(Ingin) Bercerita Padamu
Ketika
menuliskan ini, aku benar-benar tidak
tahu apa yang muncul di benakku. Kau selalu tahu dengan pasti kan, bahwa aku
bukan seorang yang berani curhat dan menceritakan segala apa yang sedang aku
rasa pun alami pada orang lain. Dan, jika sedang ingin melakukan itu, maka yang
bisa aku perbuat hanyalah menumpahkannya pada sebuah tulisan seperti ini. Ya,
rasanya aku akan merasa lega dan plong ketika mencurahkan semuanya, yang
sejatinya ingin aku sampaikan pada seseorang. Termasuk kamu.
Seperti
saat ini. Sekarang tepat pukul 23:54 di hari Jumat tanggal 22 Januari 2016,
ketika aku mulai menuliskan kata demi kata dalam tulisan ini. Sudah mulai larut
bukan? Mungkin, jika sekarang aku sedang berkirim pesan padamu, kau pasti sudah
menyuruhku untuk segera tidur. Tapi, seperti biasanya, aku belum bisa tidur.
Mungkin, aku akan mulai tidur sekita 1 jam kemudian. Semoga saja. J
Oh
ya, hari ini hujan turun cukup lama. Bahkan, sekarang hujan juga masih saja
datang mengguyur, meski dengan bentuk yang tak begitu deras. Udara di luar sana
perlahan menerobos masuk lewat celah jendela kamarku. Dingin dan gigil.
Terkadang,
aku tak suka jika hujan terus turun. Kau pasti tahu alasannya. Yup. Selalu ada
ingatan yang dibawanya. Bahkan ketika aku berpura-pura tak peduli. Tetap saja
ingatan itu datang menyergap. Bagaimana dengan dirimu?
Hhmm...
kau tahu. Hari ini aku sangat ingin berbagi cerita dengan seseorang. Dan, saat
niat itu datang, kau tahu siapa yang muncul pertama kali di benakku? Dirimu.
Tapi, niat itu aku urungkan. Sebab, aku tak ingin mengganggu dirimu yang
mungkin sedang sibuk atau apapun itu. Dan, akhirnya aku memilih untuk
menjadikan laptop sebagai teman curhat terbaikku. Terdengar miris bukan? Hehehe...
Beberapa
minggu belakangan ini, aku sedang menyelesaikan novel yang sedang aku tulis.
Kau tahu, untuk novel kali ini, aku benar-benar harus bekerja keras. Bahkan
sampai mengurangi waktu tidurku. Ketika orang-orang sudah mulai terlelap di
belai mimpi, aku justru masih harus terjaga dan melanjutkan tulisanku. Sungguh,
itu sangat melelahkan. Tapi, begitulah. Kebanyakan para penulis ternama yang
aku kenal, menceritakan proses mereka dalam membuat novel. Mereka mengatakan
bahwa membuat novel bukan semudah menulis sebuah status. Diperlukan waktu,
tenaga serta kesabaran yang ekstra untuk menyelesaikannya. Dan aku percaya itu.
Kau
tahu dengan pasti kan bahwa aku sangat ingin menjadi seorang penulis. Bukan
sekedar penulis dalam blog atau akun sosial semata, tapi benar-benar penulis
profesional yang mampu melahirkan tulisan yang bernilai. Dan, aku tidak akan
berhenti hingga tujuan itu bisa kugapai. Apapun yang terjadi.
Aku
juga masih terus mengikuti beberapa event perlombaan menulis online yang ada.
Semua itu bukan semata-mata ingin mengincar hadiah atau reward yang diberikan.
Tapi, lebih kepada sebagai wadah bagiku untuk mengasah dan melatih kemampuan
menulisku. Jikalaupun menang, itu hanyalah bonus dari hasil usaha kita.
Bukankah begitu? J
Oh
ya, di dalam novel yang sedang aku rampungkan itu, ada sebuah rahasia kecil
yang kuselipkan. Sebuah rahasia sederhana mengenai perjalanan cinta seseorang,
yang hingga kini hanya dia dan Tuhan yang tahu. Jikalau Tuhan dan takdir
mengizinkan novel itu terbit, maka rahasia itu tak lagi hanya menjadi kisahnya,
tapi kaupun akan tahu rahasia itu. Tapi, jika tidak. Maka, itu akan tetap
menjadi rahasia kecilnya.
Aku
juga ingin bilang, bahwa aku sekarang mulai bisa menguatkan hatiku terhadap
sesuatu yang mungkin saja bisa mematahkannya. Apapun itu, termasuk mungkin
dirimu. Hahaha... jangan masukkan di hati ya...
Aku
belajar banyak dari apa yang sudah-sudah. Pada hal-hal di masa lalu yang
mungkin keliru dan tak seharusnya aku ikuti. Aku mengambil beberapa pelajaran
penting dalam menyikapi setiap hal yang aku temui.
Oh
ya, beberapa hari belakangan ini aku menemui sebuah masalah. Masalah yang
membuatku down dan kecewa. Hal itu membuat pikiranku tak lagi bisa fokus dan
menjadikan novel yang aku tulis mendadak mengalami jeda. Moodku seperti naik
turun. Aku masih belum bisa menemui jalan keluarnya. Sangat ingin aku membagi
keluhku pada seseorang. Tapi, tak ada yang bisa aku percaya. Kuharap, masalah
itu bisa segera terselesaikan.
Hhmm...
bagaimana dengan dirimu? Kau sedang melakukan apa sekarang? Aku tak pernah lagi
berani menanyakan kabarmu secara langsung. Jika mengingat dirimu, aku selalu
saja merasakan sesuatu di hatiku. Perasaan apa itu, aku tak pernah berani untuk
menerkanya, lagi. Sebab, aku takut akan
kecewa seperti dulu.
Bahkan,
ketika sebuah kalimat yang kau tulis dan kau kirimkan padaku di suatu
kesempatan, sebanyak 2 kali itu seakan membuatku semakin takut. Meski bernada
sangat serius, tapi terselip suatu ketakutan di dalamnya. Aku tak tahu mengapa.
Sejenak, ada senyuman yang tetiba saja merekah, tak hanya di wajah, tapi pula
di hati. Namun, secara bersamaan, sebuah ketakutan membelenggu. Ketakutan,
bahwa semua itu hanya sebuah harapan yang tak pernah nyata. Aku takut, kali ini
aku kembali hanya sekedar merasa GR. Seperti dulu.
Sejatinya,
urusan manusia di dunia memang semata-mata tak hanya sebatas urusan cinta.
Terlebih cinta kepada sesama manusia. Tapi, bagiku hal itu seperti menjadi
separuh dari kehidupan ini. Dan aku ingin memastikan itu. Seandainya aku bisa
menyampaikan ini secara langsung.
Kau
bertutur dalam pesan itu, bahwa kau menyimpan harapan terbesar pada diriku
untuk nantinya bisa mendampingimu. Kau pula berkata, bahwa dalam perjalanan
waktu ingin berusaha menjadi seseorang yang baik dan pantas bagi orang yang
baik pula. Dan aku bahagia mengetahui hal itu. Tapi, kenapa harus berkata
seperti itu pada diriku jika kau memang belum benar-benar bisa melupakan ‘seseorang’
dari masa lalu di hatimu.
Aku
tahu, kau masih menyimpan ‘seseorang’ di lubuk hatimu. Dan itu bukanlah aku. Iya
kan? Lantas kenapa kembali memupuk harap pada hatiku? Kau tak tahu betapa
lelahnya menjadi diriku. Betapa lelahnya mengendalikan hatiku ketika kita
melibat temu. Dan itu sebabnya aku selalu berusaha untuk mengurangi perjumpaan
denganmu.
Bahkan,
ketika aku benar-benar menaruh rasa percaya padamu, di saat yang sama aku
justru tahu bahwa kau sedang bersama dengan orang lain. Lantas? Apa aku harus
marah? Kecewa? Ingin melakukan itu, tapi aku tak memegang hak atas itu.
Seandainya kau tahu, bahwa aku begitu
tak suka mengetahui hal itu. Tapi, Tuhan selalu saja menuntunku untuk mengetahui segala hal tentang dirimu. Akupun
tak tahu mengapa.
Kau
pernah menyampaikan bahwa kau termasuk tipe laki-laki yang tak biasa sendiri.
Selalu saja butuh seseorang yang ada di sisimu. Apakah hal itu yang menjadi
alasannya? Aku sungguh takut mendengar hal itu. Dan, jika kau pula termasuk
seseorang yang susah move on, ini berarti kau belum bisa melupakan ‘seseorang’
itu. Dan, kini, aku sebenarnya berada dimana?? Hanya sebatas ungkapan pesan
kah? Aku tak tahu...
Terkadang
aku bingung pada diriku sendiri. Menjadi seseorang yang selalu memiliki
perasaan cemburu yang begitu besar ketika tahu bahwa kau sedang bersama
seseorang, seperti sebuah bumerang yang menyerang diriku sendiri. Padahal, kita
tak tak pernah terikat dalam ikatan apapun. Oh Tuhan, aku harus apa?? Kenapa
aku tampak begitu bodoh? Hehehe...
Aku
tak pernah memintamu untuk menjadi seseorang yang alim, dewasa dan hebat
seperti kebanyakan laki-laki idaman di luar sana. Tapi, aku hanya ingin
melihatmu menjadi pribadi yang ucapannya searah dengan perbuatannya. Itu saja.
Dan,
jika kau belum bisa melakukan itu. Mungkin akan lebih baik jika kau belajar
untuk menjaga rahasiamu agar tak sampai padaku. Jika memang kau sedang menjalin
hubungan dengan orang lain, maka jagalah agar aku tak tahu hal itu. Jangan
biarkan itu terdengar atau terlihat olehku. Hanya itu yang aku minta darimu.
Sebab, aku akan merasa kecewa. Kau bisakan melakukan itu??? JJ
Dalam Catatan Senja
24/01/2016
Hiks, sy terharu kak :'(
BalasHapusmakasih. berarti emosi yg ingin saya sampaikan benar2 sampe ke pembaca.
BalasHapus