Setiap perjalanan, akan menemui titik akhirnya. Apakah ini merupakan titik akhir dari perjalananku?
Kali ini, aku ingin menumpahkan sedikit ceritaku. Bukan tentang hati, galau, sedih, apalagi tentang cinta yang tak ada ujungnya. Namun, terlebih pada hidup dan masa depanku kelak.
Hari ini, kembali, satu dari temanku telah meraih gelar sarjananya. Ya, ia telah yudisium. Dan, itu sungguh membahagiakan tentunya. Hingga hari ini, telah 4 orang temanku yang telah mencapai titik itu. Terkecuali, dengan diriku. Perjalananku belum mencapai tahap itu. Aku masih harus berlari hingga bisa menyusul mereka. Syukur-syukur jika aku bisa cepat sampai tanpa ada hambatan di tengah jalan. Semoga...
Sebenarnya, bukan itu yang menjadi kegelisahan hatiku kali ini. Tapi, lebih kepada bagaimana aku nantinya jika telah mencapai tahap itu. Apa yang selanjutnya harus kuperbuat jika sudah sampai ke titik itu? Apakah merayakannya dengan suka cita? Aku tak tahu...
Hingga saat ini, aku selalu takut untuk cepat-cepat sampai ke titik itu. Takut dengan hal-hal yang akan kutemui di ujung jalan itu. Khawatir jika yang kudapati nantinya, akan membuatku resah dan justru sedih. Setidaknya, itu yang kurasakan. Bagaimana tidak? Ketercapaianku nantinya di tahap itu, justru bukan merupakan akhir dari perjuanganku. Dan begitupun dengan mereka. Tapi, aku tak tahu apakah mereka juga merasakan kekhawatiran seperti yang kurasakan sekarang.
Aku khawatir, jika sampainya aku disana, selanjutnya aku harus berbuat apa? Mungkin saja, ketika sampai disana, aku yang terlalu lelah akan berhenti dan tidak bisa kemana-mana. Tak punya tujuan lagi untuk meneruskan perjalanan. Atau, barangkali jika aku tiba disana, aku akan menemukan banyak jalan baru. Yang ketika aku putuskan untuk memilih salah satunya, ternyata itu bukan jalan yang tepat untukku. Atau yang lebih menakutkan lagi, tak ada jalan baru yang bisa kutempuh untuk membawaku ke dunia yang lebih hebat. Sungguh, aku sangat takut...
Mungkin, dari keluh kesahku, aku seperti orang pesimis yang takut menghadapi kenyataan dan tak mau mengambil resiko. Tidak, bukan seperti itu. Aku bukan bersifat pesimis, apalagi menyerah sebelum bertanding. Hanya saja, aku menyadari kemampuan diriku. Jika melihat orang-orang itu, mereka, yang memang memiliki kehebatan yang patut diakui, selalu membuatku merasa bahwa aku akan kalah. Aku tak punya kesempatan dan aku tak bisa. Bagaimana tidak? Selama di perjalanan saja, aku hanya menjadi orang yang biasa-biasa saja, tanpa ada hal yang membuat orang menyanjung namaku. Tanpa ada embel-embel kelebihan, apalagi kehebatan dalam diriku. Lantas, apa yang mesti aku perjuangkan untuk bekalku ke depan?
Aku takut, tak punya kesempatan seperti mereka, mereka yang memang kompeten dan bisa diperhitungkan. Aahh.... sedih rasanya menjadi seseorang yang mungkin akan teracuhkan kembali. Tapi, aku sudah memutuskan untuk berlari. Bahkan sedikit menambah kecepatanku. Setidaknya, walaupun aku bukan menjadi seseorang yang pertama menempuh garis finish, aku tidak menjadi seseorang yang hanya diam di garis start.
Kurasa, perjalananku kedepan akan lebih sulit dari hari ini. Dan aku siap akan hal itu. Bukankah, sebelum-sebelumnya aku telah merasakan itu? Bukankah, sedari dulu aku telah terlatih untuk itu? Semoga, semua itu akan membawaku pada 1 hal yang sedari dulu aku tuju....
(Dalam Catatan Senja)
03072015

Komentar
Posting Komentar