TAK ADA BEASISWA, HADIAHPUN JADI
“Tenang…
pokoknya kalau kamu lulus masuk disana, ibu yang akan mengurus semuanya”.
Kata-kata itu terus terngiang di kepalaku hingga saat ini, saat jenjang
kuliahku sedah menjajaki semester kedua. Saat status MaBa tak lagi tersanding
pada diriku. Kata-kata yang dulunya dengan semangat serta perhatian guruku
ucapkan dan lontarkan padaku sebagai penyemangat untukku mengikuti sarannya.
Namun, berbeda dengan yang terjadi dilapangan. Ucapan yang di tujukan padaku
dulu saat aku masih berada di kelas dengan seragam lengkap khas sekolahku, yang
aku rasa akan menjadi tonggak penolongku di dunia kampus nantinya. Karena siapa
yang tak tahu bahwa kerasnya dunia kampus begitu menyakitkan, terlebih jika
sudah berurusan dengan masalah finansial. Tak ada seorangpun yang ingin
menghadapi hal tersebut, terlebih lagi diriku, yang hanya anak seorang tukang
jahit dan pedagang kaki lima. Namun, itulah yang membuatku bangga pada kedua
orang tuaku. Terlebih pada ibuku, yang memiliki semangat juang serta kerja
keras yang tinggi untuk menyekolahkan anak-anaknya. Namun, sampai saat ini,
janji yang diucapkan oleh guruku tak kunjung terbukti adanya. Berkali-kali aku
menyakan tentang hal tersebut, namun yang keluar dari mulutnya hanyalah nanti,
nanti dan nanti. Hingga akupun merasa segan untuk terus menanyakannya lagi.
Akupun berusaha untuk sabar dan tak lagi menanyakan serta mencoba untuk
melupakan hal tersebut.
Semester
2 hampir berakhir. Biasanya, pada akhir-akhir semester seperti ini, pengurusan
beasiswa terbaru kembali terbuka. Akupun segera mencari-cari info di berbagai
tempat di kampus yang sekiranya dapat member peluang bagiku untuk bias
mendpatkannya. Seminggu aku mencarinya, namun hasilnya belum nampak juga.
Minggu berikutnya, kembali aku berusaha untuk mendapatkannya, tapi hasilnya
tetap sama. Suatu saat, ketika aku bertanya pada salah satu pengurus yang
mengkin saja mengetahui mengenai hal ini, dia berkata sesuatu yang sedikit
membuka harapan bagiku “biasanya kalau tanggal begini belum ada de, mungkin
sekitar bulan depan baru pengurusannya ada”. Kala itu, aku merasa ada setitik
harapan yang ada buatku, Walaupun aku sendiripun tak yakin, namun hal itu
cukuplah membuatku dapat tenang sejenak.
Bulan
berikutnya yang telah dijanjikan. Aku baru saja berniat untuk menuju ruang
kelas ketika langkahku terhenti tepat di depan papan mading di depan kelasku.
Denga seksama aku membaca salah satu pengumuman yang tertera pada mading
tersebut. Dengan menggunakan ukuran kertas yang cukup besar, suatu pengumuman
penting tertulis disana. Pengumuman yang membuatku seakan ingin jatuh
tersungkur ke tanah dengan segera. Di kertas pengumuman tersebut tertulis
dengan sangat jelas bahwa “berikut nama-nama calon penerima beasiswa BBM dan
PPA untuk tahun ajar 2011/2012. Bagi nama-nama yang telah tercantum di bawah
ini diharap segera melengkapi syarat administrasi yang diperlukan”. Sontak
setelah selesai membaca itu, hatiku segera dirundung kabut yang begitu
gelap. Segelap kabut di langit sore saat
hujan deras akan melanda. Aku benar-benar tak menyangka bahwa mereka dengan
mudahnya mendapatkan beasiswa yang aku sendiri sejak beberapa bulan lalu telah
berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya namun tak kunjung bisa.
Segera setelah membaca pengumuman tersebut,
aku segera bergegas pulang kerumah tanpa jadi memasuki kelas yang tadinya akan
aku tuju. Di rumah, aku segera menuju kamar dan menjatuhkan diriku di atas
pembaringan sambil mengeluarkan semua perasaan yang sejak tadi aku tahan sedari
tadi di kampus. Dengan disertai deraian air mata yang begitu deras, aku
mengeluh kepada Tuhan sembari berkata “kenapa Tuhan, apa salahku sampai tak Kau
berikan aku beasiswa tersebut. Engkau yang lebih tahu bagaimana kerasnya
usahaku untuk bisa mendapatkannya. Tapi apa yang aku terima, justru teman-temanku
yang tak pernah berusaha serta tak pernah berharap untuk mendapatkannya justru
Engkau berikan. Apa sebenarnya yang Engkau rencanakan untuk aku?”. Semua emosiku
tertumpah saat itu juga, sampai-sampai aku sendiri tak tak sadar telah terlelap
dalam pengaduanku tersebut.
Waktu
terus berjalan tanpa ada sesuatupun yang dapat menahannya. Begitupun juga
dengan diriku. Hal yang telah terjadi tersebut sedikit-sedikit telah dapat aku
lupakan. Aku sudah bisa menerima dengan ikhlas serta lapang dada mengenai
beasiswa tersebut. Mungkin memang bukan saatnya aku menerimanya. Masih ada rencana Allah yang
lainnya yang mungkin lebih baik dari pada ini. Aku hanya bisa tawakkal serta
menyerahkan semuanya kepada-Nya.
Tak
terasa aku telah berada pada semester 3. Untuk jurusan yang aku ambil, semester
ini merupakan semester yang memiliki jadwal mata kuliah yang cukup padat. Saat
ini telah memasuki bulan keempat pada semester 3. Praktikum juga sudah mulai
dilakukan. Ketika berada di kampus, aku dikejutkan oleh suara temanku yang
berteriak dengan sangat keras ke arahku “Icha…… kamu ikut perlombaan debat Mipa
ya?? Lombanya akan diadakan sebulan lagi, jadi kamu harus persiapkan dirimu
semaksimal mungkin untuk lomba ini, Ok.” ucap Ari dengan nada yang penuh
semangat. Sontak aku pun membalasnya dengan ucapan yang juga sedikit tinggi “Tunggu,,tunggu,,tunggu.
Kok tiba-tiba begini sich?? Terus gak ada yang beritahu aku juga, kok langsung
main daftarin nama aja sich?? Kalau aku gak mau gimana hayoo??”. Aripun
menjawab dengan lantangnya “oohh.. jadi kamu juga gak mau dong dapat kesempatan
buat menangin hadiahnya. Hadiahnya lumayan besar loh,, 1 juta untuk pemenang
pertama. Gimana, masih tetap gak mau nich??”. Kalimat yang barusan saja
diucapkan oleh Ari segera membuatku tersenyum dengan sangat lebar sembari
berkata padanya “Mau…mau..mau.. kenapa gak bilang dari tadi kalau hadiah nya
sebanyak itu.. hehehe…”. Dalam hati aku berkata bahwa ini adalah sebuah
kesempatan yang rak boleh aku lewatkan begitu saja. Aku harus mencobanya.
Waktu
yang telah ditunggu-tunggupun akhirnya tiba juga. Perlombaan dimulai dengan
jumlah peseta sekitar 15 orang untuk babak penyisihan. Alhamdulillah, aku masih
masuk ke tahap selanjutnya. Teriakan serta dukungan dari para teman-temanku
terus terdengar menambah semangaku untuk dapat terus melaju ke tahap
berikutnya. Tahap demi tahap satu
persatu para peserta gugur. Sehingga sampailah kami pada tahap final, dan salah
satu orang yang masih berdiri tegak hingga ke tahap ini adalah diriku. Akupun
tak mengira bahwa aku akan sampai jauh ke tahap ini. Padahal jika dibandingkan
dengan lainnya, sepetinya kemampuanku juga masih terbilang standar. Selama
babak final berlangsung, terlihat wajah-wajah ketegangan dari para peserta yang
tersisa, tak terkecuali diriku. Aku sungguh sangat berharap jika aku dapat
menjadi pemenangnya. Karena hadiah yang akan aku dapatkan sungguh sangat dapat
membantu orangtuaku. Dan harapan tersebutpun terkabul, aku terpilih sebagai
pemenang dalam perlombaan ini. Seperti menerima durian runtuh dengan ukuran
yang sangat besar. Begitupun yang aku rasakan sekarang ini. Tak ada 1 katapun
yang dapat aku katakan selain ucapan syukur Alhamdulillah kepada Allah, karena
berkatnya pula aku dapat meraih ini semua. Kala hati aku tersadar, inilah yang
sebenarnya Dia ingin berikan padaku. Dibandingkan dengan lalu, Allah lebih
senang memberikan hadiah ini padaku. Maafkanlah diriku yang sempat merasa bahwa
Engkau telah berlaku tak adil padaku kala itu. Janji manis Tuhan memang tak
akan pernah salah dan jatuh pada orang yang salah. Terus berusaha dan kita akan
mendapatkan apaun yang kita inginkan sesuai dengan usaha yang kita lakukan.
Komentar
Posting Komentar