Langsung ke konten utama

KEMISKINAN... APA ALAT PENGHAPUSNYA?????



Berbicara mengenai kemiskinan, sepertinya memang tak pernah ada habisnya. Banyak hal yang harus dibahas dan dilakukan jika menyinggung hal yang satu ini. Tidak hanya khusus untuk para petinggi-petinggi kita, tapi juga seakan menjadi beban moral untuk diri kita pribadi. Kemiskinan itu sendiri seakan menjadi permasalahan yang seakan-akan tak pernah usai teratasi, khususnya di negara kita ini. Untuk negara yang bisa dikategorikan negara berkembang ini, Indonesia memiliki permasalah kemiskinan yang sudah melekat kuat sejak dulu. Seakan-akan tak pernah ada sosok pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah kemiskinan di negara ini secara menyeluruh.

Jika kita melihat realita yang terjadi sekarang, dengan sangat jelas tergambar bagaimana terpuruknya negara kita ini jika membahas mengenai kemiskinan. Meskipun jika ingin membandingkannya dengan negara yang lain yang juga mungkin mengalami masalah yang sama, sebenarnya negara kita masih dapat dikatakan mencukupi. Namun, kita justru tidak bisa memanfaatkan apa yang ada di dalam negeri kita tercinta ini. Sistem demokrasi kita, sejak dulu hingga sekarang ini sepertinya seakan-akan hanya menjadikan para orang miskin menjadi media penerima sedekah dan sumbangan semata, tanpa adanya usaha untuk membudidayakan para orang yang tidak mampu tersebut untuk dapat bekerja demi keluar dari belenggu kemiskinan tersebut. Sistem di negara kita ini seperti hanya memproduksi orang kaya dalam jumlah yang sedikit dan para orang miskin dalam jumlah yang banyak. Dalam dunia nyata, faktanya para orang kaya hidupnya semakin hari semakin kaya sedangkan para pelaku orang miskin justru semakin melarat atau tidak pernah mengalami perkembangan dari kehidupannya.

Kenyataan tersebut diperparah lagi dengan minimnya pendidikan yang dienyam oleh para orang miskin. Sudah miskin harta, miskin ilmu pula. Hal inilah yang juga menyebabkan kemiskinan tak pernah ada usainya, terlebih penanaman pendidikan agama yang sebenarnya dapat menjadi tonggak penegak bergeraknya seseorang untuk menjadi lebih baik, justru juga ikut minim. Banyak sudah sistem demokrasi para pemimpin-pemimpin kita yang menjanjikan adanya pendidikan gratis bagi orang-orang yang tidak mampu. Namun, dapat kita lihat fakta yang terjadi di lapangan, hal tersebut hanya dapat terealisasikan secara sebagian. Maksudnya, hal tersebut hanya berlaku atau diterapkan pada sebagian daerah saja, sebagian sekolah saja, sebagian orang saja, dan lainnya. Tidak semua yang dapat merasakannya. Masih begitu banyak anak-anak jalanan di luar sana yang sangat ingin merasakan yang namanya duduk di bangku sekolah, berada di dalam kelas, berkumpul bersama dengan teman-teman, guru, dan lainnya, namun hal tersebut seakan hanya impian yang bersifat semu belaka. Seakan merasakan masuk ke sekolah adalah suatu impian yang sangat susah untuk dicapai. Namun, disisi lain, begitu banyak anak-anak orang mampu yang justru menyia-nyiakan kesempatan yang ia miliki hanya karena malas ke sekolah. Atau merasa bahwa sekolah tak lagi memiliki peran apa-apa untuknya, secara orang tua mereka adalah orang tua yang memiliki segalanya.

Lantas apa yang harus dilakukan??? Apa sebenarnya solusi yang terbaik untuk mengentaskan yang namanya “kemiskinan”..?? Dalam Islam sendiri, Allah SWT. telah menyeru kepada para umatnya untuk selalu berusaha dan bekerja dalam memenuhi kehidupannya. Allah sungguh sangat tidak menyukai para hambanya yang bermalas-malasan. Bukankah telah jelas dalam firmannya : “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah keadaannya”. Firman tersebut jelas tertuju kepada kita agar senantiasa selalu berusaha memperbaiki keadaan kita dan tidak semata-mata menerima takdir dan nasib yang telah ada. Satu hal terpenting yang juga dapat membantu seorang manusia dalam mengubah kehidupanya adalah dengan adanya ilmu pengetahuan. Karena sekiranya tanpa ilmu pengetahuan, niscaya seorang manusia tidak dapat berbuat apa-apa dalam hidupnya. Dalam sebuah hadits telah dijelaskan : “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu beberapa derajat”.

Itu  jika kita tinjau dari segi agama. Bagaimana dari segi ilmu pengetahuan?? Apa solusi terbaik untuk mengentaskan kemiskinan?? Dalam sebuah buku yang berjudul Chairul Tanjung si Anak Singkong, CT menjelaskan bahwa satu kata kunci dalam mengatasi perrmasalahan yang berkaitan dengan kemiskinan tersebut yakni “penguasaan aset”. Beliau menjelaskan bahwa pengertian aset disini bukan hanya sekedar menyangkut uang ataupun tanah, namun juga menyangkut aset ekonomi, teknologi, dan lainnya. Idenya adalah sebagai seorang yang memiliki jabatan yang lebih tinggi dan punya peran, harus dapat membuat semua orang diberi kesempatan yang sama. Jangan hanya orang kaya saja yang pintar dan diberi akses. Jangan justru orang miskin, yang sudah jelas-jelas tak memiliki banyak harta benda justru semakin bertambah parah kemiskinannya hanya karena anak-anaknya tidak memiliki pendidikan. Hanya karena dia miskin, hingga tak ada mobilisasi vertikal dari keluarga miskin, padahal siapa tahu saja anaknya memiliki bakat yang luar biasa.

Sebenarnya, bukanlah para pelaku pemimpin yang harus disalahkan atas permasalah ini. Bukan juga para orang miskin tersebut yang patut di cemooh karena lahir dalam keadaan seperti itu. Tapi, sistem yang digunakan dalam negeri ini untuk mengentaskan kemiskinan yang  harus dibenahi kembali. Harus ada pemikiran ulang mengenai distribusi penyelesaian kemiskinan tersebut. Dan sekali lagi, kunci utama yang dapat menjadi penentunya adalah pendidikan. Dan dapat diyakini, semua orang akan setuju dengan hal tersebut. Karena, sudah banyak kita dapati bukti-bukti yang terjadi di dunia nyata, seseorang yang awalnya tak memiliki apa-apa justru dapat berubah 180 derajat dari keadaannya menjadi sangat sukses hanya karena satu hal, yakni memiliki ilmu dan pendidikan.

Utang dan tanggung jawab para pengatur sistem demokrasi kita adalah harus dapat memberantas kemiskinan, karena hal ini merupakan fenomena zaman kolonial. Jadi, jika sudah merdeka tapi lantas masih ada yang namanya kemiskinan, maka sadar atau tidak, berarti kita masih menerukan pola struktur ekonomi zaman kolonial, karena negara kita sungguh sangat kaya luar biasa. Bagaimana bisa ada negara seperti Indonesia, yang para rakyatnya masih merasakan yang namanya kemiskinan padahal memiliki kekayaan yang mampu menghasilkan panen 2  hingga 3 kali dalam setahun. Sebuah negeri yang sepanjang tahun disinari matahari. Terdapat begitu banyak tambang yang seolah meminta untuk diambil. Memiliki lautan luas yang terdapat begitu banyak ikan pantai dengan ukuran yang begitu beragam. Dengan kondisi seperti itu, mengapa justru negara kita masih merasakan kemiskinan??

Demokrasi kita haruslah berbasis demokrasi kerakyatan, bukan hanya sekedar demokrasi prosedural untuk pengumpulan suara dengan sogokan yang kemudian memilih hanya karena alasan ekonomi ketimbang adanya kesadaran individu yang aktif. Dan ini berarti nilai kehormatan suatu sistem demokrasi hanya dapat diukur dengan rupiah saja. Sungguh sangat memprihatinkan.


                                 By. Citra Larasari

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...