Langsung ke konten utama

#MyCupOfStory

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen  #MyCupOfStory Diselenggrakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

INTUISI SECANGKIR KOPI
-Citra Larasari-

                              

“Sampai kapan kamu akan bersembunyi?”
Gadis berhijab itu sedang sibuk menyusun beberapa berkas kerjanya, hingga mendadak terhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Tampak Naya, teman sekamarnya  sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Tak ada jawaban, ia hanya melempar senyum kecil dan kembali melanjutkan kesibukannya.
“Ayolah, sudah saatnya kamu membuka jati dirimu. Banyak orang di luar sana yang mengagumi karya-karyamu, termasuk dia.”
“Biarkan waktu, dan secangkir kopi itu sendiri yang menentukan takdir kami Nay. Aku akan tetap menjadi si pelukis amatir yang bersembunyi dalam karyanya.”
“Baiklah, aku nggak bisa memaksamu. Kamu lebih tahu apa yang terbaik untukmu. Tapi, sekarang kita harus buru-buru ke kantor. Rapat sejam lagi akan dimulai,” ucap Naya.
 “Iya, iya. Ayo pergi.”

# # #

Suasana saat itu sedang ramai-ramainya, saat Anan mulai memasuki ruangan pameran lukisan yang dihadirinya. Banyak para kolektor-kolektor serta seniman-seniman besar yang hadir di acara tersebut. Kebanyakan dari mereka datang untuk memuaskan hasrat mereka tentang seni, khususnya lukisan. Hampir di setiap lukisan yang terpajang dipenuhi oleh beberapa orang yang sibuk mengamati dan menyelami keindahan serta makna yang tertuang di dalamnya.
Anan terus berjalan sambil mengarahkan kameranya ke arah lukisan-lukisan yang dilewatinya. Belum habis kekaguman Anan dengan keindahan-keindahan lukisan yang ada, hingga sebuah lukisan berhasil menarik perhatiannya dengan seketika. Lukisan itu tampak sendiri diantara kerumunan orang-orang juga lukisan-lukisan lain yang sama terpajang di dinding ruangan.
Sesekali tampak beberapa orang yang berhenti dan menyimak suasana yang berusaha si pelukis tampilkan dalam kanvasnya, dan Ananpun termasuk salah satunya. Namun, tak seperti yang lainnya, yang hanya berdiri sesaat, mengamati lantas beranjak dari hadapan lukisan itu untuk menikmati lukisan lain. Anan justru berdiri dan tertegun cukup lama. Ada kekagetan dan rasa heran yang tumbuh dalam kepalanya. Dari tempatnya berdiri, Anan merasakan dirinya masuk ke dalam lukisan itu. Ia merasa ada di dalam lukisan itu.
Sebuah gambaran sederhana yang melukiskan suasana sebuah kafe di sore hari. Seorang pria tampak sedang menyeruput secangkir kopi panas yang ada di hadapannya. Duduk di sebelah kirinya, seorang gadis dengan hijab berwarna biru, juga tengah memegang secangkir kopi yang sama. Hanya saja, wajah sang gadis tak begitu tampak. Sebab sang pelukis menggambarnya dengan posisi wajah mengarah ke arah jendela. Dari balik kaca jendela kafe, tergambar dengan jelasnya suasana senja yang sedang menyapa.
Lama Anan menatap lukisan tersebut. Perasaannya mulai tertahan, bahkan napasnya terasa sesak. Tiba-tiba saja, ingatannya terseret ke hari dimana ia sedang duduk menghabiskan sore hari di kafe kesukaannya.
“Ini tidak mungkin aku,” Anan mulai bergumam.
Kembali ia tatap wajah pria yang ada di lukisan itu. Dan kali ini Anan semakin yakin bahwa pria tersebut adalah dirinya.
“Tapi, siapa gadis ini? Bukankah waktu itu aku tak bersama siapapun?” tanya Anan dalam hati.
Masih terkurung dalam kebingungannya tentang lukisan tersebut, perhatiannya Anan akhirnya tertuju pada sebuah tanda pengenal dari si pelukis. Di sudut kanan dari lukisan tersebut, ada sebuah gambar secangkir kopi dengan ukuran yang sangat kecil disertai dua huruf bertuliskan SK. Anan langsung paham bahwa SK adalah inisial nama dari seseorang yang telah membuat lukisan tersebut.
Anan masih terpaku dalam kebingungannya, saat tiba-tiba saja ada suara yang terdengar olehnya.
“Akhirnya model dari lukisan ini datang juga.”
Segera dipalingkannya tatapan ke arah sumber datang suara. Seorang bapak tambun setengah baya berjalan menghampiri Anan. Dari pakaian yang dikenankannya, Anan segera tahu bahwa orang tersebut adalah petugas keamanan di tempat ini.
“Anda pasti bingung dengan lukisan ini? Dan juga bertanya-tanya mengapa anda bisa menjadi objek dari sang pelukis tanpa anda ketahui?” ucap bapak tersebut sembari tersenyum ramah.
“Bapak kenal dengan pemilik lukisan ini?” tanya Anan penuh antusias.
Tak langsung menjawab pertanyaan Anan, bapak tersebut mencoba menyampaikan sesuatu perihal lukisan tersebut.
“Ada alasan yang kuat mengapa sang pelukis memilih anda menjadi objek lukisannya. Sudah dua minggu sejak sang pemilik meletakkan lukisan ini di galeri pameran ini, hingga akhirnya hati anda tergerak untuk datang mengunjungi tempat ini dan sampai melihat lukisan ini.”
“Saya tidak paham maksud Bapak? Saya hanya ingin tahu siapa si pelukis yang telah membuat lukisan ini? Kenapa ia hanya mencantumkan gambar secangkir kopi dan huruf SK sebagai tanda pengenalnya? SK berbarti secangkir kopikah?” Anan terus bertanya.
Bapak tersebut kembali tersenyum dan menatap lukisan tersebut.
“Saya tahu siapa sosok di balik lukisan ini.”
“Katakan Pak, siapa dia? Apa dia adalah sosok gadis yang hadir dalam lukisan ini?”
“Justru kamu lebih mengenalnya dibandingkan aku anak muda. Aku tak bisa berlama-lama disini, aku harus segera mengawasi ruangan yang lain. Good luck untuk rasa penasaranmu, anak muda.” ucap pria tersebut dengan sedikit tersenyum lebar.
Dengan segera, bapak tersebut meninggalkan Anan yang hanya diam berdiri sembari berpikir dengan ucapannya. Membuat rasa penasaran Anan semakin menjadi.

# # #

Sore belum menampakkan dirinya, ketika pintu rumah diketuk sebanyak tiga kali. Merasa sedikit ragu, Kamel belum beranjak dari tempat ia membaca sebuah buku. Hingga ketukan itu kembali terdengar. Kali ini diiringi dengan ucapan merdu yang melantun sayup hingga sampai ke telinga Kamel.
“Assalamu’alaikum...”
Yakin bahwa benar-benar ada seseorang yang datang, ia segera berdiri dan meletakkan buku yang sedari tadi asyik dibacanya.
“Wa’alaikusalam...”
Dan pintupun terbuka.
“Hai Mel...” sapa Anan yang berdiri di hadapan Kamel.
“Anan.. ayo masuk,” ajak Kamel, dengan sedikit rasa senang yang tak disadari oleh Anan.
“Maaf ya kalau ganggu,” ucap Anan.
Mendadak tawa Kamel pecah mendengar ucapan Anan.
“Kayak kamu baru sekali aja datang kesini secara mendadak. Aku udah hapal dengan kebiasaan kamu Nan. Pake basa-basi lagi.”
Dan Kamelpun mempersilahkan Anan masuk.
“Naya mana?” tanya Anan.
“Dia lagi ke rumah Ayahnya. Katanya Ayahnya sedang sakit.”
 “Oh. Kalo gitu aku titip salam. Semoga Ayahnya lekas sembuh.”
“Btw, aku belum bisa menemukan dia Mel. Aku harus cari dia kemana lagi nih? Sumpah, aku penasaran banget dengan si gadis secangkir kopi itu,” sambung Anan.
“Memangnya kamu penasaran banget ya dengan si pelukis itu?” tanya Kamel.
“Ya iyalah Mel. Aku yakin banget hari itu dia ada disana, sedang mengamati aku dan melukisku secara diam-diam. Siapa sih dia?” wajah Anan penuh tanda tanya.
“Ya mana aku tahu. Kamu cari tahu dong. Mana bakat detektifmu. Jangan cuma dipake buat cari tahu mantan-mantan kamu yang udah pada move on,” ucap Kamel dengan kesal.
Merasa disindir, Anan tiba-tiba memberi cubitan kecil di wajah Kamel. Kamelpun merasa geram dengan kebiasaan Anan yang selalu saja menyakiti pipi mungilnya dengan mencubitinya. Obrolan merekapun terus berlanjut sambil ditemani dua cangkir kopi buatan Kamel. Ya, baik Anan maupun Kamel begitu menyukai kopi. Mungkin sama seperti si pelukis dengan inisial SK tersebut.

# # #

Malam terasa begitu senyap, saat ia tersenyum manis sambil menuangkan sebuah ingatan ke dalam kanvas kesayangannya. Masih dengan tokoh yang sama seperti lukisan sebelum-sebelumnya, ia berhasil menarik perasaannya dan membuatnya menjadi sebuah lukisan yang begitu dalam. Di sudut kanan bawah hasil karyanya, tak lupa ia bubuhi gambar secangkir kopi dan tulisan SK sebagai tanda pengenalnya.
“Seharusnya kamu tahu siapa aku...”
Dan malampun semakin larut di dalam perasaannya sendiri.
Keesokan hari...
“Lukisan baru lagi Mbak?” tanyak bapak tambun petugas keamanan galeri lukisan tempat lukisan-lukisannya biasa dipamerkan.
“Eh, Bapak. Iya. Tolong dijaga baik-baik ya Pak.”
“Dia terus mencari-cari Mbak. Sepertinya dia benar-benar penasaran dengan seseorang di balik lukisan ini.”
“Saya tahu Pak. Tapi biarkan waktu dan secangkir kopi itu yang memberitahunya. Aku pamit dulu Pak.”
Dan iapun berlalu meninggalkan petugas keamanan tersebut yang tersenyum mendengar ucapannya.

# # #

Kamel merasa tiba-tiba saja ingin menikmati secangkir kopi kesukaannya di kafe langganannya. Dengan segera ia memacu kendaraannya menuju kafe tersebut. suasana kafe saat itu tak begitu ramai, mungkin karena cuaca hari itu cukup terik. Kebanyakan orang akan lebih memilih suasana yang mendung atau bahkan malam hari untuk datang ke kafe itu dan menyeruput secangkir kopi hangat. Sebab kenikmatan dan kehangatan yang dihadirkan akan lebih terasa.
Tapi tidak dengan Kamel, juga Anan. Mereka berdua adalah penikmat kopi. Terlebih kopi khas dari negara mereka sendiri, negara Indonesia. Hal itu pula yang membuat Kamel dengan segera menghubungi Anan untuk datang dan menemaninya siang itu.
Hingga setengah jam kemudian, Ananpun sampai dan segera menuju ke meja Kamel. Sejak pertama kali mereka datang ke kafe tersebut, Kamel selalu memilih meja yang berhadapan langsung dengan jendela kafe. Bagaimana tidak, Kamel sangat suka melihat pemandangan bunga-bunga yang terhampar di halama kecil di balik jendela kafe itu. Apalagi jika senja mulai datang,  Kamel merasa itu adalah waktu paling berharga dalam hidupnya. Melihat bunga-bunga indah yang sedang bermekaran tersirami sinar temaran senja yang hendak pulang menjemput malam.
Tapi seperti yang sudah-sudah, saat Anan tiba disana, meja tempat Kamel minum selalu saja masih kosong. Hanya dua buah cangkir kopi dan sebuah buku milik Kamel yang tergeletak di atas meja. Menjadi tanda bahwa Kamel telah datang lebih dulu. Dan lima belas menit kemudia ia datang sambil mengucapkan kalimat yang sudah dihapal dengan baik oleh Anan.
“Maaf ya, aku dari toilet,” ucap Kamel sambil menggenggam sebuah buku kecil di tangan kanannya.
“Udah tahu Mel,” ucap Anan sambil meraih kursi hendak duduk.
“Yang aku herankan, kamu selalu saja membawa serta buku kesayanganmu itu. bahkan ke toilet sekalipun,” lanjut Anan.
“Gimana? Udah ketemu sama si gadis pelukis itu?” tanya Kamel sambil meraih secangkir kopi miliknya tanpa menjawab ucapan Anan.
“Belum Mel. Dan kamu tahu nggak. Hari ini saat aku ke galeri lukisan itu, dia kembali memajang lukisan barunya. Dan kamu bisa tebak siapa yang kembali ada di lukisannya.”
“Kamu.”
“Ya, benar banget. Maksud dia apa coba? Mau diam-diam jadi penguntit? Atau jadi pengagum rahasia? Lucu sekali.”
“Mungkin saja dia belum berani muncul di hadapanmu Nan.”
“Entahlah, aku tidak tahu.”
Dan siang itupun berlalu dengan cepatnya. Hampir dua jam mereka duduk dan saling bertukar cerita di kafe itu. Hingga tiba-tiba telpon milik Kamel berdering. Kamelpun menjawab telponnya.
“Kayaknya aku harus buru-buru ke kantor nih, Nan. Ada rapat mendadak. Sejam lagi harus dimulai.”
“Oh. Gitu ya. Ya udah, aku juga udah mau balik nih. Kopinya juga udah habis.”
“Oke. Bye,” ucap Kamel dengan buru-buru.
Tanpa sadar, Kamel melupakan sebuah buku kesayangannya di atas meja kafe dan berlalu begitu saja dari hadapan Anan. Belum sempat Anan pergi, hingga iapun melihat buku tersebut dan menyadarinya.
“Kamel...Kamel,” ucap Anan sambil menggelengkan kepalanya.
Ananpun meraih buku tersebut dan hendak memasukkannya ke dalam tas miliknya, hingga rasa penasaranpun muncul dibenaknya. Ananpun membuka lembar demi lembar dari buku tersebut. Pada salah satu lembar buku tersebut, dengan jelas dilihatnya dirinya yang sedang duduk menunggui seseorang sambil mengaduk-ngaduk secangkir kopi. Dan, di sudut kanan gambar tertera tulisan SK dan juga secangkir kopi yang dikenalnya.
SK
Secangkir Kopi.
Sheila Kamel
Dan, saat itu juga udara terasa begitu sesak baginya...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...