuliskan daftar nama-nama penerbit yang sempat dicatatnya. Beberapa diantaranya dilengkapi dengan email serta kontak teleponnya. Dengan penuh kesabaran, Kayla menghubungi penerbit-penerbit tersebut satu persatu. Dikiriminya email kepada penerbit-penerbit tersebut, tanpa terkecuali, disertai dengan naskah tulisan yang juga dikirimkannya. Kayla berharap, diantara semuanya, akan ada yang mau menerima naskahnya.
 Beberapa hari kemudian, Kayla kembali mengecek emailnya. Belum ada satpun emailnya yang mendapatkan balasan. Dengan wajah yang lesu, diputuskannya untuk mengeceknya kembali seminggu kemudia. Tapi, hingga mencapai waktu sebulan tak juga salah satu dari penerbit-penerbit tersebut yang menerima naskahnya. Jikalau ada email balasan, hanya sekedar mengatakan bahwa naskah darinya masih perlu banyak diperbaiki lagi, belum layak terbit, dan berbagai macam alasan lainnya yang membuat semangat Kayla kadang surut. Dalam hati Kayla berucap.
“Sesusah itukah meraih impian?”
Dan, Kaylapun terlelap dalam tidurnya...
Ketika di sekolah, tanpa sengaja langkah Kayla terhenti di depan mading sekolah. Sebuah pengumuman berhasil menarik perhatiannya bagai sebuah magnet. Sebuah pengumuman yang tertulis di sebuah kertas berwarna coklat.
“Ikutilah. Perlombaan penulisan novel remaja dari salah satu penerbit terkemuka di Indonesia...... Tema karya bebas. Hadiah utama: Penerbitan karya novel bagi pemenang.....”
Seketika, nafasnya sesak. Kayla sangat gembira membacanya. Rasanya, seperti sebuah jalan terbuka lebar di hadapannya. Segera, ia catat hal-hal penting yang perlu diingat dalam perlombaan tersebut. Dan segera, ketika ia tiba di rumah, komputer menjadi kawan sejati yang akan menemaninya untuk beberap hari ke depan.
* * *
Hari pertamanya ingin memulai menulis naskah baru, Kayla sempat dibingungkan dalam perihal tema yang akan diangkatnya. Setelah berpikir-pikir, akhirnya ia menemukan sebuah ide yang muncul secara spontan ketika dengan tiba-tiba ia mengingat hal-hal yang selalu di lihatnya setiap hari, yakni senja di sore hari. Kayla memang sangat menyukai senja. Warna jingga yang berpadu dengan putihnya awan dan birunya langit mampu menyihirnya dan membuatnya terpukau. Meski pemandangan seperti itu hampir tiap hari dilihatnya. Dan, berawal dari ide tersebut, Kaylapun memulai tulisannya.
Kayla menghabiskan waktu 3 minggu untuk merampungkan naskah novelnya. Bukan perihal mudah memang, dalam menulis sebuah novel. Untung saja, syarat jumlah halaman yang dikehendaki dalam lomba tersebut tidak begitu banyak. Dan keesokan harinya, Kayla menyerahkan naskah novelnya ke pihak sekolah untuk diikutkan dalam lomba tersebut. Novel karyanya ia beri judul, Aksara Di Ujung Senja. Kayla diberitahu bahwa pengumumannya akan disampaikan 2 minggu kemudian.
Seminggu kemudian, tepat di hari pengumuman lomba tersebut, Kayla tak bisa hadir di sekolah karena harus menemani Ibunya berobat ke rumah sakit. Tapi, Kayla sudah meminta pada temannya Sandy untuk memberitahukannya pemenang lomba. Dengan penuh harap dan cemas, ia tiba di rumah dan menunggu kabar dari Sandy yang berjanji akan mengabarkan padanya setelah pulang sekolah. Dan benar, tak lama Kayla menunggu, Sandy akhirnya tiba di rumahnya dengan wajah yang sendu. Karena melihat ekspresi yang diberikan oleh temannya itu, Kayla sepertinya tahu akan hasil lombanya. Dan ia telah siap mendengar kenyataannya.
“Gimana San hasil lombanya? Pasti saya nggak menang ya? Sudah aku duga,” ucap Kayla dengan nada datar.
“Maaf ya Kay. Saya nggak kamu sedih mendengarnya. Soalnya..... kamu menang. Juara 1. Dan karyamu akan segera diterbitkan. Selamat ya Kayla. Akhirnya, impianmu terwujud.”
Belum sempat berkata apa-apa, air mata Kayla telah jatuh terlebih dahulu. Kayla bahkan tak sanggup mengucapkan terima kasih pada Sandy karena telah mengabarkannya. Yang ia tahu saat ini adalah impian terbesarnya telah terwujud.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...