Surat
Mayra
Agak terlambat Dimas menyadari, bahwa
beberapa hari ini dia tak lagi menjumpai Mayra. Perempuan sederhana yang selalu
membuatnya merasakan keteduhan di waktu senja.
Dimas tak mengerti
kemana perginya sosok santun yang tak pernah lupa membawakannya secangkir teh
hangat kesukaannya untuk menghabiskan waktu sore di penghujung hari. Merasa
dirinya tak juga menemukan Mayra, Dimas uring-uringan. Seperti seorang anak
kecil yang kehilangan mainannya, Dimas tak tenang dan berjalan mondar-mandir
menelusuri koridor hotel.
“Apa kalian melihat
Mayra?”
Satu persatu orang yang
berpapasan dengannya ditanyainya. Tak terlewat satu orangpun yang luput dari
efek kecemasan Dimas terhadap ketidakberadaan Mayra kala itu.
“Ada yang tahu Mayra
ada dimana?”
“Kemana Mayra pergi?”
“Tolong beritahu aku
jika kalian melihat Mayra.”
“Mayra.......!!!!!!”
Perlahan semua mulai
gelap. Tubuh Dimas ambruk ke lantai.
Meski tak melihat apapun, Dimas masih sempat mendengar langkah kaki
orang-orang yang berlarian menuju ke arahnya. Dia merasakan tubuhnya diangkut
dan dibawa ke sebuah pembaringan. Dan, semuanya senyap.
***
Pagi itu, sisa-sisa
hujan semalam masih bertahan di kelopak bunga aster di pekarangan rumah Mayra.
Membuka kaca jendela perlahan, aroma petrichor
mulai mampir di indra penciumannya. Membuat Mayra tersenyum dan menarik napas
dalam-dalam sambil menutup mata. Mayra sangat menyukai hujan. Juga wangi petrichor yang ditinggalkannya.
Masih dengan mata
tertutup, Mayra mendengar pintu kamarnya di ketuk.
“Masuk aja Ma. Aku udah
bangun kok.”
Mayra selalu hapal
dengan kebiasaan Ibunya yang selalu membangunnya tiap pagi. Dan, usaha Ibunya
selalu gagal. Sebab Mayra selalu saja bangun lebih cepat ketimbang Ibunya.
“Mama keduluan terus
deh sama kamu.”
Mayra tersenyum ceria
saat Ibunya mencubit dengan lembut kedua pipinya yang tampak sedikit pucat.
“Mama udah nyiapin
sarapan, ayo kita makan.”
“Mama duluan aja, aku
mau ke kamar mandi dulu. Nanti aku nyusul.”
Belum sempat
benar-benar keluar kamar, Mayra sontak memeluk Ibunya dari belakang. Dia
berucap sebuah kalimat yang membuat Mamanya tersenyum.
“Aku selalu sayang sama
Mama.”
Dan sebuah kecupan
manis diberikan Mayra pada Ibunya.
Hari ini, Mayra hendak
menemui Dimas, laki-laki yang tekah dikenalnya sejak dua tahun terakhir. Dimas
mengajaknya untuk mengunjungi sebuah pameran lukisan yang diselenggarakan oleh
pelukis lokal asal Inggris. Tanpa ragu, Mayra pasti memenuhi ajakan Dimas, sebab
selain Dimas, diapun menyukai lukisan.
Sebuah panggilan di
ponselnya membuyarkan lamunan Mayra. Dimas meneleponnya.
“Halo Dim.”
“Halo Ra. Kamu sudah
siap? Aku jemput sekarang ya?”
“Iya Dim.”
Dan teleponpun ditutup.
Hubungan Mayra dan
Dimas sangat dekat. Bahkan Dimas tak bisa jika sehari saja tak mendengar suara
Mayra. Hal tersebut terkadang membuat Mayra khawatir, bahwa jika suatu saat dia
tak bisa lagi bersama dan menemani Dimas, apa yang akan terjadi dengan Dimas.
Laki-laki yang ia sayangi itu akan kehilangan separuh jiwanya.
Mengenakan dress berwarna biru pastel, Mayra sudah
berdiri di samping Dimas yang sedang membukakan pintu mobil, mengisyaratkan
kepada perempuan yang dicintainya untuk masuk ke dalam mobil. Dengan tersenyum,
Mayra masuk ke dalam mobil. Dimaspun melajukan kendaraannya.
Dua puluh menit
kemudian, mereka sampai di tempat pameran lukisan. Dari luar Mayra sudah bisa
menebak bahwa dia akan menemui sesuatu yang menakjubkan di dalam sana. Tak
perlu menunggu lama, mereka masuk ke dalam gedung pameran. Mayra tahu, bahwa
dia harus menikmati waktunya kali ini.
Semoga
ini bukan kebersamaan kita yang terakhir, Dim...
***
Perlahan, Dimas mulai
membuka matanya. Dia mendapati beberapa pelayan hotel serta empat orang pria
yang sepertinya merupakan tamu hotel berdir di sekitar tempat tidurnya, menatap
dengan wajah cemas. Kepalanya terasa sedikit pusing, mungkin itu akibat
benturan kecil ketika ia terjatuh sore tadi.
“Apa yang terjadi
denganku? Kenapa aku berbaring disini? Mana Mayra? Bukankah aku tadi sedang
mencarinya?”
Dimas terus saja
bertanya tanpa henti. Merasa tak satupun pertanyaannya terjawab, Dimas hendak
beranjak dari tempat tidurnya. Tubunya terasa tak bisa diseimbangkan karena
kepalanya yang pusing. Seorang pelayan hotel yang berdiri paling dekat dengan
Dimas berusaha memeganginya.
“Mas Dimas jangan
kemana-mana dulu. Mas masih belum sehat sepenuhnya.”
Salah satu pria yang
ada disitu mencoba mengingatkan Dimas.
“Aku ingin menemui
Mayra. Aku ingin mencarinya.”
Belum sempat dia pergi,
tiba-tiba Ibu Mayra datang. Dengan segera dia menanyakan keberadaan Mayra, yang
dalam beberapa hari belakangan tak bisa ditemuinya.
“Tante. Kebetulan Tante
ada disini. Tante pasti tahu dimana Mayra sekarang. Tolong bawa aku ke tempat
Mayra Tante. Aku sangat ingin bertemu dengannya.”
Tak satu katapun yang
keluar dari bibir Ibu Mayra. Sambil menatap wajah Dimas yang tampak pucat,
sebuah surat kecil yang digenggamnya dia berikan kepada Dimas. Namun,
sebelumnya, Ibu Mayra sempat mengatakan sebuah kalimat.
“Kamu harus jaga
kesehatanmu Dim. Mayra akan sangat sedih jika tahu kamu seperti ini.”
Dimas meraih surat yang
diberikan oleh Ibu Mayra, duduk di tempat tidurnya dan mencoba membuka isi
surat tersebut.
“Apa ini Tante? Surat
dari siapa?”
“Bacalah. Kamu akan mengetahuinya
sendiri.”
Perasaan Dimas kini
bercampur aduk. Dia tak tahu hal apa yang akan ia dapati ketika usai membaca
surat itu.
Menarik napas perlahan,
Dimas mulai membaca surat tersebut.
“Hai
Dim. Apa kabar? Kamu pasti sedang sibuk mencariku beberapa hari ini. Maafkan
aku ya. Tak pernah aku berniat untuk menjauhimu. Aku hanya tak ingin membuatmu
terluka. Meski memang, pada akhirnya kaupun akan terluka.
Setahun
lalu, aku mengetahui bahwa aku menyimpan sebuah penyakit mematikan di tubuhku.
Ya, aku mengidap kanker hati Dim. Sebuah penyakit yang paling aku takuti sejak
kecil. Tapi, akhirnya penyakit itu memilihku juga. Aku sangat takut saat itu.
bahkan ketakutanku membuatku tak berani memberitahu siapapun, termasuk pada
Ibuku.
Aku
mencoba untuk berjuang sendiri. Aku membuat diriku berani untuk menghadapi
penyakitku sendiri. Hingga aku lelah sendiri. Bukan lelah karena tak mampu,
tapi karena penyakit itu lebih kuat dari keberanianku. Dan puncaknya, penyakit
itu mulai memaksaku untuk melewati hari-hari dengan berbagai obat-obat dan bau
rumah sakit. Saat itulah, aku terpaksa harus menghilang dari sisimu. Menjauh
dari pandanganmu.
Jangan
marah, jika aku tak pernah mengatakan ini semua padamu. Aku hanya tak ingin
merepotkan dan membuatmu khawatir. Kupikir, aku hanya perlu melawannya sendiri
dan sembuh tanpa perlu kau tahu.
Tapi,
Tuhan punya rencanaNya sendiri. Sekuat apa aku berjuang, seberani apa aku
melawan. Akhirnya aku kalah juga. Aku kalah Dim.
Ya,
saat surat ini sampai padamu. Aku sudah tak ada lagi di dunia ini. Aku tak lagi
bisa menemanimu menghabiskan sore bersama. Aku tak lagi bisa memberikanmu
secangkir teh hangat kesukaanmu. Aku tak lagi bisa menemanimu merasakan derai
hujan yang membawa aroma petrichor. Aku tak lagi bisa Dim. Maafkan aku.
Semoga
kamu bisa menjalani hidupmu kemudian dan tak perlu memikirkan diriku lagi. aku
ingin kamu tetap bahagia. Kapanpun dan dimanapun.
Aku
mencintaimu, Dim....”

Komentar
Posting Komentar