Langsung ke konten utama

Catatan Senja #16


(Ingin) Bercerita Padamu

Ketika  menuliskan ini, aku benar-benar tidak tahu apa yang muncul di benakku. Kau selalu tahu dengan pasti kan, bahwa aku bukan seorang yang berani curhat dan menceritakan segala apa yang sedang aku rasa pun alami pada orang lain. Dan, jika sedang ingin melakukan itu, maka yang bisa aku perbuat hanyalah menumpahkannya pada sebuah tulisan seperti ini. Ya, rasanya aku akan merasa lega dan plong ketika mencurahkan semuanya, yang sejatinya ingin aku sampaikan pada seseorang. Termasuk kamu.

Seperti saat ini. Sekarang tepat pukul 23:54 di hari Jumat tanggal 22 Januari 2016, ketika aku mulai menuliskan kata demi kata dalam tulisan ini. Sudah mulai larut bukan? Mungkin, jika sekarang aku sedang berkirim pesan padamu, kau pasti sudah menyuruhku untuk segera tidur. Tapi, seperti biasanya, aku belum bisa tidur. Mungkin, aku akan mulai tidur sekita 1 jam kemudian. Semoga saja. J

Oh ya, hari ini hujan turun cukup lama. Bahkan, sekarang hujan juga masih saja datang mengguyur, meski dengan bentuk yang tak begitu deras. Udara di luar sana perlahan menerobos masuk lewat celah jendela kamarku. Dingin dan gigil.
Terkadang, aku tak suka jika hujan terus turun. Kau pasti tahu alasannya. Yup. Selalu ada ingatan yang dibawanya. Bahkan ketika aku berpura-pura tak peduli. Tetap saja ingatan itu datang menyergap. Bagaimana dengan dirimu?

Hhmm... kau tahu. Hari ini aku sangat ingin berbagi cerita dengan seseorang. Dan, saat niat itu datang, kau tahu siapa yang muncul pertama kali di benakku? Dirimu. Tapi, niat itu aku urungkan. Sebab, aku tak ingin mengganggu dirimu yang mungkin sedang sibuk atau apapun itu. Dan, akhirnya aku memilih untuk menjadikan laptop sebagai teman curhat terbaikku.  Terdengar miris bukan? Hehehe...

Beberapa minggu belakangan ini, aku sedang menyelesaikan novel yang sedang aku tulis. Kau tahu, untuk novel kali ini, aku benar-benar harus bekerja keras. Bahkan sampai mengurangi waktu tidurku. Ketika orang-orang sudah mulai terlelap di belai mimpi, aku justru masih harus terjaga dan melanjutkan tulisanku. Sungguh, itu sangat melelahkan. Tapi, begitulah. Kebanyakan para penulis ternama yang aku kenal, menceritakan proses mereka dalam membuat novel. Mereka mengatakan bahwa membuat novel bukan semudah menulis sebuah status. Diperlukan waktu, tenaga serta kesabaran yang ekstra untuk menyelesaikannya. Dan aku percaya itu.

Kau tahu dengan pasti kan bahwa aku sangat ingin menjadi seorang penulis. Bukan sekedar penulis dalam blog atau akun sosial semata, tapi benar-benar penulis profesional yang mampu melahirkan tulisan yang bernilai. Dan, aku tidak akan berhenti hingga tujuan itu bisa kugapai. Apapun yang terjadi.

Aku juga masih terus mengikuti beberapa event perlombaan menulis online yang ada. Semua itu bukan semata-mata ingin mengincar hadiah atau reward yang diberikan. Tapi, lebih kepada sebagai wadah bagiku untuk mengasah dan melatih kemampuan menulisku. Jikalaupun menang, itu hanyalah bonus dari hasil usaha kita. Bukankah begitu? J

Oh ya, di dalam novel yang sedang aku rampungkan itu, ada sebuah rahasia kecil yang kuselipkan. Sebuah rahasia sederhana mengenai perjalanan cinta seseorang, yang hingga kini hanya dia dan Tuhan yang tahu. Jikalau Tuhan dan takdir mengizinkan novel itu terbit, maka rahasia itu tak lagi hanya menjadi kisahnya, tapi kaupun akan tahu rahasia itu. Tapi, jika tidak. Maka, itu akan tetap menjadi rahasia kecilnya.

Aku juga ingin bilang, bahwa aku sekarang mulai bisa menguatkan hatiku terhadap sesuatu yang mungkin saja bisa mematahkannya. Apapun itu, termasuk mungkin dirimu. Hahaha... jangan masukkan di hati ya...
Aku belajar banyak dari apa yang sudah-sudah. Pada hal-hal di masa lalu yang mungkin keliru dan tak seharusnya aku ikuti. Aku mengambil beberapa pelajaran penting dalam menyikapi setiap hal yang aku temui.

Oh ya, beberapa hari belakangan ini aku menemui sebuah masalah. Masalah yang membuatku down dan kecewa. Hal itu membuat pikiranku tak lagi bisa fokus dan menjadikan novel yang aku tulis mendadak mengalami jeda. Moodku seperti naik turun. Aku masih belum bisa menemui jalan keluarnya. Sangat ingin aku membagi keluhku pada seseorang. Tapi, tak ada yang bisa aku percaya. Kuharap, masalah itu bisa segera terselesaikan.

Hhmm... bagaimana dengan dirimu? Kau sedang melakukan apa sekarang? Aku tak pernah lagi berani menanyakan kabarmu secara langsung. Jika mengingat dirimu, aku selalu saja merasakan sesuatu di hatiku. Perasaan apa itu, aku tak pernah berani untuk menerkanya, lagi. Sebab,  aku takut akan kecewa seperti dulu.

Bahkan, ketika sebuah kalimat yang kau tulis dan kau kirimkan padaku di suatu kesempatan, sebanyak 2 kali itu seakan membuatku semakin takut. Meski bernada sangat serius, tapi terselip suatu ketakutan di dalamnya. Aku tak tahu mengapa. Sejenak, ada senyuman yang tetiba saja merekah, tak hanya di wajah, tapi pula di hati. Namun, secara bersamaan, sebuah ketakutan membelenggu. Ketakutan, bahwa semua itu hanya sebuah harapan yang tak pernah nyata. Aku takut, kali ini aku kembali hanya sekedar merasa GR. Seperti dulu.

Sejatinya, urusan manusia di dunia memang semata-mata tak hanya sebatas urusan cinta. Terlebih cinta kepada sesama manusia. Tapi, bagiku hal itu seperti menjadi separuh dari kehidupan ini. Dan aku ingin memastikan itu. Seandainya aku bisa menyampaikan ini secara langsung.

Kau bertutur dalam pesan itu, bahwa kau menyimpan harapan terbesar pada diriku untuk nantinya bisa mendampingimu. Kau pula berkata, bahwa dalam perjalanan waktu ingin berusaha menjadi seseorang yang baik dan pantas bagi orang yang baik pula. Dan aku bahagia mengetahui hal itu. Tapi, kenapa harus berkata seperti itu pada diriku jika kau memang belum benar-benar bisa melupakan ‘seseorang’ dari masa lalu di hatimu.

Aku tahu, kau masih menyimpan ‘seseorang’ di lubuk hatimu. Dan itu bukanlah aku. Iya kan? Lantas kenapa kembali memupuk harap pada hatiku? Kau tak tahu betapa lelahnya menjadi diriku. Betapa lelahnya mengendalikan hatiku ketika kita melibat temu. Dan itu sebabnya aku selalu berusaha untuk mengurangi perjumpaan denganmu.

Bahkan, ketika aku benar-benar menaruh rasa percaya padamu, di saat yang sama aku justru tahu bahwa kau sedang bersama dengan orang lain. Lantas? Apa aku harus marah? Kecewa? Ingin melakukan itu, tapi aku tak memegang hak atas itu. Seandainya kau tahu,  bahwa aku begitu tak suka mengetahui hal itu. Tapi, Tuhan selalu saja menuntunku untuk  mengetahui segala hal tentang dirimu. Akupun tak tahu mengapa.

Kau pernah menyampaikan bahwa kau termasuk tipe laki-laki yang tak biasa sendiri. Selalu saja butuh seseorang yang ada di sisimu. Apakah hal itu yang menjadi alasannya? Aku sungguh takut mendengar hal itu. Dan, jika kau pula termasuk seseorang yang susah move on, ini berarti kau belum bisa melupakan ‘seseorang’ itu. Dan, kini, aku sebenarnya berada dimana?? Hanya sebatas ungkapan pesan kah? Aku tak tahu...

Terkadang aku bingung pada diriku sendiri. Menjadi seseorang yang selalu memiliki perasaan cemburu yang begitu besar ketika tahu bahwa kau sedang bersama seseorang, seperti sebuah bumerang yang menyerang diriku sendiri. Padahal, kita tak tak pernah terikat dalam ikatan apapun. Oh Tuhan, aku harus apa?? Kenapa aku tampak begitu bodoh? Hehehe...

Aku tak pernah memintamu untuk menjadi seseorang yang alim, dewasa dan hebat seperti kebanyakan laki-laki idaman di luar sana. Tapi, aku hanya ingin melihatmu menjadi pribadi yang ucapannya searah dengan perbuatannya. Itu saja.
Dan, jika kau belum bisa melakukan itu. Mungkin akan lebih baik jika kau belajar untuk menjaga rahasiamu agar tak sampai padaku. Jika memang kau sedang menjalin hubungan dengan orang lain, maka jagalah agar aku tak tahu hal itu. Jangan biarkan itu terdengar atau terlihat olehku. Hanya itu yang aku minta darimu. Sebab, aku akan merasa kecewa. Kau bisakan melakukan itu??? JJ

Dalam Catatan Senja

24/01/2016

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...