Berbicara mengenai
kemiskinan, sepertinya memang tak pernah ada habisnya. Banyak hal yang harus
dibahas dan dilakukan jika menyinggung hal yang satu ini. Tidak hanya khusus
untuk para petinggi-petinggi kita, tapi juga seakan menjadi beban moral untuk
diri kita pribadi. Kemiskinan itu sendiri seakan menjadi permasalahan yang
seakan-akan tak pernah usai teratasi, khususnya di negara kita ini. Untuk negara
yang bisa dikategorikan negara berkembang ini, Indonesia memiliki permasalah
kemiskinan yang sudah melekat kuat sejak dulu. Seakan-akan tak pernah ada sosok
pemimpin yang mampu menyelesaikan masalah kemiskinan di negara ini secara
menyeluruh.
Jika kita melihat
realita yang terjadi sekarang, dengan sangat jelas tergambar bagaimana
terpuruknya negara kita ini jika membahas mengenai kemiskinan. Meskipun jika
ingin membandingkannya dengan negara yang lain yang juga mungkin mengalami
masalah yang sama, sebenarnya negara kita masih dapat dikatakan mencukupi.
Namun, kita justru tidak bisa memanfaatkan apa yang ada di dalam negeri kita
tercinta ini. Sistem demokrasi kita, sejak dulu hingga sekarang ini sepertinya
seakan-akan hanya menjadikan para orang miskin menjadi media penerima sedekah
dan sumbangan semata, tanpa adanya usaha untuk membudidayakan para orang yang
tidak mampu tersebut untuk dapat bekerja demi keluar dari belenggu kemiskinan
tersebut. Sistem di negara kita ini seperti hanya memproduksi orang kaya dalam
jumlah yang sedikit dan para orang miskin dalam jumlah yang banyak. Dalam dunia
nyata, faktanya para orang kaya hidupnya semakin hari semakin kaya sedangkan
para pelaku orang miskin justru semakin melarat atau tidak pernah mengalami
perkembangan dari kehidupannya.
Kenyataan tersebut
diperparah lagi dengan minimnya pendidikan yang dienyam oleh para orang miskin.
Sudah miskin harta, miskin ilmu pula. Hal inilah yang juga menyebabkan
kemiskinan tak pernah ada usainya, terlebih penanaman pendidikan agama yang
sebenarnya dapat menjadi tonggak penegak bergeraknya seseorang untuk menjadi
lebih baik, justru juga ikut minim. Banyak sudah sistem demokrasi para
pemimpin-pemimpin kita yang menjanjikan adanya pendidikan gratis bagi orang-orang
yang tidak mampu. Namun, dapat kita lihat fakta yang terjadi di lapangan, hal
tersebut hanya dapat terealisasikan secara sebagian. Maksudnya, hal tersebut
hanya berlaku atau diterapkan pada sebagian daerah saja, sebagian sekolah saja,
sebagian orang saja, dan lainnya. Tidak semua yang dapat merasakannya. Masih
begitu banyak anak-anak jalanan di luar sana yang sangat ingin merasakan yang
namanya duduk di bangku sekolah, berada di dalam kelas, berkumpul bersama
dengan teman-teman, guru, dan lainnya, namun hal tersebut seakan hanya impian
yang bersifat semu belaka. Seakan merasakan masuk ke sekolah adalah suatu
impian yang sangat susah untuk dicapai. Namun, disisi lain, begitu banyak
anak-anak orang mampu yang justru menyia-nyiakan kesempatan yang ia miliki
hanya karena malas ke sekolah. Atau merasa bahwa sekolah tak lagi memiliki peran
apa-apa untuknya, secara orang tua mereka adalah orang tua yang memiliki
segalanya.
Lantas apa yang harus
dilakukan??? Apa sebenarnya solusi yang terbaik untuk mengentaskan yang namanya
“kemiskinan”..?? Dalam Islam sendiri, Allah SWT. telah menyeru kepada para
umatnya untuk selalu berusaha dan bekerja dalam memenuhi kehidupannya. Allah
sungguh sangat tidak menyukai para hambanya yang bermalas-malasan. Bukankah
telah jelas dalam firmannya : “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
sampai kaum itu sendiri yang mengubah keadaannya”. Firman tersebut jelas
tertuju kepada kita agar senantiasa selalu berusaha memperbaiki keadaan kita
dan tidak semata-mata menerima takdir dan nasib yang telah ada. Satu hal
terpenting yang juga dapat membantu seorang manusia dalam mengubah kehidupanya
adalah dengan adanya ilmu pengetahuan. Karena sekiranya tanpa ilmu pengetahuan,
niscaya seorang manusia tidak dapat berbuat apa-apa dalam hidupnya. Dalam
sebuah hadits telah dijelaskan : “Allah akan mengangkat derajat orang-orang
yang berilmu beberapa derajat”.
Itu jika kita tinjau dari segi agama. Bagaimana
dari segi ilmu pengetahuan?? Apa solusi terbaik untuk mengentaskan kemiskinan??
Dalam sebuah buku yang berjudul Chairul Tanjung si Anak Singkong, CT
menjelaskan bahwa satu kata kunci dalam mengatasi perrmasalahan yang berkaitan
dengan kemiskinan tersebut yakni “penguasaan aset”. Beliau menjelaskan bahwa pengertian
aset disini bukan hanya sekedar menyangkut uang ataupun tanah, namun juga
menyangkut aset ekonomi, teknologi, dan lainnya. Idenya adalah sebagai seorang
yang memiliki jabatan yang lebih tinggi dan punya peran, harus dapat membuat
semua orang diberi kesempatan yang sama. Jangan hanya orang kaya saja yang
pintar dan diberi akses. Jangan justru orang miskin, yang sudah jelas-jelas tak
memiliki banyak harta benda justru semakin bertambah parah kemiskinannya hanya
karena anak-anaknya tidak memiliki pendidikan. Hanya karena dia miskin, hingga
tak ada mobilisasi vertikal dari keluarga miskin, padahal siapa tahu saja anaknya
memiliki bakat yang luar biasa.
Sebenarnya, bukanlah
para pelaku pemimpin yang harus disalahkan atas permasalah ini. Bukan juga para
orang miskin tersebut yang patut di cemooh karena lahir dalam keadaan seperti
itu. Tapi, sistem yang digunakan dalam negeri ini untuk mengentaskan kemiskinan
yang harus dibenahi kembali. Harus ada
pemikiran ulang mengenai distribusi penyelesaian kemiskinan tersebut. Dan
sekali lagi, kunci utama yang dapat menjadi penentunya adalah pendidikan. Dan
dapat diyakini, semua orang akan setuju dengan hal tersebut. Karena, sudah
banyak kita dapati bukti-bukti yang terjadi di dunia nyata, seseorang yang
awalnya tak memiliki apa-apa justru dapat berubah 180 derajat dari keadaannya
menjadi sangat sukses hanya karena satu hal, yakni memiliki ilmu dan
pendidikan.
Utang dan tanggung
jawab para pengatur sistem demokrasi kita adalah harus dapat memberantas
kemiskinan, karena hal ini merupakan fenomena zaman kolonial. Jadi, jika sudah
merdeka tapi lantas masih ada yang namanya kemiskinan, maka sadar atau tidak,
berarti kita masih menerukan pola struktur ekonomi zaman kolonial, karena
negara kita sungguh sangat kaya luar biasa. Bagaimana bisa ada negara seperti
Indonesia, yang para rakyatnya masih merasakan yang namanya kemiskinan padahal memiliki
kekayaan yang mampu menghasilkan panen 2
hingga 3 kali dalam setahun. Sebuah negeri yang sepanjang tahun disinari
matahari. Terdapat begitu banyak tambang yang seolah meminta untuk diambil.
Memiliki lautan luas yang terdapat begitu banyak ikan pantai dengan ukuran yang
begitu beragam. Dengan kondisi seperti itu, mengapa justru negara kita masih
merasakan kemiskinan??
Demokrasi kita
haruslah berbasis demokrasi kerakyatan, bukan hanya sekedar demokrasi prosedural
untuk pengumpulan suara dengan sogokan yang kemudian memilih hanya karena
alasan ekonomi ketimbang adanya kesadaran individu yang aktif. Dan ini berarti
nilai kehormatan suatu sistem demokrasi hanya dapat diukur dengan rupiah saja.
Sungguh sangat memprihatinkan.
By.
Citra Larasari

Komentar
Posting Komentar