Mau bertanya nggak sesat di jalan. Pernah dengar
istilah ini? Atau mungkin sebaliknya. Malu bertanya sesat di jalan. Ya. Itu adalah
ungkapan yang sering diutarakan atau disampaikan oleh guru kita di sekolahan. Barangsiapa
yang malu bertanya maka otomatis dia akan kesulitan dalam menempuh sebuah
proses. Tentu saja banyak hal yang menjadi representatif dari ungkapan ini.
Dan secara tidak langsung kita mengakui bahwa
ungkapan tersebut benar adanya. Melalui sebuah proses pengakuan yang dikenal
dengan istilah ‘pengalaman’.
Selain ungkapan ini terbukti benar. Ungkapan ini juga memiliki multi
fungsi untuk beberapa aspek kehidupan. Seperti pada aspek pendidikan, yakni
dalam hal belajar. Pada aspek sosial, yakni dalam hal menanyakan alamat agar
tidak tersesat. Pun pada hal agama, yakni hal-hal yang berkaitan dengan kepercayaan
terhadap agama yang dianutnya.
Akupun mengakui kebenaran atas ungkapan itu.
Ungkapan bahwa jika kita ‘mau bertanya maka nggak sesat di jalan’. Bahwasanya,
ketika kita mendapatkan jalan buntu atas sebuah pertanyaan batin, maka hal yang
harus kita lakukan adalah bertanya. Untuk apa? Agar kepastian jawaban itu ada. Entah
jawabannya sesuai dengan yang kita harapkan atau tidak.
Hal itulah yang aku alami dan ingin aku
bagikan dalam tulisan ini. Sebuah pengalaman yang menurutku cukup menarik dan
bisa menjadi sebuah pelajaran bahwa bertanya adalah satu hal yang begitu
penting dan tak boleh kita tinggalkan.
Adalah hari itu, di sebuah kafe kecil yang
berada tak jauh dari tempat tinggalku. Aku yang hari itu merasa sangat lelah
karena aktivitas kampus yang begitu padat akhirnya memutuskan untuk
mengistirahatkan diri ketika tiba di rumah. Namun, karena merasa bosan hanya
tidur-tiduran saja sambil nonton tv, aku terpikirkan oleh sebuah kafe yang
biasa aku kunjungi di hari libur. Maka, jadilah aku berangkat seorang diri ke
kafe tersebut.
Aku menatap layar ponsel yang sedari tadi
berada di genggamanku. Menunjukkan pukul 4 sore. Masih bolehlah untuk sekedar
bersantai sembari menghabiskan hari.
Sesampainya di kafe, tampak beberapa orang
yang berjalan keluar masuk dari pintu kafe berwarna coklat dengan paduan gagang
pintu berwarna kuning. Sebelum masuk ke kafe, aku juga mendapati 3 pasangan
muda yang sedang duduk berdua dalam satu meja. Mereka terlihat asyik ngobrol
dan sesekali menyeruput minumannya.
Dengan langkah santai, aku masuk ke dalam
kafe dan memilih meja yang berada tepat di samping jendela sebelah kanan kafe. Itu
adalah meja kesukaanku. Sebab, view-nya
sangat bagus. Kita bisa melihat langsung ke arah luar kafe. Melihat jalanan
yang ramai di lalui berbagai kendaraan.
Ice
mocachino.
Itu adalah minuman yang selalu aku pesan saat datang ke tempat ini. Dan, tak
butuh waktu lama hingga akhirnya seorang pelayan datang membawa minuman yang
aku pesan. Dengan segera aku menikmati kesegaran dan kenikmatan minuman
tersebut. Hingga tiba-tiba aku menghentikan menikmati ice mocachino yang ada di hadapanku. Seorang wanita muda yang turun
dari sebuah sepeda motor yang dikendarai oleh seorang cowok.
“Loh, itukan...” aku mengenal wanita itu. Resty.
Dia adalah salah satu teman kampusku. Hanya saja, kami berbeda jurusan. Yang membuatku
sedikit terkejut adalah kedatangannya yang ditemani oleh seorang laki-laki. Hal
itu adalah sebuah keganjilan bagiku, sebab Resty termasuk tipikal wanita yang
menjaga diri dari kedekatan dengan lawan jenis. Tapi, kenapa kali ini dia
melakukan hal sebaliknya? Apakah laki-laki itu adalah pacarnya?
Perlahan, Resty bersama dengan laki-laki itu
melangkahkan kaki masuk ke dalam kafe. Aku berusaha menyembunyikan wajahku agar
dia tak menyadari keberadaanku di kafe itu. Aku terus saja berpura-pura
menyibukkan diri dengan bermain ponsel. Sesekali aku melirik. Resty dan
laki-laki itu duduk di meja yang berada tak jauh dari meja tempatku sekarang. Namun,
tak membuat ia mengenalku.
Dari kejauhan, aku seperti seorang mata-mata
yang berupaya untuk menajamkan indera pendengaranku guna mengetahui perihal
yang mereka obrolkan. Sekilas, aku menangkap terdapat sentilan-sentilan
romantisme pada obrolan mereka. Aku mulai bergidik. Resty tak seperti yang aku
bayangkan.
Sangat ingin aku menghampiri, menyapa dan
bertanya padanya saat itu juga. Mencari tahu siapa sebenarnya laki-laki yang
bersamanya itu. Tapi, niat itu aku urungkan. Sebab, aku mulai curiga dan yakin
bahwa itu adalah pacar Resty. Hingga mulai timbullah pikiran-pikiran negatif pun
su’udzon tentangnya.
Pikiranku terus saja mengambil kesimpulan
bahwa Resty sekarang sedang berdua dengan pacarnya. Hingga aku mendengar sebuah
suara halus memanggil namaku.
“Rara...”
Aku menoleh. Kulihat Resty menatapku dengan
wajah tersenyum. Disusul dengan wajah laki-laki itu yang juga melemparkan
senyum ramahnya padaku. Ternyata, usahaku untuk menyembunyikan diri gagal. Aku hanya
bisa memasang muka sedikit kikuk.
“Sendirian aja ya?” Resty melontarkan tanya.
“Iya Res. Ternyata dari tadi kamu duduk disitu
ya. Kok aku nggak sadar ya?” aku pura-pura.
“Iya ya. Aku juga nggak ngeh kalo kamu yang
dari tadi duduk disitu.”
Merasa bahwa aku bingung dengan sosok
laki-laki yang berada di sampingnya, Resty segera berkata.
“Kenalin Ra. Ini suami aku. Wahyu.” Dengan ramah
laki-laki bernama Wahyu itupun mengulurkan tangannya sebagai isyarat
perkenalan. Akupun menyambutnya.
“Kamu sudah nikah? Kok aku nggak tahu ya Res?”
“Iya, aku memang nggak nikah di sini Ra. Aku nikah
seminggu lalu di kampung halaman Wahyu di Toli-Toli. Mungkin itu yang membuat
kamu, juga banyak teman yang nggak tahu atau belum dapat kabar bahwa aku udah nikah.”
Prakk.... seperti terkena sebuah tamparan
keras di pipi kiriku. Ternyata, laki-laki itu adalah suami Resty. Seorang laki-laki
yang memang sewajarnya berada di sisinya. Walah walah... aku sudah su’udzon
pada teman sendiri. Ini akibat sedari tadi keukeuh tak ingin menyapa dan
bertanya tentang laki-laki itu secara langsung. Tapi malah membuat persepsi
sendiri.
Maaf ya Res. Lain kali nggak lagi deh. Memang benar.
Bahwa kalau kita ‘mau bertanya nggak sesat di jalan.’ Ingat itu... JJJ

Salam kenal mbak Citra. Salam Kenal :) Cerita yang menarik Bila kita nggak menanyakan yang sebenarnya. Pikiran kita salah. Mohon berkunjung ke blog saya ya http://www.tubuhyangsehat.com/2016/02/mau-bertanya-nggak-sesat-di-jalan-askbni.html
BalasHapusterima kasih komentarnya.. iya, salam kenal jg. pastinya.. :)
BalasHapusbagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
BalasHapushttps://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/
bagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
BalasHapushttps://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/
bagus tulisannya dan blognya menarik . salam kenal
BalasHapushttps://tamanpikir.wordpress.com/2016/02/05/aku-bertanya-aku-tahu-aku-ada-dan-tidak-tersesat-sebuah-kisah-tentang-mau-bertanya/
terima kasih atas komentarnya. salam kenal juga. sy sempatkan juga mampir di blog kamu.
BalasHapus