Langsung ke konten utama

Mau Bertanya Nggak Sesat di Jalan #AskBNI


Seharusnya Nanya Dulu...


Mau bertanya nggak sesat di jalan. Pernah dengar istilah ini? Atau mungkin sebaliknya. Malu bertanya sesat di jalan. Ya. Itu adalah ungkapan yang sering diutarakan atau disampaikan oleh guru kita di sekolahan. Barangsiapa yang malu bertanya maka otomatis dia akan kesulitan dalam menempuh sebuah proses. Tentu saja banyak hal yang menjadi representatif dari ungkapan ini.

Dan secara tidak langsung kita mengakui bahwa ungkapan tersebut benar adanya. Melalui sebuah proses pengakuan yang dikenal dengan istilah ‘pengalaman’.
Selain ungkapan ini terbukti benar. Ungkapan ini juga memiliki multi fungsi untuk beberapa aspek kehidupan. Seperti pada aspek pendidikan, yakni dalam hal belajar. Pada aspek sosial, yakni dalam hal menanyakan alamat agar tidak tersesat. Pun pada hal agama, yakni hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan terhadap  agama yang dianutnya.

Akupun mengakui kebenaran atas ungkapan itu. Ungkapan bahwa jika kita ‘mau bertanya maka nggak sesat di jalan’. Bahwasanya, ketika kita mendapatkan jalan buntu atas sebuah pertanyaan batin, maka hal yang harus kita lakukan adalah bertanya. Untuk apa? Agar kepastian jawaban itu ada. Entah jawabannya sesuai dengan yang kita harapkan atau tidak.

Hal itulah yang aku alami dan ingin aku bagikan dalam tulisan ini. Sebuah pengalaman yang menurutku cukup menarik dan bisa menjadi sebuah pelajaran bahwa bertanya adalah satu hal yang begitu penting dan tak boleh kita tinggalkan.

Adalah hari itu, di sebuah kafe kecil yang berada tak jauh dari tempat tinggalku. Aku yang hari itu merasa sangat lelah karena aktivitas kampus yang begitu padat akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan diri ketika tiba di rumah. Namun, karena merasa bosan hanya tidur-tiduran saja sambil nonton tv, aku terpikirkan oleh sebuah kafe yang biasa aku kunjungi di hari libur. Maka, jadilah aku berangkat seorang diri ke kafe tersebut.

Aku menatap layar ponsel yang sedari tadi berada di genggamanku. Menunjukkan pukul 4 sore. Masih bolehlah untuk sekedar bersantai sembari menghabiskan hari.

Sesampainya di kafe, tampak beberapa orang yang berjalan keluar masuk dari pintu kafe berwarna coklat dengan paduan gagang pintu berwarna kuning. Sebelum masuk ke kafe, aku juga mendapati 3 pasangan muda yang sedang duduk berdua dalam satu meja. Mereka terlihat asyik ngobrol dan sesekali menyeruput minumannya.

Dengan langkah santai, aku masuk ke dalam kafe dan memilih meja yang berada tepat di samping jendela sebelah kanan kafe. Itu adalah meja kesukaanku. Sebab, view-nya sangat bagus. Kita bisa melihat langsung ke arah luar kafe. Melihat jalanan yang ramai di lalui berbagai kendaraan.

Ice mocachino. Itu adalah minuman yang selalu aku pesan saat datang ke tempat ini. Dan, tak butuh waktu lama hingga akhirnya seorang pelayan datang membawa minuman yang aku pesan. Dengan segera aku menikmati kesegaran dan kenikmatan minuman tersebut. Hingga tiba-tiba aku menghentikan menikmati ice mocachino yang ada di hadapanku. Seorang wanita muda yang turun dari sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang cowok.

“Loh, itukan...” aku mengenal wanita itu. Resty. Dia adalah salah satu teman kampusku. Hanya saja, kami berbeda jurusan. Yang membuatku sedikit terkejut adalah kedatangannya yang ditemani oleh seorang laki-laki. Hal itu adalah sebuah keganjilan bagiku, sebab Resty termasuk tipikal wanita yang menjaga diri dari kedekatan dengan lawan jenis. Tapi, kenapa kali ini dia melakukan hal sebaliknya? Apakah laki-laki itu adalah pacarnya?

Perlahan, Resty bersama dengan laki-laki itu melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe. Aku berusaha menyembunyikan wajahku agar dia tak menyadari keberadaanku di kafe itu. Aku terus saja berpura-pura menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Sesekali aku melirik. Resty dan laki-laki itu duduk di meja yang berada tak jauh dari meja tempatku sekarang. Namun, tak membuat ia mengenalku.

Dari kejauhan, aku seperti seorang mata-mata yang berupaya untuk menajamkan indera pendengaranku guna mengetahui perihal yang mereka obrolkan. Sekilas, aku menangkap terdapat sentilan-sentilan romantisme pada obrolan mereka. Aku mulai bergidik. Resty tak seperti yang aku bayangkan.

Sangat ingin aku menghampiri, menyapa dan bertanya padanya saat itu juga. Mencari tahu siapa sebenarnya laki-laki yang bersamanya itu. Tapi, niat itu aku urungkan. Sebab, aku mulai curiga dan yakin bahwa itu adalah pacar Resty. Hingga mulai timbullah pikiran-pikiran negatif pun su’udzon tentangnya.

Pikiranku terus saja mengambil kesimpulan bahwa Resty sekarang sedang berdua dengan pacarnya. Hingga aku mendengar sebuah suara halus memanggil namaku.
“Rara...”
Aku menoleh. Kulihat Resty menatapku dengan wajah tersenyum. Disusul dengan wajah laki-laki itu yang juga melemparkan senyum ramahnya padaku. Ternyata, usahaku untuk menyembunyikan diri gagal. Aku hanya bisa memasang muka sedikit kikuk.

“Sendirian aja ya?” Resty melontarkan tanya.
“Iya Res. Ternyata dari tadi kamu duduk disitu ya. Kok aku nggak sadar ya?” aku pura-pura.
“Iya ya. Aku juga nggak ngeh kalo kamu yang dari tadi duduk disitu.”
Merasa bahwa aku bingung dengan sosok laki-laki yang berada di sampingnya, Resty segera berkata.
“Kenalin Ra. Ini suami aku. Wahyu.” Dengan ramah laki-laki bernama Wahyu itupun mengulurkan tangannya sebagai isyarat perkenalan. Akupun menyambutnya.
“Kamu sudah nikah? Kok aku nggak tahu ya Res?”
“Iya, aku memang nggak nikah di sini Ra. Aku nikah seminggu lalu di kampung halaman Wahyu di Toli-Toli. Mungkin itu yang membuat kamu, juga banyak teman yang nggak tahu atau belum dapat kabar bahwa aku udah nikah.”

Prakk.... seperti terkena sebuah tamparan keras di pipi kiriku. Ternyata, laki-laki itu adalah suami Resty. Seorang laki-laki yang memang sewajarnya berada di sisinya. Walah walah... aku sudah su’udzon pada teman sendiri. Ini akibat sedari tadi keukeuh tak ingin menyapa dan bertanya tentang laki-laki itu secara langsung. Tapi malah membuat persepsi sendiri.

Maaf ya Res. Lain kali nggak lagi deh. Memang benar. Bahwa kalau kita ‘mau bertanya nggak sesat di jalan.’ Ingat itu... JJJ

Komentar

  1. Salam kenal mbak Citra. Salam Kenal :) Cerita yang menarik Bila kita nggak menanyakan yang sebenarnya. Pikiran kita salah. Mohon berkunjung ke blog saya ya http://www.tubuhyangsehat.com/2016/02/mau-bertanya-nggak-sesat-di-jalan-askbni.html

    BalasHapus
  2. terima kasih komentarnya.. iya, salam kenal jg. pastinya.. :)

    BalasHapus
  3. bagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
    https://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/

    BalasHapus
  4. bagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
    https://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/

    BalasHapus
  5. bagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
    https://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/

    BalasHapus
  6. terima kasih atas komentarnya. salam kenal juga. sy sempatkan juga mampir di blog kamu.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas

KARENA CINTA ITU INDAH... Duduk di sebuah kafe bernama Rainbow , seorang wanita dengan dress putih selutut yang dikenakannya. Lengkap dengan hiasan kalung yang melingkar di lehernya. Menambah kesan anggun pada diri wanita itu. Sedari tadi, ia seakan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang sibuk memesan menu pada waitress yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada jendela yang berada tepat di samping kirinya. Ia sengaja memilih meja yang berada tepat di dekat jendela. Karena membuatnya akan lebih mudah memantau ke arah luar kafe dari balik kaca jendela. Hari itu hujan turun tak begitu deras. Hanya beberapa gerimis yang dijatuhkan langit ke tubuh bumi. Hingga membuat sebagian orang tak perlu menunda kesibukan mereka hari itu. Begitupun Keyla, nama wanita itu. Sudah hampir sejam ia duduk di dalam kafe. Dan sudah sejam yang lalu pula, capucino yang dipesannya tak juga disentuhnya. Yang ia lakukan hanya mengecek handphone sembari sesekali menengok ke arah jendela, yang juga ...

Sebuah Tulisan - Kamu Kekinian Nggak??

KEKINIAN  Apa yang akan kamu lakukan, supaya kamu bisa dibilang “ KEKINIAN ”? Kata ini seperti sudah menjadi fenomenal, bahkan telah mengalahkan jargon-jargon yang sempat ngetrend juga, seperti “Aku Mah Apa Atuh”, “Sakitya Tuh Disini”, atau “Aku Mah Gitu Orangnya.” Lantas bagaimana dengan keadaan, sentilan biar dibilang “ KEKINIAN ”? Kadang, kebanyakan orang harus melakukan ‘sesuatu’ agar dibilang KEKINIAN . Misalnya, kalau difoto tangannya saja, atau kakinya doang. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebuah tindakan agar kita bisa dibilang KEKINIAN . Setelah mencari dari berbagai sumber, dari Kamus Bahasa Indonesia yang online , arti kata, postingan di blog-blog yang banyak, kurang lebih artinya sama, ya mungkin inilah arti dari kata kekinian itu. Pengertian KEKINIAN  disini adalah keadaan kini atau sekarang, jadi bisa diartikan KEKINIAN itu adalah sesuatu hal yang lagi ngetren saat ini, atau yang sedang populer, sedang booming saat ini. Contohnya saja ...

Write Anything

8 Pertanyaan yang Sering Ditanyakan ke Penulis Jadi penulis itu memang kelihatan keren! Tapi kadang mereka juga pusing saat harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari orang di sekitarnya. Sekarang Spring mau berbagi sedikit curhatan dari kakak-kakak penulis kenalan Spring. Katanya jadi penulis itu gampang-gampang susah, dan banyak suka dukanya lho! Siap-siap buat yang pengin jadi penulis, karena penulis sering dapat pertanyaan kayak gini : 1.         Lagi nulis cerita apa? Pertanyaan ini sangat gampang dijawab kalau memang lagi siapin novel baru. Tapi kalau nggak... bingung. Dijawab, lagi nggak nulis apa-apa juga malu. Biasanya ngeles dengan, "Ada deh, novel baru, tapi masih rahasia!" Rahasia takdir maksudnya. Huehehe…. 1.         Cerita novel kamu tentang apa sih? Bisa sekalian promosi nih, mana tahu dia suka dan mau beli novel kita. Tapi kadang juga malah sedih kalau ada te...